Manusia sebagai Khalifah dalam Perfektif Akal
Mei 6, 2011 3 Komentar
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah; 30)
Pendahuluan
Manusia merupakan mahuk yang unik dimana berbeda dengan yang lain baik manusia satu dengan yang lain ataupun manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain. Keunikan tersebut dikarenakan manusia terlahir dan proses belajar berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam proses belajar dan lingkungannya tersebut memiliki sifat yang berbeda dalam menentukan sesuatu. Penentuan keputusan terhadap suatu permasalahan tidak dapat dilepaskan oleh lingkungan yang mempengaruhinya sehingga keputusannya sesuai dengan lingkungannya. Dari lingkungan yang beragam ini, menjadikan manusia memiliki sifat serta karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Al Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujuurat ; 13). Sebagaimana di ungkapkan dalam al Qur’an bahwa manususia berbangsa dan bersuku untuk memahami dan mengerti, dengan memahami dan mengerti tersebut diharapkan dapat menciptakan kerjasama yang baik dalam menciptakan yang baik. Usaha manusia dalam memahami dan empati tersebut menandakan bahwa setiap individu yang ada berbeda dengan yang lain sehingga menjadikan manusia sebagai mahluk yang unik.