Diaspora; Praksis Gerakan Ikatan. (Sebuah Tawaran Aksiologis)

Kenalilah diri mu sendiri

maka kamu akan mengetahui

cara menyikapi realitas dengan bijak.(Penulis)

Diskusi tentang gerakan ikatan ke depan memang asyik, ditambah lagi dengan kondisi ikatan yang sekarang ”mati suri” dalam gerakanya. Gerakan ikatan yang ”mati suri” dikarenakan dua hal; yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan kondisi dalam diri ikatan yang memang sedang ”sakit”. Hal ini, terlihat dari pola fikir/paradigma para kader yang berada dalam ikatan yang lebih pragmatis dan berfikir jangka pendek. Sedangkan untuk faktor eksternalnya kondisi realitas ikatan yang sedang mengalami fase perubahan dan ketidak pastian dalam segala sesuatu; misalkan hukum, politik, budaya, dan sosial keagaman.

Ontologi Ikatan

Sebelum membahas tentang tri identitas (doktrin) ikatan, ada pengetahuan juga yang penting untuk mengetahui siapakah ikatan itu?. Disini, ada fakta sosial yang berada dalam diri ikatan yang tidak dapat dielakan dan ditinggalkan oleh ikatan. Fakta sosial yang ada dalam ikatan adalah (a) Ikatan sebagai organisasi kader dan (b) ikatan sebagai organisasi pergerakan. Ikatan sebagai organisasi kader. Ikatan sebagai organisasi kader ini merupakan suatu keniscayaan dikarenakan ikatan masih menginduk pada Muhammadiyah dan sebagai ortom dibawah Muhammadiyah. Ortom tersebut tidak dapat dielakan, dikarenakan dalam namanya,  ikatan mengikutkan Muhammadiyah, dengan mengikutkan kata Muhammadiyah ini, ikatan dalam gerakannya memiliki konsekuensi sendiri. Ikatan sebagai organisasi kader maka apa yang dilakukan oleh ikatan adalah sesuai dengan Muhammadiyah, sebagai pendinamis dan pengkontrol Muhammadiyah. Ikatan sebagai organisasi pergerakan. Ikatan sebagai organisasi pergerakan, hal ini yang dapat menyemakan ikatan dengan pergerakan yang lain seperti HMI, KAMMI, dan organiasi pergerakan mahasiswa yang lain. Organisasi pergerakan ini, merupakan basis massa real anggota ikatan yakni mahasiswa. Organisasi pergerakan, menjadikan ikatan bersentuhan dengan struktur negara. Ikatan bersentuhan dengan struktur kenegaraan menjadikan posisi apa yang dilakukan oleh ikatan. Posisi atau pilihan yang dilakukan oleh ikatan ini penting guna mewujudkan cita-cita ikatan. Persentuhan ikatan dengan struktur negara ini, yang menjadikan kader ikatan memiliki kencendrungan krangka fikir yang ’pragmatis dan praktis’ dalam menjalankan kebijakan organisasi Ikatan. Kerangka pikir tersebut yang menjadikan permasalahan ikatan hanya sebagai kehilangan ruh gerakannya dalam melakukan pemihakan terhadap persolan-persoalan kemanusiaan yang melanda dunia berkembang dan berbagai bangsa. Sekarang yang menjadi permasalahan kita bersama, sebagai kader ikatan adalah bagaimana cara mengembalikan ruh gerakan ikatan.

Epistemologi Ikatan

Ruh gerakan merupakan suatu Epistem dari apa yang dilakukan oleh ikatan. Ruh gerakan ikatan merupakan suatu potensi yang harus dikembangkan menjadi eksistensi ikatan guna mewujudkan apa yang dicitakan oleh Ikatan. Ruh gerakan ikatan dapat kita lihat dari tri identitas (doktrin) yakni; (1) tujuan ikatan, (2)  tri kopetensi kader dan (3) semboyan ikatan. Tafsiran terhadap ketiga identitas ini cukup untuk mengetahui siapa ikatan dan apa yang dilakukan oleh ikatan sehingga ikatan sesuai dengan jati dirinya. Pengungkapan jati diri ikatan ini penting, dikarenakan banyaknya kader ikatan dalam geraknya ’kurang sesuai’ dengan apa yang telah dicita-citakan oleh ikatan.

Tujuan Ikatan. Jika dilihat dalam undang-undang ikatan yakni AD dan ART Ikatan, tujuan ikatan yakni terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia guna mencapai cita-cita Muhammadiyah. Melihat dari tujuan ikatan kita dapat meraba apa yang sebenarnya yang dicita-citakan oleh ikatan. Disini menggambarkan bahwa ikatan memiliki tujuan yang sinergis dengan muhammadiyah, maka apa yang dilakukan oleh ikatan guna mencapai apa yang telah dicita-citakan oleh Muhammadiyah. Sebelumnya ada syarat guna mencapai apa yang dicita-citakan bersama tadi, yaitu harus melihat kata sebelumnya. Kata tersebut menjadi penting, dikarenakan melihat oreintasi ikatan didirikan dan mau dibawa kemana. Kata terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia merupakan suatu gambaran seorang kader ikatan dalam mengaktualisasikan dirinya pada masyarakat atau yang lain. Kader disini memiliki pola fikir atau krangka ananalisis yang rasional, ilmiah, memiliki keshalehan sosial dan individual. Kata akademisi Islam yang berakhlak mulia merupakan suatu kata yang integral tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain dikarenakan kalau dipaksa dipisahkan akan menghasilkan makna yang berbeda sehingga menjadi kabur dan kurang jelas.

Tri Kompetensi Kader. Tri Kompetensi kader merupakan terjemahan dari trilogi ikatan, dan trilogi tersebut juga merupakan suatu rangkuman dari deklarasi kota barat. Untuk lebih jelasnya kita lihat isi deklarasi kota barat.

DEKLARASI SOLO

  1. IMM, adalah gerakan mahasiswa Islam;
  2. Kepribadian Muhammadiyah, adalah landasan perjuangan IMM;
  3. Fungsi IMM, adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (stabilisator dan dinamisator);
  4. Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM;
  5. IMM, adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku;
  6. Amal IMM, dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.

KOTA BARAT-SOLO, 5 MEI 1965
MUSYAWARAH NASIONAL (MUKTAMAR)

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH.

Dari deklarasi kota barat ini paling tidak adanya pesan yang ingin disampaikan guna memberikan warna yang baik pada ikatan. Dokumentasi ikatan dalam deklarasi ini, ikatan sudah merumuskan falsafah pergerakannya yang di kenal dengan ”the theology of hope” . Menurut theology ini, tugas yang dilakukan oleh ikatan adalah kerja-kerja kemanusiaan dan melaksanakan keadilan guna menciptakan masyarakat yang diidealkan oleh ikatan. Pada bidang politik ikatan juga sudah dapat merumuskan bagaimana hubungannya dengan partai dan kekuasaan.

Ikatan untuk mewujudkan eksistensinya, maka deklarasi kota barat merupakan hal dalam gerakan yang dilakukan oleh ikatan yakni kemanusian dan keadilan. Maka tugas yang dilakukan dalam  tiga ranah yakni kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Ketiga bidang ini, kemudian diinternalisasikan pada kader dengan trilogi ikatan. Trilogi merupakan garapan/tugas ikatan terhadap bidang itu, dan tidak boleh memilih salah satu guna mewujudkan identitas ikatan yang berbeda dengan yang lain. Deklarasi kota barat juga mencirikan bahwa gerakan yang dilakukan oleh ikatan merupakan gerakan Islam dikarenakan berdasarkan nilai-nilai agama dalam praksis kemanusiaan.

Trilogi ikatan merupakan pengejawantahan nilai-nilai ikatan guna ditransformasikan pada masyarakat dalam paradigma ikatan. Terbentuknya trilogi ini sudah mengalami refleksi yang panjang dan lama sehingga dikenal sampai sekarang. Trilogi ikatan yang kita kenal merupakan suatu bentuk atau lahan perjuangan ikatan dalam segala ranah. Tetapi ada persoalan yang penting dalam trilogi ikatan selain menjadi ruang gerak ikatan dalam melakukan perubahan yakni menjadi paradigma gerakan. Trilogi merupakan doktrin yang sudah terinternalisasi untuk itu, agar menjadi paradigma gerakan paling tidak kita melakukan penafsiran yang kontektual terhadap trilogi agar dapat menjawab persolan global ini.

Tafsiran terhadap trilogi ikatan yang dikenal oleh teman-teman kader ikatan dengan sebagai trikompetensi ikatan. Tafsiran terhadap trilogi ikatan sebagai berikut;

¨      Kemahasiswaan menjadi Intelektualitas

¨      Keagamaan menjadi Religiusitas, Transendensi

¨      Kemasyarkatan menjadi Humanisasi, Liberasi

Kemahasiswaan. Mahasiswa merupakan massa yang real dalam ikatan dan merupakan jati diri ikatan sebagai organisasi pergerakan dalam mengontrol jalannya pemerintahan agar kebijakannya populis. Mahasiswa juga merupakan pelajar yang terdidik dalam dunia akademisi, sebagaimana dalam dunia akademisi apa yang dilakukan rasional dan ilmiah dalam menyikapi suatu realitas sosial. Kita juga dapat melihat dari Deklarasi Kota Barat dapat mengembil apa yang dilakukan yang salah satu pointnya ilmu ilmiah dan amal ilmiah apa  yang dilakukan oleh ikatan. Dengan semangat kota barat ini apa yang dilakukan oleh ikatan merupakan selaras dengan dunia kemahasiswaan oleh karena itu, kemahasiswaan dapat ditafsirkan dengan intelektualitas. Intektualitas yang dimiliki oleh ikatan bukan hanya intelektual saja, tetapi intelektual yang bersendikan pada nilai-nilai ikatan. Sifat intelektual ikatan yang jelas berbeda dengan intelektual organik miliknya Antonio Gramsi yang dipopulerkan oleh Mansour Fakih atapun intektual tradisonal.

Keagamaan. Keagamaan merupakan hal yang terpenting dalam ikatan dikarenakan ikatan sebagai organisasi otonom dari Muhammadiyah yang mengupayakan terbentuknya Islam yang bermanfaat bagi manusia dan alam. Keagamaan yang dimiliki oleh ikatan merupakan ruh gerakan dan sumber inspirasi dalam gerakan sosial serta tujuan dari gerakan sosial yang dilakukan oleh ikatan. Keagamaan memiliki fungsi dalam ikatan sebagai arahan, cara dan penguatan gerakan dalam melakukan transformasi sosial. Keagamaan dalam perfektif ikatan dapat membentuk gerakan yang religius dalam beragama dan pemikiran yang transenden. Pemikiran dan gerakan transenden merupakan pemikiran dan gerakan yang dapat melampaui masanya sebagaimana yang terjadi pada era Muhammad saw (Kontowijoyo, Strukturalisme Trasendental). Gerakan yang religius dan transenden ini meruapakan ineraksi dengan nilai-nilai agama dalam praksis kemanusiaan serta alam. Keagamaan dalam ikatan menjadi ruh dalam kemasyarakatan dan kemahasiswaan, keagamaan dalam ikatan juga bersifat yang liberasi, humanisasi dan juga mencerdaskan.

Kemasyarakatan. Masyarakat merupakan suatu kumpulan person membentuk kelompok  sosial yang beragam dalam suatu komunitas bersifat dinamis dan bergerak. Gerakan yang dilakukan oleh masyarakat sangatlah terpengaruh pada lingkungan sekitar atau sebagaian besar dari warganya, misalkan pada masyarakat petani maka dalam geraknya sesuai mekanisme alam yang tergantung pada musim. Masyarakat yang selama ini merupakan suatu subjek perubahan tetapi kurang dilibatkan dalam mengambil keputusan yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan. Masyarakat disisni ditempatkan pada objek perubahan bukan subjek perubahan. Oleh karena itu, kemasyarakatan dalam ikatan menjadikan masyarakat sebagai pelaksana transformasi sosialnya. Kemasyarakatan sebagai person sebelum melakukan perubahan maka di perlukan adanya humanisasi dalam dirinya. Setelah menjadi kesadaran kolektif maka yang diperlukan adanya proses liberasi dalam segala macam ketertindasan. Ketertindasan yang terjadi dalam masyarakat seperti ketidakadilan dalam ranah hukum, gender, ekonomi, politik, alam dan yang lain.

Hal yang paling urgent dalam trilogi ini adalah merupakan suatu kesatuan integralitas yang harus dilaksanakan dan dimiliki oleh ikatan guna menciptakan transformasi yang dicita-citakan bersama. Trikompetensi ini harus tertanam dalam diri kader sehingga dapat menjadi paradigama serta gerakan yang diinginkan oleh ikatan. Sedangkan triloginya, merupakan lahan (garapan) ikatan dalam tiga tempat yakni dalam dunia kemasiswaan, kegamaan dan kemasyarakatan.

Semboyan Ikatan. Jargon dalam ikatan yang terkenal menjadi semboyan merupakan suatu simbol yang penting dalam penginternalisasian nilai-nilai ikatan. Simbol memiliki peranan yang penting dikarenakan dapat mengenali ikatan dengan yang lain. Simbol juga memberikan semangat dan ruh gerakan disaat sudah mulai lelah dalam melakukan transformasi. Melihat pentingnya semboyan yang menjadi simbol ikatan alangkah baiknya kita lihat semboyan yakni ”Unggul dalam Moral dan Unggul dalam Intelektual”. Semboyan tersebut cukup baik dan bagus tetapi jika mau dilihat lagi secara mendalam maka ada semacam kekurang sesuaian. Kekurang sesuaian ini dikarenakan secara logika dan dalam segi filsafat ilmu terbalik penyusunannya. Oleh karna itu, semboyan dalam ikatan perlu direkontruksi menjadi ”Unggul dalam Intelektual, Anggun dalam Moral dan Radikal dalam Gerakan”. Pembenahan terhadap semboyan ini merupakan sesuatu yang penting dalam rangka menata krangka berfikir yang digunakan ikatan agar secara sistematis mudah dicerna oleh kader ikatan atapun masyarakat awam. Penambahan kata yang terakhir meruapakan suatu konsekuensi logis dari kata sebelumnya dan merupakan tindakan yang praksis dalam mencapai yang dicita-citakan. Sifat dan kata dalam semboyan ini merupakan suatu kata yang tak boleh dipisahan agar dapat melihat diri dan identitas ikatan. Jika ini mau dipisahkan maka yang terjadi merupakan ketimpangan sebagaimana trikompetensi atapn tujuan Ikatan.

Pelaksanaan terhadap tafsiran terhadap tiga doktrin ikatan ini menjadi sumber epistemologi ikatan dalam melihat realitas sosial. Penurunan dari epistemologi ini, menjadi paradigma gerakan ikatan yang sesuai dengan ajaran serta nilai-nilai ikatan. setelah menguraikan tafsiran terhadap dokrin ikatan tersebut sumber pengetahuan ikatan memiliki kedekatan dengan tradisi kenabian yang telah dilontarkan oleh Kontowijoyo, Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy. Sumber pengetahuan ikatan menjadikan ruh gerakan, serta paradigma yang harus dilakukan oleh ikatan. Ruh gerakan ikatan yang bersendikan pada nilai-nilai agama serta meneladani Muhammad saw. Paradigma ikatan merupakan sebuah tawaran wajib dalam rangka melihat realitas sosial dan menjawab problem kemanusiaan dan alam. Paradigma ini lahir dari dialektika internal ikatan, relasi agama, reaitas dan doktrin internal ikatan yakni dengan Paradigma Intelektual Profetik. Paradigma intelektual profetik bersendikan pada ruh profetik dan epistemologi Islam yang berdasarkan doktrin agama untuk kontektualisasi dengan objektivikasi agama sehingga terhindar dari sekulerisme sebagaimana terjadi dalam kebudayaan barat. Epistemologi Islam dalam perfektif ikatan merupakan konsep integralisasi ilmu pengetahuan dan agama bukan sekulerisasi sebagaimana terjadi dalam tradisi barat.

Diaspora

Diaspora gerakan merupakan suatu pilihan dalam melakukan transformasi sosial yang sadar dilakukan oleh ikatan. Sebelum melakukan diaspora gerakan, the ethick of IMM  harus tertanam dalam diri kader. Ethick of imm ini merupakan kesadaran pada diri kader menginternalisasi nilai-nilai ikan. Nilai-nilai ikatan berdasarkan pada dokrin ikatan sesuai degan misi kenabian yang melakukan pemberdayaan terhadap termarginalkan. Ethick of imm yang tertera pada ikatan menjadi ruh dalam paradigma gerakan yang dilakukan oleh ikatan. Ethick of imm yang bersumber pada kesadaran kenabian yakni humanisasi, liberasi dan trasendensi. Perkembangan selanjutnya dari ethick of imm menjadi etos kenabian dalam versi ikatan. Etos kenabian IMM menjadikan ikatan berbeda dengan pergerakan yang lain guna melakukan trasnsformasi sosial. Sifat transformasi sosial yang dilakukan oleh ikatan berbeda dengan yang lain dikarenakan bukan hanya sekedar membebaskan tetapi juga mengarahkan atau memiliki tujuan yang jelas. Maka bentuk transformasi sosial yang dilakukan oleh ikatan bukannya lagi transformasi sosial an sich tetapi sesuai dengan transformasi yang dilakukan oleh nabi (transformasi profetik).

Diaspora merupakan suatu bentuk aksiologis ikatan setelah memandang diri sehingga mengetahui ontologi ikatan, serta sumber pengetahuan ikatan (epistemologi). Diaspora dalam sejarah kemanusiaannya dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Tetapi dalam doktrin keagamaan kita konsep tentang diaspora sebenarnya sudah ada yakni pada firman Tuhan dalam surat al Jum’ah ayat 10;

”Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebarlah kamu di muka bumi carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.

Ayat ini menjelaskan tentang setelah selesai sholat, agar bertebarlah mencari karunia Allah. Konsep bertebar, disini memiliki kedekatan yang sama dengan diaspora, tetapi ada kata sebelumnya yakni setelah seleasai sholat yang bermakna nilai-nilai agama tertanam dengan sholat. Sholat dari ayat disini sebagai sarana untuk menginternalisasi agama sebagai bentuk nilai sebagai syarat sebelum melakukan diaspora. Diaspora dengan membawa nilai-nilai saja diingatkan oleh Tuhan dengan mengingat-Nya. Kata terakhir membahas yang beruntung disini adalah manusia, dikarenakan manusia itu sendiri yang memiliki hubungan sosial, sesamanya dan alam.

Pemahaman diaspora selain dari umat Yahudi dan doktrin Islam dalam sejarahnya juga dikembangkan oleh pendiri Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan dengan perkataan yang terkenal dengan jadilah kalian dokter, insiyur, guru, mantri dan kembalilah pada Muhammadiyah. Konsep diaspora merupakan penyebaran peran dalam ranah yang berbeda metode berbeda, tetapi memiliki etika yang dan tujuan yang sama guna menciptakan masyarakat yang diidealkan. Penciptaan masyarakat yang diidealkan ini merupakan tujuan dari kolektif dan individu kader dalam melakukan transformasi profetik. Masyarakat yang diidealkan merupakan mimpi dan cita-cita sosial ikatan sebagaimana masyarakat anti kelas dari komunisme. Masyarakat yang diidealkan ikatan sebagaimana tujuan dari ethick of imm adalah terbentuknya the choosen people yang melakukan kesadaran profetik dalam humanisasi, liberasi dan trasendensi.

Semangat diaspora yang dilakukan oleh ikatan merupakan bentuk pengaplikasian nilai-nilai ikatan guna mewujudkan masyarakat yang diidealkan. Diaspora ikatan memiliki karakteristik sesuai dengan surat al Jum’ah. Diaspora ini, merupakan aplikasi dari penginternalisasian nilai dan pengeksternalkan nilai pada masyarakat. Eksternalisasi ini perpaduan antara nilai dengan basic skill kader dalam menghadapi realitas sekarang. Lapisan sosial masyarakat secara sosiologis yang paling sederhana membagi struktur kelas yakni elit, menengah dan rakyat jelata. Maka bentuk perubahan sebenarnya yang harus dikuasi oleh ikatan level semuannya. Perubahan  yang dilakukan oleh ikatan sesuai dengan tingkat levelnya tetapi yang terpenting adalah perubahan kesadaran pada manusia dan menjadi gerakan kelompok dalam melakukan transformasi sosial yang berkeadilan.

Hal ini jika mau dikonstekskan pada ikatan dari dua ilustrasi tentang diaspora gerakan yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Muhammadiyah dapat diambil nilai-nilai apa yang harus diberikan kepada kader dalam mengembangkan diri baik dalam organisasi atapun dalam diri individu kader. Ikatan memiliki jumalah klader dan latar belakang yang beragam, hal ini dilihat dari struktur yang berada dalam ikatan beragam, jadi yang dilakukan oleh ikatan hanyalah pergulatan ettik yang membedakan kder ikatan dengan yang lai. Jika ikatan akan menyeragamakan potensial yang dimiliki oleh iaktan berarti iktan tidak bijak dan kurang arif melihat kader, yang itu semua jika dilakukan merupakan cirri pada ikatan gejolak modernisme dengan penyeragaman. Penyeragaman bentuk pada ikatan ini menjadikan ikatan tidak dapat merespon perkembangan zaman sehingga pergerakan ikatan hanya mengikuti arus utama tanpa adanya gerakan yang barau da kreatif.  Tetapi sekali lagi perlu dilakukan oleh ikatan dalam gerakannya bersifat internal sebagai organisasi kader dan bersifat eksternal ikatan sebagai organisasi pergerakan. Perjuangan gerakan bersifat internal merupakan bentuk pengkaderan yang dilakukan oleh Muhammadiyah untuk mengisi kepemimpinannya yang akan dating. Ikatan dalam gerakan ini membengun jaringan agar dapat mendistribusikan kader yang terbaik untuk menempati berbagai amal usha yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan ethic yang telah dimiliki oleh ikatan. Yang tidak boleh lupa sebelum melakukan gerakan diaspora ikatan merupakan pematangan ethic ikatan berupa terbentuknya kesadaran individu atau kolektif ikatan sebagai intelektual profetik. Bentuk gerakan yang dilakukan berdasarkan ethic profetik guna mewujudkan khoirul umat dengan menggunakan dispora gerakan. Pelaksanakan ethic profetik ini merupakan pilihan sadar guna mewujudkan umat yang terbaik dalam menciptakan masyarakat yang khoirul umah. Ethic profetik ikatan sebagai sayarat untuk menjadi umat yang terbaik bukan semata-mata pemberian dari Tuhan tetapi perlu adanya kerja keras dan melkukan aktivisme dalam sejarah.

Kepemilikan ethic ikatan ini menjadikan bentuk diaspora gerakan yang dilakukan oleh ikatan merupakan upaya sadar, sehingga yang diharapkan kader ikatan tidak mudah untuk terjebak dengan logika pragmatisme dan dapat menyiasati gerakan dengan professional dan kreatif. Ini dilakukan ikatan dalam dua lahan sebagai organisasi kader di Muhammadiyah sedangkan sebagai organisasi pergerakan pada wilayah eksternal. Bentuk gerakan diaspora didasari ethic profetik dengan kesadaran ilmu bukan ideologis. Bentuk kesadaran ilmu ini menjadikan kader dan ikatan secara kolektif menjadi terbuka dan tidak berpandangan sempit. Kesadaran ilmu juga ini menjadikan ruh dalam dalam melakukan perubahan baik dalam dataran Muhammadiyah ataupun  diluar Muhammadiyah dengan paradigma intelektual profetik. Yang dialkukan oleh ikatan bentuk transformasinya memberikan penyadaran dengan kesadaran profetik dilandasi basik keilmuan masing-masing kader guna menciptakan khoirul umat dengan cirri masyarakat ilmu yang bercorak berkeadilan. Tugas dari masing-masing kader menciptakan dan melakukan pemberdayaan dengan ilmu pada masyarakat, sehingga dalam pola pikir masyarakat menjadi terbuka, ilmiah objektif dan rasional, tidak terkunkung oleh tradisi, mistis dan irasional.  Pemberdayaan dengan ilmu ini juga menghidari masyarakat dari kerangka berfikir pragmatis, kebudayaan konsumerinsme dan bentuk budaya pop, serta menghilangkan atau meminimalisir ketergantungan.

Bentuk dispora kedalam. Diaspora ikatan kedalam merupakan suatu kewajiban bagi ikatan dan tidak dapat ditinggalkan dikarenakan ikatan merupakan organisasi kader dan bertugas untuk menjadi penerus dan penyempurna Muhammadiyah. Apa yang dilakukan oleh ikatan merupakan penguatan jaringan dengan Muhammadiyah dan memberikan dorongan serta teguran bagi Muhammadiyah yang tidak menjalankan amanatnya secara konsekuen. Ikatan dalam konstribusi pada Muhammadiyah dalam bagian disiplin keilmuan masing-masing kader dan melkukan perberdayaan guna mempersiapkan masyarakat yang berilmu sebagai cirri dari khoirul umat (masyarakat utama), dalam bahsa yang dignakan oleh Muhammadiyah. Ikatan mendelegasikan kader terbaiknya guna mewarnai Muhammadiyah dan memberikan corak yang berbeda dengan ortom yang lain di Muhammadiyah. Ikatan mengantarkan kader terbaik untuk memberikan pencerahan pada Muhammadiyah dan perluasan jaringan guna dapat mengembangkan bakat dan minat kader sesuaid engan disiplin keilmuannya sehingga dalam mengamdi dalam Muhammadiyah bersikap professional bukan sekedar kader. Pengabdian yang bersifat professional pada Muhammadiyah ini mencirikan ikatan sebagai gerakan yang professional dan sebagai cirri dari gerakan ilmu yang didasari, serta dikampayekan pada ikatan terus-menerus (kontiyu) oleh ikatan.

Bentuk diaspora keluar. Diaspora keluar merupakan bentuk keniscayaan yang dilakukan oleh ikatan guna menciptakan masyarakat yang diidealkan oleh ikatan. Disapora keluar ini dalam ikatan terbagi mejadi dua macam ikatan secara kolektif dan kader ikatan secara individu. Bentuk diaspora gerakan dalam bentuk secara individu merupakan sesuai dengan disiplin keilmuan kader dan spesialisasi yang dimiliki oleh masing-masing kader dalam melakukan perubahan social. Kader dalam ikatan bersikap mandiri dan memiliki tujuan yang sama dalam menciptakan masyarakat yang telah diidealkan. Ikatan yang secara individual berkumpul dengan golongan yang professional dan yang dilakukan oleh kader mengupayakan gerakan transformasi kesadaran dan mengajak untuk melkukan gerakan kebudayaan guna menciptakan masyarakat yang berkeadilan. Sifat dari ikatan ini dalam gerakan yang dilakukan dengan dua cara sebagai gerakan social dan gerakan kebudayaan. Gerakan social yang dilakukan oleh individu kader yang berkumpul dengan kaum professional menjadikan gerakan social yang spesifik dan menuju isu tertentu, bukan politis tetapi menyikapi realitas yang nyata-nyata riil terjadi. Individu kader dalam gerakannya bersifat mandiri atapun berkumpul dengan golongan yang professional, ini dikarenakn dapat dilihat dari masing-masing latar belakang dan disiplin keilmuan kader yang berbeda, maka dalam gerakannya pun bersifat diaspora dan bukan satu arah tetapi dari berbagai arah dalam tujuan yang sama.

Ikatan yang terdiri dari berbagai individu yang berkesadaran maka dalam ikatan secara otomatis, ia memiliki kesadaran kolektif yang sama. Kesadaran kolektif yang sama ini bukan dalam dataran penyeragaman tetapi merupakan bentuk kesadaran yang dibutuhkan ikatan dalam bentuk ethic bukannya seragam dalam bentuk gerakan. Gerakan yang dilakukan oleh oraganisasi ikatan dalam kebijakannya berisfat beragam dan tidak dapat seragam dikarenakan latar belakang keilmuan kader yang beragam pula.gerakan yang beragama yang dilakukan oleh kolektif  ikatan menjadikan suatu gerak serta cirri pergerakan ikatan yang berbeda dengan golongan yang lain. Ikatan dalam geraknya sesuaid engan keilmuan dan dibekali dengan ethic profetik, serta bentuk gerakan yang didasari oleh kesdaran ilmu bukannya ideologis. Ikan dalam hal ini sebagai organisasi pergerakan yang dilakukan dalam bentuk gerakannya ada empat macam; pertama dispora gerakan masuk kedalam berbagai macam system yang ada, kedua, penerjunan ikatan dalam praksis untuk melakukan pemberdayaan dan transformasi social kepada masyarakat atau kelompok yang termarginalkan, serta ketiga, pengalihan isu yang bersifat local dan kedaerahan dalam permasalahan social menjadi isu yang bersifat nasional, serta yang keempat melakukan koordinasi dengen berbagai pergerakan social yang berada dalam masyarakat guan menuntut keadilan bersama dalam satu isu yang sama dan tujuan yang sama dalam rangka menciptakan masyarakat yang telah diinginkan oleh ikatan.

Pertama, masuk kedalam system merupakan tujuan alam strategi perubahan dan cara untuk melakukan transformasi social. Ikatan sebagai gerakan intelektual profetik dengan basik keilmuan diharapkan dapat memasuki system yang ada dan bahkan menjadi pembuat kebijakan yang telah dikeluarkan dapat memihak kepada rakyat. Syarat dari kader yang masuk kedalam system yang paling utama melakukan transformasi kesadaran sehingga system tersebut ber-ethic profetik dalam rangka mewujudkan system yang adil. Jika kader ikatan tidak dapat membuat kebijakan tersebut pali tidak ia cukup mewarnai dalam keijakan sehingga dihasilkan suatu bentuk kebijakan yang berkeadilan. Ikatan harus dapat megontrol kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah atau paling tidak membuat legal drafting yang telah dikeluarkan pemerintah gua menggantikan kebikajan yang tidak adil. Ikatan disini ,emerlukan lembaga-lembaga khusus dalam menangani permaslahan. Lembaga khusus ini merupakan suatu upaya memberikan tanggapan kepada Negara agar kebijakan sesuai dengan ethic profetik. Begitupula kader ikatan yang masuk kedalam partai politik dengan ikatan sudah tidak berkedudukan sebagai anggota ikatan, tetapi mereka merupakan kader ikatan. Kader ikatan ini harus memiliki ethic ikatan guna menciptakan kebijkan partai menjadi populis dan memihak kepada rakyat dengan menciptakan politik diarahkan untuk kepentingan kemanusiaan bukan dasar kepentingan pragmatis. Jika kader ikatan tidak dapat mempemgaruhi maka sebaiknya bagi kader ikatan keluar dari system dan membentuk system baru guna mewujudkan transformasi social agar tercipta khoirul ummah.

Kedua, pembentukan system yang adil dan berpihak kepada kemanusiaan merupakan suatu keniscayaan. Pembentukan ini merupakan penerjunan langsung bagi ikatan untuk melakukakan pemberdayaan langsung pada kelompok yang termarginalkan oleh kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Penerjunan ikatan dalam melakukan transformasi dengan mengembangkan desa binaan dan pemberdayaan kaum yang termarginal. Pendampingan yang dilakukan ikatan bersifat kontiyu dan trus menerus sehingga masyarakat memiliki keasdaran dan bersikap kritis. Ikatan dalam hal ini merupakan pengabdosian dari gerakan yang telah dilakukan oleh LSM dalam melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat. Transformasi yang dilakukan oleh ikatan berbeda dengan LSM dikarenakan ikatan memiliki ethic profetik dan bentuk transfoemasi yang berbeda pula, serta tujuan yang diinginkan oleh ikatan juga berbeda. Pemberdayaan bentuk transfoemasi dalam masyarakat bersikap langsung dengan menganggap bahwa masyarakt sebagai subjek perubahan dan memberikan penyadaran dalam bentuk gerakan social atau gerakan kebudayaan. Gerakan kedua dalam masyarakat didasarkan pada ilmu sehingga dapat mentransformasikan kepada masyarakat sebagai masyarak yang berilmu, bersikap kritis, ilmiah, rasional,  terbuka, tidak terkungkung mitos, tradisi dan tak berfikir material. Bentuk transformasi yang dilakukan oleh ikatan berdasarkan ethic profetik guna menciptakan garden city.

Ketiga, isu bersifat local merupakan suatu permasaahan nasinal meruapakan rasa empati dari gerakan masyarakat yang harus didukung dan mendapatkan advoasi dari bentuk gerakan ikatan dan merupakan suatu keharusan. Dalam peta gerakan social sekarang masyarakat mulai tercerahkan dan mulai peka terhdap ketidak adilan yang dilakukan oleh pemerintah maka memunculkan gerakan social. Gerakan social yang sekarang berkembang sangat menyebar dan divergen dan permasalahan yang diangkap merupakan isu local dan berdampak atau menjadi isu nasional. Ikatan memiliki kesadaran yang peka dan melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang terjadi serta memberikan suatu jalan penyelesaian agar lebih baik. pengembangan isu merupakan langkah gerakan ikatan untuk memberikan rasa solidaritas terhadap suatu kelompok dalam melakukan pembaharuan. Pengalihan in diharapkan dapat merubah suatu kebijakan yang telah dikeluarkan agar dapat ditinjau ulang atau bahkan dihentikan.

Keempat, ikatan melakukan kerjasama perluasan jaringan yang melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat. Kerjasama yang dilakukan oeh ikatan guna memberikan dukugan secara moral dan material terhadap suatu bentuk pembedayaan terhadap masyarakat untuk dapat mandiri supaya tidak mengalami ketergantungan kepada Negara. Bahkan sewaktu-waktu ikatan mengadakan aksi bersama dengan seluruh elemen dari lembaga social yag konsen terhadap permberdayaan agar terciptanya suatu keadilan dalam masyarakat. Gerakan social yang terfragmentasikan ini, oleh ikatan di satukan dalam rangka menghadapi satu persolan yang sama yakni masalah kemiskinan dan kemanusiaan. Sedangkan untuk permaslahan yang lain spesifik seperti gender, masyarakat adat dan keagamaan, sikap ikatan ikut mengembil peran dan alih gerakan tersebut dengan cara melakukan transfomasi sesuai dengan tujuan dan yang dicita-citakan oleh ikatan. Ikatan melakukan dorongan dan membantu pemyelesaian apa yang dihapai oleh masing-masing gerakan dalam upaya transformasi social.

Gerakan diaspora ikatan baik alam bentuk keluar atapun kedalam merupakan ikatan mewujudkan masyarakat yang telah diidealkan. Masyarakat yang telah diidealkan suatu bentuk masyarakat yang berkeadilan dan menjungjung tinggi ham, serta hukum  yang berlaku. Ikatan dalam mewujudkan itu semua berlomba degan waktu dan upaya melakukan rekonstrusi terhadap peradaban yang terjadi di barat dikarenakan mengalami ketimpangan, dimana terjadinya dehumanisasi bukannya peradaban merupakan bagian dari humanisasi manusia. Ikkatan melakukan perubahan social dalam bentuks transfoemasi atau kalu bisa jga dapat merubah kebijaka agar lebih memberikan makna kepada kaum miskin bukannya kaum pemodal.

Perihal Muhammad Abdul Halim Sani
Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMP Muhammadiyah 1 Kota Depok Jawa Barat dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Email; sani_cilacap@yahoo.com. Terimakasih atas masukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: