Manusia sebagai Khalifah dalam Perfektif Akal

 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah      di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal  kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (QS. Al Baqarah; 30)

Pendahuluan

Manusia merupakan mahuk yang unik dimana berbeda dengan yang lain baik manusia satu dengan yang lain ataupun manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain. Keunikan tersebut dikarenakan manusia terlahir dan proses belajar berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam proses belajar dan lingkungannya tersebut memiliki sifat yang berbeda dalam menentukan sesuatu. Penentuan keputusan terhadap suatu permasalahan tidak dapat dilepaskan oleh lingkungan yang mempengaruhinya sehingga keputusannya sesuai dengan lingkungannya. Dari lingkungan yang beragam ini, menjadikan manusia memiliki sifat serta karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Al Qur’an;  Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujuurat ; 13). Sebagaimana di ungkapkan dalam al Qur’an bahwa manususia berbangsa dan bersuku untuk memahami dan mengerti, dengan memahami dan mengerti tersebut diharapkan dapat menciptakan kerjasama yang baik dalam menciptakan yang baik. Usaha manusia dalam memahami dan empati tersebut menandakan bahwa setiap individu yang ada berbeda dengan yang lain sehingga menjadikan manusia sebagai mahluk yang unik.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Pembangunan Sosial dalam Upaya Penanggulangan Kemiskinan (Studi Atas Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir)

  1. I.                   Pendahuluan

Mac Iver, pakar sosiologi politik bekata; “manusia adalah mahluk yang dijerat oleh jaring-jaring yang dirajutnya sendiri”, jaring-jaring tersebut adalah sebuah kebudayaan. Kebudayaan merupakan suatu yang diciptakan oleh masyarakat tetapi pada gilirannya merupakan suatu kekuatan yang mengatur bahkan memaksa manusia untuk melakukan tindakan dengan pola-pola tertentu. Kebudayaan bukan hanya dari luar manusia tetapi juga dari dalam kepribadian individu, sehingga kebudayaan dapat membentuk pola sikap pribadi individu dari dalam dan luar. Salah satu unsur yang penting dalam kebudayan adalah nilai-nilai merupakan suatu konsepsi baik-buruk, benar-salah dan indah-jelek. Sistem tersebut menumbuhkan norma, di mana norma merupakan pedoman dalam perilaku manusia dalam masyarakat. Kebudayaan merupakan unsur yang dasar dalam masyarakat, sehingga terkadang manusia bahkan ilmuwan dalam sosiologi atau antropologi mengemukakan bahwa kebudayaan yang membentuk perilaku manusia atau cultural determinism. (Paulus Wirutomo, 2010) Kebudayaan tersebut merupakan salah satu unsur yang dominan dalam menentukan kesejahteraan masyarakat, sehingga kebudayaan merupakan unsur yang dapat mencirikan suatu masyarakatnya sejahtera atau bukan. Sehingga kita dapat melihat kebudayaan merupakan suatu tanda dari pembangunan.    Baca tulisan ini lebih lanjut

Kapital Sosial dalam Pembangunan Masyarakat

Kapital Sosial dalam Pembangunan Masyarakat

a. Pendahuluan

Sesuatu menjadi tujuan bersama dalam kehidupan berkelompok, individu setiap manusia dalam suatu negara adalan tercapainya kesejahteraan. Kesejahteraan kebutuhan bersama yang cara penanganyapun secara bersama antara semua pihak. Pihak yang bertanggung jawab dalam mensejahteraakan raknya adalah pemerintah dikarenakan pemerintah yang memiliki kebijakan dalam mengelolah jalannya negara. Masyarakat dalam membantu pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sangat diperlukan dikarenakan merupaka suatu kerja yang dilakukan secara bersama agar kesejahteraan dapat tercapai. Program negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya tertuang dalam pembangunan.

Pembangunan merupakan suatu proses terencana dilakukan oleh golongan tertetu dengan tujuan tertentu seperti meningkankan kesejahteraan, menciptakan perdamaian. Ciri yang paling mendasar dalam pembangunan yakni direncanakan dan adanya campurtangan dari pihak tertentu. Kalau dalam negara pihak yang merancang konsep, melaksanakan, intervensi terhadap pembangunan yakni pemerintah dengan objek pembangunan masyarakat. Pembangunan nasional merupakan kegiatan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Program kerja pemerintah dalam pembangunan tertuang dalam UU yang sebagai aplikasi dari UUD 1945.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Merangkai Permasalahan dalam Intervensi Individu

Manusia merupakan mahluk yang unik, keunikan tersebut  membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lain dan sesama manusia.  Keunikan manusia dikarenakan kreasi manusia yang berbeda dalam menghadapi persoalan kehidupan demi eksistensinya. Hal tersebut, dapat kita lihat dari bentuk kebudayaan masyarakat yang berbeda dengan lainnya, misalkan kebudayaan masyarakat jawa barat dengan masyarakat jawa timur. Perbedaan ini, menjadikan masyarakat majemuk dan memiliki cara yang berbeda menyikapi realitas sosial. Keberagaman kebudayaan  merupakan salah satu yang melandasi keberagaman manusia dalam menghadapi persoalan kehidupannya. Keberagaman dalam dalam kebudayaan tersebut menjadikan individu yang satu dengan yang lain memiliki keunikan dan berbeda dengan yang lainnya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Marx, Weber dan Durkheim dalam Kesejahteraan Sosial

  1. a. Pendahuluan

Secara etimologi kata masyarakat dalam bahasa indonesia berasal dalam bahasa arab; syarikah, musyarakah, yang artinya saling besekutu, kelompok berhimpun dan bersama. Kata syarikah tersimpul unsur pengertian yang berhubungan dengan pembentukan suatu kelompok, golongan atau perkumpulan. (Sidi Gazalba, 1976; 1). Masyarakat merupakan suatu perkumpulan manusia yang berkesadaran dalam mempertahankan eksistensinya di dalam lingkungan. Dalam  rangka mempertahankan eksistensi  manusia dengan kemampuannya mengelola dan mengembangkan alam. Manusia sebagai mahluk sosial, karena ia memerlukan orang lain dalam berhubungan ataupun menjalankan aktivitasnya.  Manusia sebagai mahluk sosial tersebut maka memerlukan sebuah organisasi kemasyarakatan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup bersama. Oleh karena itu, masyarakat bukan hanya sekumpulan individu saling bersatu dan berkelompok tetapi mendiami tempat atau wilayah tertentu dengan sistem nilai dan pandangan hidup, dan kebudayaan yang dimilikinya. (Sudibyo Markus, 2009; 11)

Masyarakat dalam melakukan kerjasama dengan yang lain maka memerlukan sebuah struktur dalam menjalankan kegiatannya, struktur tersebut adalah organisasi kemasyarakatan. Organisasi kemasyarakatan tersebut merupakan suatu kesatuan kolektif individu yang berfungsi mempertahankan eksistensi, bekerjasama  dan menjaga solideritas antar anggotanya. Solideritas tersebut terbentuk dikarenakan adanya rasa dan keinginan yang sama untuk tetap hidup dalam suatu lingkungan.  Organisasi yang berjalan maka memiliki pemipimpin dalam rangka menjalankan kebijakan organisasi tersebut. Pemimpin biasanya dipilih berdasarkan dari salah satu anggota mereka yang menjol, dari segi tindakan maupun bentuk tubuhnya. (Ibn Khaldun, 2001; 74). Kepemimpinan ini akan dapat menentukan bagaimana masyarakat ketika berinteraksi dengan kelompok yang lain. Sikap kepemimpinan ini dapat juga menjadi tolak ukur penilaian masyarakat atas suatu kelompok sosial yang lain.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Respon Islam Terhadap Globalisasi

A. Pendahuluan.

Kemampuan bangsa barat dalam pemngembangan potensi diri setelah berkenalan dengan buku-buku dari bangsa timur tengah. Pengenalan tersebut memberikan dampak yang sangat besar, dan menjadkan bangsa barat memasuki zaman pencerahan.  Abad pencerahan ini memberikan peran yang istimewa dari manusia senagai mahluk otonom yang bertanggung jawab dalam menentukan nasibnya sendiri. Peran yang aktif dari manusia ini maka manusia mulai bersentuhan dengan realitas sehingga dapat ditemukannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan iptek tersebut menjadi ilham dalam mencari bahan baku industri dan tempat pemasaran hasil industri. Pemasaran dan pencarian bahan baku industri tersebut menjadikan bangsa barat melakukan penjajahan terhadap bangsa timur. Dampak yang paing tersara hingga saat sekarang adalah sifat yang tercela seperti potong kompas dan rendah diri.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Menguak Pemikiran Hasan Hanafi

“Tiada yang abadi dalam penafsiran kehendak Tuhan

sedangkan yang abadi adalah kebenaran yang tercecer di bumi Tuhan”.

Pendahuluan

Hasan Hanafi bukanlah nama yang asing di telingan akademis masyarakat Indonesia, terutama yang genar membaca karya tentang kebangkitan Islam. Dalam pemikirannya ia dapat disejajarkan dengan tokoh pemikir Islam yang lain seperti Fazlur Rahaman, Mohammad Arkoun, Ali Syariati, M. Sahrur, Ismail Raji Al Faruqi, Sayyed Hossein Nasr, Salman Rushdie, Ali Asghar E. dan lain-lain. Hasan Hanafi merupakan tokoh yang berbeda dengan pemikiran Islam yang lain pemikirannya lebih mengedepankan al turats wa tajdid (tradisi dan pembaharuan). Dalam golongan intelektual Hasan Hanafi dikategorikan sebagai sosok intelektual yang bersifat kritis. Dalam kebangkitan Islam bagi Hasan Hanafi adalah kebangkitan rasionalisme dan menghidupkan kembali khasanah klasik, melakukan wacana perlawanan terhadap kebudayaan barat dan menganalisis realitis dunia Islam. Hasan Hanafi dalam forum internasional juga dikenal dengan “Kiri Islam”.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Menuju Masyarakat Multikultural

Manusia hidup dalam reliatas yang plural, hal yang sama juga pada masyarakat Indonesia yang majemuk (plural society). Corak masyarakat Indonesia adalah ber-Bhenika Tungal Ika, bukan lagi keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya, melainkan keanekaragaman kebudayaan yang berada dalam masyarakat Indonesia. Dalam masyarakat majemuk, seperti Indonesia dilihat memiliki suatu kebudayaan yang berlaku secara umum dalam masyarakat.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Budaya dan Etika Politik yang Berwawasan Kebangsaan

Bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang bersifat multicultural, dimana dapat dilihat keberagaman yang terjadi di wilayah kita. Majemuk  biasanya melahirkan dua peluang yakni sebagai sarana konflik dan keindahan dalam perbedaan. Kita juga dapat melihat, konflik yang terjadi diberbagai daerah merupakan suatu bentuk kurang bisa memahami suatu kebudayaan pada suatu tempat. Hal ini dikarenakan sikap dari pendatang kurang dapat menginternalisasi nilai-nilai yang selama ini berjalan dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut, lahir dari kebiasaan dan norma yang berjalan dalam masyarakat. Baca tulisan ini lebih lanjut

Apakah Filsafat Itu; (Sebuah Pengantar Kealam Filsafat)

Kenalilah dirimu sendiri, maka kamu akan mengenali Tuhan (perkataan orang bijak)

Pendahuluan

Ketika mendengar istilah filsafat maka yang terbayangkan dalam benak pikiran adalah ibarat “moster” yang seram dimana kita akan kesulitan dalam mengerti, memahami, filsafat itu sendiri. Filsafat dari sini melahirkan mitos-mitos dalam seputarnya, seperti kita jangan terlalu serius dalam belajar filsafat. Bila orang tidak kuat, jangan-jangan otak kita akan menjadi gila. Jika kita mau melihat sebenarnya filsafat merupakan lahir dari kehidupan sehar-hari dan kita melaluinya. Mitos tentang filsafat tersebut tersebar di orang awam. Tetapi, sebagaian agamawan pun, mengatakan agamawan dikarenakan orang agamawan dalam pemikirannya cenderung menerima kebenaran secara multak. Tetapi itu akan berlainan jika kita melihat dari pemikiran kaum filosof ia menerima kebenaran yang bersifat tidak mutlak, dikarenakan pola pemikirannya yang bersifat induktif. Filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan, dikarenakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari esensinya. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.