Sastra Profetik; Mengenal Sastra Kuntowijoyo

Sekilas tentang Sastra

Sastra merupakan suatu wujud dan hasil dari kebudayaan. Sastra merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia dalam menyikapi realitas kehidupan dengan menggunakan bahasa symbol khususnya terjadi pada puisi, sajak, syair dan yang lain. Dalam sejarah perkembangan sastra merupakan ungkapan atas rasa yang terjadi pada manusia. Hal ini dapat dilukiskan dengan pengalaman religius orang-orang sufi dalam bercinta dengan kekasih-Nya. Ungkapan yang keluar merupakan suatu bentuk karya yang cukup dasyat didalam kehidupan, sebagaimana syair yang dikumandangkan oleh Rumi, Iqbal, Al Halaj dan yang lain.Sastara Indonesia yang sekarang banyak bercorak snab dan norak baik dalam pola ucapan atapun dari segi isinya. Sastara yang demikian merupakan suatu bentuk sastra bukannya untuk meninggikan drajat kemanusiaan tetapi membawa pembaca pada pengumbaran jiwa manusia dengan ekspresi yang rendah. Oleh karena itu perlunya diimbangi dengan sastra yang bercorak lebih bagus secara makna dan isinya, yang berdasarkan pada nilai-nilai agama.Sastra yang bercorak pada nilai-nilai agama merupakan pengungkapan jiwa dan sarana untuk melakukan Ibadah pada Pencipta. Sebagaimana sastra Islam merupakan sastara yang bersifat multi fungsi dimana bukan pengungkapan jiwa semata tetapi mengajarkan nilai-nilai transenden. Perkembangan sastra Islam dalam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dunia tasauf. Hal tersebut dikarenakan dalam ilmu tasauf di gambarkan pada wilayah esoteris bertemunya manusia dengan Penciptanya. Proses pengungkapan kalimat yang indah ketika manusia menyatu dengan Tuhan, dikarenakan pancaran Ilahi masuk kedalam hatinya. Persatuan yang terjadi pada orang sufi memunculkan suatu karya yang universal dan berada dalam genggaman orang-orang sufi.Dalam konteks sejarah sastara Indonesia pengaruh sufi sangat kental, hal ini dapat dilihat dari sastra karya Hamzah Fansuri dan Abdul Hadi. Sebenarnya jika mau dilihat lebih jauh lagi menurut Kunto semua sastra memiliki bobot transcendental dalam proses pengungkapannya karena dilihat dari teologis dan metafisis. Dalam kesastraan Indonesia sebenarnya ada dua macam kubu yakni sastra kemanusiaan dan sastra pembebasan. Oleh karena itu, Konto menawarkan konsep sastra yang transcendental guna menanggapi isu yang ada dalam perkembangan sastra pada saat itu.

Sastra Kuntowijoyo Upaya Mengetahui Jejak Pemikiran

Kunto merupakan sosok figure yang fenomenal pada masa itu dikarenakan konsep yang ia tawarkan dalam melihat realitas. Dilihat dari latar belakang pendidikannya ia merupakan seorang yang ahli sejarah. Sejarah yang ia ungkapkan dengan menggunakan pendekatan social, hal ini dapat dilihat dari disertasinya yang membahas tentang perubahan social masyarakat Madura. Walaupun ia seorang sejarahwan tetapi apa yang dilakukan oleh Kuntowijoyo lebih dari sejarahwan. Hal ini dikarenakan ia banyak sekali memberikan konstribusi pada bidang yang lain seperti sastra, ilmu social dan pengintegrasian ilmu agama dengan pengetahuan dengan konsep pengilmuan Islam.Dalam membicarakan tentang alur pemikiran yang dilontarkan oleh Kunto, kita dapat membahas dari sastra yang iagoreskan pada kertas, dan karya-karyanya. Pak Kunto dalam karyanya memerlukan refleksi yang dalam menyikapi realitas. Ketika kita mencoba membaca karyanya merupakan suatu gagasan yang bersifat filosopis, paradigmatic dan perlu diterjemahkan kedalam dataran yang lebih praktis. Sebagaimana dalam teori sastra bahwa dalam pembagiannya sastara terbagi menjadi tiga macam yakni sastara yang bercorak kemanusiaan, pembebasan dan sastra yang bersifat trasendental. Sastra yang bercorak kemanusian ini dapat dilahat dari tokoh yang melakukan pengkajian kemanusiaan dan kebebasan manusia, sedangkan sastara yang bercorak pembebasan diketahui dengan seorang yang mengkaji tentang social kemasyarakatan. Sedangkan sastra yang bercorak transcendental merupakan karya sastra hasil religius pengalaman keagamaan sebagaimana yang terjadi pada orang-orang sufi. Terus yang menjadi pertanyaan bagaimanakah sastra yang dibawa oleh Kunto.Melihat dari sastara yang ada bahwa Kunto dalam perkembangan pemikirannya terbagai menjadi dua arus besar yakni sastara yang bercorak transcendental (religius) dan sastra yang bercorak profetik. Sastra yang bercorak transcendental dapat kita lihat dalam Novelnya seperti Kotbah di Atas Bukit, Impian Amerika, dan cerita pendek seperti Dilarang Menyintai Bunga-Bunga, Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan serta kumpulan puisi-puisinya dengan judul Suluk Awang Uwung. Sedangkan sastra yang bercorak profetik ketika ia sudah berdialog dengan pemikiran Prof. Dr. M. Qurais Shihab, M.A dengan judul bukunya Membumikan Al Qur’an, serta tokoh yang lain seperti Muslim Abdurrahman, Adi Sasono dan yang lain. Hal ini, juga dapat kita amati dalam karya novelnya Pasar, Mantara Pejinak Ular, Wasripin dan Satinah serta kumpulan puisi-puisinya Makhrifat Daun Daun Makhrifat. Sastra profetik merupakan pengembangan dari sastra yang bercorak religius dimana dalam sastra profetik ada unsure yang harus terpenuhi bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan. Sastra profetik merupakan inspirasi dari Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal, dimana manusia memiliki sikap kebebasan apa yang menjadi pemimpin. Seni merupakan menjadi alat perubah dan pengerak realitas social dan seniman menjadi inspirator perubahan serta bagaimana menciptakan yang lebih baik.Sebagaimana unsure sastra yang bercorak profetik menurut pandangan Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal, meliputi kebesaran makna Illahiah, manusia merupakan mahluk yang merdeka dan kreatif, manusia menjadi khalifah dan melibatkan diri dalam proses social, sedangkan yang terkhir keseimbangan antara dimensi vertical dengan horizontal. Sedangkan Kunto juga merumuskan tentang etika profetik dalam surat al Imron ayat 110, yang menjiwai dari sastra-sastranya. Unsure dalam surat al Imron 110 yakni; amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahyi munkar (mencegah kejelekan), dan iman (tu’minuna) bi Allah (beriman kepada Allah). Ketiga hal ini adalah unsur yang tak terpisahkan dari etik profetik. Sekarang yang perlu melihat puisi atau tulisan sastranya Kunto dalam melihat sejarah pemikirannya.

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga, 
misalnya, berkisah tentang seorang tua, 
seorang anak yang mencintai bunga-bunga, 
dan seorang bapak yang melarang anaknya mendekati bunga-bunga. 
"....Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. 
Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk 
pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, 
keremajaan, keindahan. Hidup 
adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. 
Kita adalah dua tangkai 
anggrek...".
Sisi ketuhanan tampak menonjol disini, 
penggambaran kehidupan yang serba indah penuh cinta, 
yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi sufistik, 
bukan hanya puisi melankolis cinta antara anak manusia.
 Seperti dalam cerpen dilarang menyintai bunga-bunga Kunto mencoba menawarkan cara pandang 
terhadap lingkungan menggunakan logika agama bukanya dengan logika kerja 
seperti yang dilakukan oleh ayah gadis dalam cerita tersebut. 
Dimana dengan menggunakan logika agama menjadikan kita hidup 
seperti dengan damai dan indah dalam suatu taman serta tidak menimbulkan kekerasan. 
Tetapi begitupula sebaiknya ketika gadis dalam cerita tersebut menggunakan logika dunia 
menimbulkan ketidakpuasan dalam diri dan untuk kepentingan yang sesaat.

Sastra Kunto dalam pemikirannya lebih cenderung religius dan sufistik dengan menentangkan kehidupan yang ideal dengan yang tak ideal seperti dalam cerpen tersebut. Ini merupakan pemikiran Kunto yang bercorak religius dan cenderung sufistik dalam era pemikirannya, dan berakhir pada tahun 1990-an. Sedangkan dari puisinya yang bercorak religius

Angin gemuluh di hutan        Memukul ranting Yang lama juga      Tak terhitung  jumlahnya    Mobil di jalan Dari ujung ke ujung        Aku ingin menekan tombol     Hingga lampu merah itu Berhenti  Angin, mobil dan para pejalan  Pikirkanlah, ke mana engkau pergi (Suluk Awang Uwung)

Makna yang diinginkan oleh penulis merupakan nasehat bahwa kita sering terjebak pada rutinitas dunia, sehingga lupa kemana arah tujuan hidup ini. Seperti pada kata aku ingin menekan tombol hingga lampu merah itu berhenti bermakna ia berusaha ingin menghentikan ritualitas manusia yang kehilangan makna hidup. Sedangkan pada kata angina, mobil dan para pejalan pikirkanlah kemana engkau pergi merupakan sikap untuk merenungi apa yang telah dilakukan dan apa yang direncanakan, sehingga tidak terjebak dengan rutinitas kehidupan. Selanjutnya pemikiran yang bercorak profetis dalam puisi yang dibuat oleh Kunto.Sebagai hadiah
Malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
sampai dhuafa dan mustadh’afin
diangkat Tuhan dari penderitaan
(Makhrifat Daun Daun Makhrifat)

Sajak tersebut ditulis pada tahun 1995 ketika kesehatan Kuntowijoyo masih terganggu. Dalam keadaan sakit, ia melihat malaikat berkelebat sambil menawarkan hadiah kepadanya. Tetapi, Kuntowijoyo menolak tawaran tersebut. Sebab, konsekuensi menerima tawaran itu adalah ‘terbang dari bumi’. Maka ada semacam perjuangan melawan maut barangkali. Bagaimanapun, pengalaman sakitnya yang lama membuatnya berusaha untuk sembuh. Ia terserang Meningo encephalitis, radang selaput otak kecil yang menyebabkan kelumpuhan. Sejak 1992 ia sempat dirawat di Ruang Gawat Darurat RS Sardjito, Yogyakarta, selama 35 hari dan mesti beristirahat untuk waktu yang cukup lama.Itulah sejarah Kuntowijoyo, yang sempat menuliskan pengalamannya dalam bentuk puisi. Puisi tersebut selain bercerita pengalaman mistisnya kepada pembaca, juga ingin mengabarkan bahwa di dunia ini masih dipenuhi kejahatan dan penderitaan. Terlihat ia sangat peduli pada dunia. Meminjam kata-kata Leonardo da Vinci, Kuntowijoyo seperti ingin memperbaiki bumi yang rusak, ingin melukis langit agar menjadi indah, tidak ikhlas diberi hadiah malaikat (nikmat-ketenteraman) jikalau bumi masih carut marut. Dari puisi tersebut, dapat saya tulis tiga hal tentang sastra dan sejarah. Pertama, bahwa puisi bukan semata lukisan peristiwa-peristiwa, namun memungkinkan makna dari peristiwa-peristiwa. Paparan tersebut bakal menghasilkan suasana ketika momen puitik yang berhasil direkam dalam puisi menjadi hidup, memiliki nyawa. Seperti kata kaum Romantik Jerman, ketika perasaan dikendalikan daya imajinasi, kita lihat juga Stimmungslyriek (lirik suasana), di mana hal yang penting bukanlah gambaran visual atau isi konkret melainkan suasana yang dibangkitkan. Semacam ruh puisi. Coba kita simak puisi berikut ini:

Yang berjalan di lorong
hanya suara-suara
barangkali kaki orang
atau malaikat atau bidadari atau hantu
mereka sama-sama menghuni desa di malam hari
Kadang-kadang kentong berjalan
dipukul tangan hitam
dari pojok ke pojok
menyalakan kunang-kunang
di sela bayang-bayang

Puisi berjudul Desa di atas kental bersuasana pedesaan. Penyair menuliskan kegiatan orang-orang desa malam hari. Tetapi penyair melukiskan pendengarannya (citraan audio) melalui perasaan yang diraba dengan mungkinan (ciri khas Kuntowijoyo ketika menghadapi mitos dan realitas). Suasana yang terbangun adalah sebuah ‘rahasia’ malam, kemudian ditampilkan filosofi dan mistis. Kedua, sebagaimana ‘cap’ saya, Kuntowijoyo adalah sejarawan sastra, bahwa karya sastra bukan sekedar reproduksi dari realitas melainkan sesuatu yang mempertajam dan membuat intens penghayatan kita pada realitas (Mohamad, 1993). Sejarah bukanlah sastra, sebab sastra memerlukan imajinasi, perasaan, dan empati. Realitas yang ditangkap terlebih dahulu mengalami masa inkubasi dari penghayatan yang intens. Contohnya adalah Kuntowijoyo sendiri. Pada pertengahan 1950-an ia menghabiskan hidupnya di Ngawonggo, sebuah desa sunyi di Ceper, Klaten. Persentuhannya dengan surau, bambu, kunang-kunang, kentongan yang ditabuh, mitos, dsb kemudian melahirkan renungan tentang hidup.Ketiga, ketika realitas yang dihadapi bertolak belakang dengan hati nuraninya, maka yang ditulis adalah pelarian dari realitas. Ia berusaha lari dari realitas tanpa meninggalkan dunia. Maka kemudian diciptakan dunia ideal. Dunia ideal yang diciptakan puisi tersebut barangkali dengan membalik realitas yang digambarkan Kuntowijoyo, tentang ia (yang) lebih suka bumi tenggelam/daripada ia tak tenteram (baris-baris terakhir sajak Hikayat).Dunia ideal adalah dunia angan yang diinginkan tetapi tidak juga dapat direalisasikan di dunia nyata. Abrams menyebutnya sebagai supernaturalisme-natural, karena dunia baru yang ingin diciptakan bukanlah surga yang ada di luar dunia nyata melainkan ada di dalamnya. Surga tidak diciptakan melalui kekuatan supernatural tetapi melalui penyatuan pikiran manusia dengan alam (Faruk, 2002). Secara umum, romantisisme karya-karya Kuntowijoyo dapat dipahami dari dunia ideal yang dibangun, empati, perasaan, dan pemilihan kata. Daya gugah bahasanya yang sederhana salah satunya adalah bahasa simbol. Bahasa simbol adalah sejenis retorika yang bersisi ganda, yang menyatakan sesuatu tapi mensyaratkan pengetahuan tentang sesuatu yang lain. Pemikiran Kunto secara garis besar menurut Zainal Abidin Bagir, ada dua gagasan utama yang dibahas di sini: pengilmuan Islam dan integrasi ilmu dengan etika. Meskipun di tulisan-tulisan awalnya (80-an dan awal 90an) ia tampak bersimpati pada gerakan islamisasi ilmu, belakangan ia membedakan gagasannya tentang pengilmuan Islam dari gerakan tersebut, bahkan mengatakan bahwa “gerakan islamisasi ilmu mesti ditinggalkan”. Kuntowijoyo meyakini objektifitas ilmu, namun menolak klaim bebas-nilainya, dalam artian netralitas/ketakberpihakan. Di satu sisi, Islam mesti dijadikan ilmu (diobjektifikasi); di sisi lain, ilmu-ilmu (khususnya sosial) mesti menyatakan keberpihakan yang jelas, yaitu kepada cita-cita profetik universal agama-agama: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Hal ini juga dapat terlihat dari karya sastra yang mencoba melakukan pengilmuan Islam dan proses integrasi ilmu dengan agama. Misalkan dalam Novel terbarunya Wasripin dan Satinah ia mencoba menggambarkan tentang rasionalasasi agama dan melakukan objektifikasi terhadap agama.

Perihal Muhammad Abdul Halim Sani
Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMP Muhammadiyah 1 Kota Depok Jawa Barat dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Email; sani_cilacap@yahoo.com. Terimakasih atas masukannya.

5 Responses to Sastra Profetik; Mengenal Sastra Kuntowijoyo

  1. jokoparadise mengatakan:

    di IAIN SUka aku punya nomor NIM ku 9852 2660, tapi nggak lulus smpe sekarang..

  2. rahmamujahidah mengatakan:

    Ass. salam kenal. sastra adalah ungkapan hati, bisa bermakna apapun tgantung sisi setiap penikmatnya, itulah hebatnya sastra bisa menjadi ‘apa saja’ bagi pembacanya. salam

  3. Husnul Muttaqin mengatakan:

    Gimana kabarnya san? masih ingat? Masih suka ngobrolin kunto? apa sekarang aktifitasnya?

  4. Qinimain Zain mengatakan:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  5. sunarno2010 mengatakan:

    apakah puisi-puisiku memenuhi kriteria profetik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: