Pancasila Sebagai Objektivikasi Agama

Sekilas Pancasila

Para pendiri bangsa telah meletakkan dasar-dasar tegaknya sebuah negara-bangsa yang bernama Indonesia. Para pendiri bangsa merumuskan dengan serius konsep ideologi negara. Hal tersebut, terlihat dari dinamika perdebatan di antara mereka dalam merumuskan landasan ideologi sesuai dengan latar belakang yang beragam dari keilmuan, agama dan budaya disertai rasa saling menghargai serta menghormati. Perdebatan berjalan dengan sengit, keragaman pendapat dan gagasan yang ada kemudian bertemu pada komitmen bersama untuk membangun sebuah negara yang berdaulat, dengan melahirkan ideologi yang mampu meramu dan menampung semua elemen komponen bangsa, yaitu Pancasila. Titik temu ini,  mengandaikan bahwa seluruh nilai-nilai dan falsafah hidup seluruh elemen bangsa ini, baik yang bersumber dari keimanan dan keagamaan yang beragam, maupun nilai-nilai budaya dirangkum sedemikian rupa dalam rumusan Pancasila. (Samsul Hidayat, 2011)

Pancasila lahir sebagai produk kebudayaan Indonesia dan konsensus bangsa, bukan penarikan atau sublimasi dari negara lain. Istilah “Pancasila” pertama kali dapat ditemukan dalam buku “Sutasoma” karya Mpu Tantular yang ditulis pada zaman Majapahit (abad ke-14). Dalam buku itu istilah Pancasila diartikan sebagai perintah kesusilaan yang jumlahnya lima (Pancasila karma) dan berisi lima larangan untuk : melakukan kekerasan, mencuri, berjiwa dengki, berbohong dan mabuk. Pancarsila berasal dari dua kata dari Sanskerta : pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. (dalam, http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com). Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia dalam mencapai cita-cita bangsa yang berdaulat dan merdeka.

Objektivikasi Agama sebagai Ideologi Terbuka

Pancasila jika dilihat dari nilai-nilai dasarnya, dapat dikatakan sebagai ideologi terbuka. Dalam ideologi terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang mendasar, bersifat tetap dan tidak berubah. Artinya, ideologi Pancasila dapat mengikuti perkembangan yang terjadi pada negara lain yang memiliki ideologi yang berbeda dengan Pancasila dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat. Ciri khas ideologi terbuka ialah bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar, melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral, budaya masyarakatnya sendiri, serta dapat berinteraksi dengan perkembangan zaman. (dalam, http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com).  

Namun, dari ideology tersebut ada kelompok menginginkan  bahwa bentuk negara yang menjadikan paham di luar Islam, katakanlah Pancasila, sebagai dasarnya dianggap sebagai negara sekuler yang menyimpang dari ajaran Tuhan. Padahal, Agama dan Pancasila tidaklah usah dipertentangkan karena keduanya memang tidak bertentangan bahkan agama menjiwai nilai-nilai Pancasila. Sebaliknya, Pancasila sejatinya merupakan objektivikasi dari agama itu sendiri. Hal tersebut, dikemukakan sejarawan Kuntowijoyo (1996), objektivikasi adalah perbuatan rasional-nilai yang diwujudkan ke dalam perbuatan rasional sehingga orang luar pun dapat menikmati hasil dari perbuatan itu, tanpa harus menyetujui nilai-nilai asal. Maksudnya, semua agama menamkan nilai yang luhur dan mengandung nilai-nilai universal. Akan tetapi, apabila nilai-nilai universal itu terbungkus dengan satu nama agama terlembaga (institutionalized religion) tertentu, orang dari luar agama tersebut tentu akan rikuh atau berpikir dua kali untuk menerimanya.  Persaudaraan dan kesatuan  ini adalah sebuah nilai universal yang pasti diterima oleh siapa pun. Hanya saja, apabila dibungkus dengan kata ukhuwah, nilai tersebut seakan eksklusif milik agama tertentu semata. Maka itu, konsep ukhuwah perlu mengalami objektivikasi menjadi, misalnya, konsep kesetiakawanan nasional atau kebangsaan yang mewujud dalam perbuatan konkret, seperti program perbaikan ekonomi atau pemerataan kesejahteraan bagi seluruh warga negara. Dengan objektivikasi yang demikian, warga negara dapat mengatasi hambatan psikologisnya untuk menerima konsep ukhuwah tersebut. Hal yang sama  dengan Pancasila merupakan objektivikasi dari agama yang ada di Indonesia, sehingga dapat diterima oleh semua sebagai dasar negara.

Dinamika Pancasila dan Tawarannya

Namun akhir-akhir ini, gangguan dan ancaman terhadap ideologi Pancasila semakin kuat, terlebih pada era gelobalisasi di mana percaturan dan pergumulan bahkan benturan berbagai pemikiran dan ideologi dunia begitu keras. Hal ini ditandai semakin melemahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila pada generasi penerus bangsa, karena semakin banyaknya anak bangsa yang kian tertarik kepada ideologi-ideologi dan budaya lain yang memang gencar memasarkan dan menjajakan kepada siapa pun melalui metode dan media yang sangat menarik. Bahkan, kondisi ini juga melanda para pemimpin bangsa yang mestinya telah memahami sejarah dan dinamika perjuangan bangsa dan menjiwai-menghayati nilai-nilai ideologi Pancasila. Saat ini ancaman terbesar Pancasila, tetapi hampir tidak kentara dan tidak terasa karena sangat halus sekali serangannya adalah kecenderungan dan gerakan sekularisasi Pancasila, yang ingin memisahkan bahkan mensterilkan Pancasila dari nilai-nilai Agama. (Samsul Hidayat, 2011) Selain itu, juga pengamalan yang kurang sesuai dengan nilai-nilai pacasila seperti pelaksanaan demokrasi berjalan liberal, ekonomi yang seyogyanya ekonomi kekeluargaan dijalankan ekonomi liberal, dan jiwa pancasila mulai pudar dikarenakan munculnya kekerasan dan konflik sosial dalam masyarakat. 

Pancasila merupakan nilai-nilai ajaran agama, dikarenakan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, keadaban, persatuan, kepemimpinan, kebijaksanaan, permusyawaratan, keadilan sosial adalah nilai-nilai otentik dari ajaran agama. Ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang dimiliki oleh setiap rakyat baik yang menjadi rakyat biasa maupun rakyat yang sedang mendapatkan amanah sebagai pemimpin dan pejabat negara akan memperkokoh tegaknya nilai-nilai Pancasila sekaligus memperkokoh ketahanan nasional. (Samsul Hidayat, 2008)Hal tersebut dikarenakan dalam pancasila merupakan pendidikan karekater dengan olah hati, rasa/karsa, raga dan pikiran, yang semuanya di dasari dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketuhanan merupakan ruh/jiwa dari sila-sila dalam pancasila, sehingga mampu diterapkan agar mencapai cita-cita bangsa. Sebagaimana ungkapan Soekarno (1961) bahwa bangsa Indonesia dibangun berdasarkan gotong royong yang merupakan jiwa Pancasila dan merupakan kultur yang mendarah daging rakyat Indonesia dalam bingkai Ketuhanan. Hal ini dikarenakan dengan gotong-royong permasalahan dihadapi bersama untuk kepentingan bersama bukan pribadi ataupun golongan.

 

Daftar Bacaan

Samsul Hidayat, 2011, Hubungan Pancasila dengan Nilai Islam, dalam Majalah Tabligh edisi Rajab – Syaban 1433 H

Kuntowijoyo, 1996, Identitas Plolitik Umat Islam, Bandung: Mizan

Soekarno, 1961, Penetapan Tujuh Bahan-Bahan Pokok Doktrinasi, Bandung: Penerbit Dua

Pancasila Sejarah, dan Rumusan Teks Ideologi dalam (dalam, http://sistempemerintahan-indonesia.blogspot.com). diakses, Rabu, 14 Mei 2014. 

Perihal Muhammad Abdul Halim Sani
Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMP Muhammadiyah 1 Kota Depok Jawa Barat dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Email; sani_cilacap@yahoo.com. Terimakasih atas masukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: