Pentingnya Kesadaran;Dari Kesadaran Kritis ke Kesadaran Profetis

Sekilas Tentang Kesadaran

Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain. Kesadara yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya. Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia dalam melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tetang kesadaran merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang membedakan manusia dengan binatang. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Manusia dengan dikaruniahi akal budi merpakan mahluk hidup yang sadar dengan drinya. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya. Manusia memiliki kesadaran akan dirinya sebagai entitas yang terpisah serta memiliki kesadaran akan jangka hidup yang pendek, akan fakta ia dilahirkan diluar kemauannya dan akan mati diluar keinginannya. Kesadaran manusia ia akan mati mendahului orang-orang yang disayanginya, atau sebaliknya bahwa yang ia cintai akan mendahuluimya , kesadran akan kesendirian, keterpisahan, akan kelelamahan dalam menghadapi kekuatan alam dan masyarakat. Semuanya kenyataan itu membuat keterpisahan manusia, eksistensi tak bersatunya sebgai penjara yang tak terperikan. Manusia akan menjadi gila bila tak dapat melepaskan diri dari penjara tersebut. (Erich From, The Art of Love)

Kesadaran menurut Sartre berifat itensional dan tidak dapat dipisahkan di dunia. Kesadaran tidak sama dengan benda-benda. Kesadaran selalu terarah pada etre en sio (ada-begitu-saja) atau berhadapan dengannya. Situasi dimana kesadaran berhadapan oleh Sartre disebut etre pour soi (ada-bagi-dirinya). Bahwa kesadaran saya akan sesuatu juga menyatakan adanya perbedaan antara saya dan sesuatu itu. Saya tidak sama dengan sesuatu yang saya sadari ada jarak antara saya dengan objek yang saya lihat. Misalkan entre pour soi menunjuk pada manusia atau kesadaran. Manusia adalah eter pour soi sebab ia tidak persis menjadi satu dengan dirinya sendiri. Tiadanya identitas manusiadengan dirinya sendiri memungkinkan manusia untuk melampaui, untuk mengatasi dirinya dan menghubungkan benda-benda dengan dirinya sesuai dengan yang dimaksud dan tujuannya. Ketidak identikan manusia dengan dirinya sendiri tampak dalam kesadaran yang ditandai oleh regativitas, penidakan. Negativitas menunjukan bahwa terhadap etre pour soi atau kesadaran hanya dikatan it is not what it is. Maka kesadaran disini merupakan non identitas, jarak, distansi. Kegiatan hakiki kesadaran merupakan menindak, mengatakan tidak. Etre por soi tidak lain dari pada menindak atau menampilkan ketiadaan. Kebebasan bagi Sartre merupakan kesadaran menindak, dan manusi sendiri merupakan kebebasan. Pada manusialah itu eksistensi itu mendahului esensi, sebab manusia selalu berhadapan dengan kemungkinan untuk mengatakan tidak. Selama manusia masih hidup ia bebas untuk mengatakan tidak, baru setelah kematian maka cirri-ciri hidupnya dapat dibeberkan. (Alex Lanur, Pengantar dalam “Kata-Kata”)

Kesadaran sebagai keadaan sadar, bukan merupakan keadaan yang pasif melainkan suatu proses aktif yang terdiri dari dua hal hakiki; diferensiasi dan integrasi. Meskipun secara kronologis perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga tahap; sensansi (pengindraan), perrseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian). Secara epistemology dasar dari segala pengetahuan manusia tahap perseptual. Sensasi tidak begitu saja disimpan di dalam ingatan manusia, dan manusia tidak mengalami sensasi murni yang terisolasi. Sejauh yang dapat diketahui pengalaman indrawi seorang bayi merupakan kekacauan yang tidak terdeferensiasikan. Kesadaran yang terdiskreminasi pada tingkatan persep. Persep merupakan sekelompok sensasi yang secara otomatis terimpandan dintgrasikan oleh otak dari suatu organisme yang hidup. Dalam bentuk persep inilah, manusia memahami fakta dan memahami realitas. Persep buka sensasi, merupakan yang tersajikan yang tertentu (the given) yang jelas pada dirinya sendiri (the self evidence). Pengetahuan tentang sensasi sebagai bagian komponen dari persep tidak langsung diperoleh mnusia jauh kemudian, merupakan penemuan ilmiah, penemuan konseptual.

Pengetahuan manusia adalah tentang konsep eksistensi berkaitan dengan sesuatu yang ada, hal, atribut (sifat) atapun tindakan. Karena merupakan konsep maka manusia tidak dapat memahami secara eksplisit hingga ia mencapai tingkatan koseptual. Namun hal itu implisit daolam setiap persep (mempersepsi sesuatu berarti mempersepsi sesuatu itu ada) dan manusia memahaminya secara implicit pada tingkapan perceptual, yakni memahami unsure pokok dari konsep “yang ada”, data yang kemudian diintegrasikan oleh konsep tersebut. Pengetahuan yang implisit ini yang kemudian kesadarannya berkembang lebih lanjut, kemudian menjadi sensasi atas sesuatu bukan sensasi bukan sesauatu (nothing). Sensasi nothing tidak mengatakan bahwa manusia yang ada, melaikan hanyalah itu yang ada. Konsep yang ada (implicit) mengalami tiga tahap perkembangan dalam pemikiran manusia. Tahapan itu terdiri dari; pertama, kesadaran anak terhadap objek merupakan tahap sesuatu yang mewakili konsep entitas implicit. Kedua, merupakan tahapan yang erat kaitannya dengan kesadaran tahapan khusus dank has dapat dikenali ,anamun dibedakan dengan hal yang standar pada bidang perseptual yang mewakili konsep identitas (implisit). Ketiga, pemahaman hubungan dianatara berbagai entitas ini dengan memahami persamaan dan perbedaan entitas mereka. Hal ini memerlukan transformasi konsep entits (implisit) menjadi konsep unit (implisit). Itu merupakan kunci memasuki konseptual kesadaran manusia. Kemampuan untuk memandang entitas sebagai unit merupakan metode untuk mengerti yang khas bagi manusia, yang tidak dapat diikuti oleh mahluk hidup yang lain. (Ayn Rand, Pengantar Epistemologi Objektif)

Proses Kesadaran

Kesadaran adalah kemampuan untuk menyadari, kemampuan untuk mempersepsi sesuatu yang ada. Pada tingkat kesadaran manusia mengalami proses sensasi dan untuk mengintegrasikan sensasi menjadi kehendak. Kesadaran dapat dicapai dan dipertahanakan dengan kegiatan (action) yang terus menerus. Secara langsung atapun tidak setiap fonem kesadaran diderevasikan kesadaran manusia akan dunia luar. Ekstropeksi merupakan suatu proses kesadaran yang diarahkan ke luar–proses untuk memahami yang ada di dunia luar. Sedangkan intropeksi merupakan proses kesadaran yang diarahkan ke dalam-proses untuk memahami kegiatan psikologi sendiri dengan meperhatiakan yang ada di dunia luar, seperti kegiatan berfikir, merasa, dan mengenang. Kesadaran merupakan kesadaran terhadap sesuatu, kesadaran timbul dikarenakan interaksi terhadap dunia luar, maka kegiatan sadar dapat dialami.

Dua sifat fundamental yang yang tercakup dalam dalam setiap keadaan, aspek atau fungsi kesaarn manusia meliputi; isi dan kegiatan (content and action)-isi kesadaran, dan kegiatan kesadaran yang memperhatikan isi. Pada tingkat kesadaran perceptual dari semnua konsep berkaitan dengan kesadaran. Pada tingkatan ini anak-anak hanya semata-mata mengalami dan melakukan berbagai proses psikologis; perkembangn konseptualnya yang utuh mengharuskan untuk belajar mengonseptualisasikannya (setelah ia mencapai tahap tertentu dalam perkembangan konseptual ekstropekltifnya). Untuk membentuk konsep keasadran, orang harus mengisolasi kegiatan dari isi keadaan sadar tertentu, melalui proses abstraksi. Manusia dapat mengabstraksikan berbagai entitas dan dapat mengabstraksikan kegitan sadar atas isinya, mengamati perbedaan diantara jenis kegiatan.

Misalkan pada tingkat dewasa, ketika seorang lelaki mengamati wanita berjalan, maka kegitan kesadarannya persepsi, ketika dia melihat wanita itu cantik, maka kesadarannya evaluasi; ketika ia mengalami keadaan batin yang menyenangkan, menggembirakan, mengagumkan maka keadaan kesadarannya emosi, ketika ia berhenti untuk menikmatinya dan mengambil kesimpulan, dari fakta mengenai watak, usi dan kedudukan social maka kegiatan kesadarannya berfikir, ketika ia mengingatkan kejadian itu maka kegiatan kesadarannya mengenang. Ketika ia memperhitungkan penampilan wanita tersebut akan lebih baik jika rambutnya pirang dan tidak coklat, dan bajunya berwarna biru bukan merh maka tingkat keadaan kegiatan kesadarannya imajinatif. Begitulah pola proses manusia belajar untuk membentuk kesadaran. (Ayn Rand, Pengantar Epistemologi Objektif)

Dalam kenyataan, kesadaran bukanlah hanya tiruan dari apa yang nyata dengan demikian pula dengan apa yang nyata bukan hanya konstruksi kesadaran yang berubah-ubah. Ia hanyalah jalan setapak merupakan kesatuan yang dialektis, dimana kita menemukan solidaritas antara subjektivitas dan objektivitas, sehingga kita dapat keluar dari kesalahan subjektivis atapun kesalahan mekanistis. Kita harus memperhitungkan peran kesadaran atapun peran mahlk sadar dalam transformasi social. Bagaimana seseorang menerangkan misalnya dalam istilah subjektivis, posisi manusia sebagai individu generasi atau kelas social yang dikonfrotasikan dengan situasi sejarah tertentu dimana mereka menjadikan kesadaran atau kehendak mereka independent? Dan sebaliknya bagaimana menerangkan masalah yang sama dengan sudut pandang mekanis? Kesadaran secara arbiter menciptakan realitas suatu generasi kelas social, engan menolak situasi yang ada tempat mereka hidup, dapat mentrasnformasikan dengan suatu gerakan sederhana yang relevan. Jika kesadran merupakan cerminan yang sederhana dari realitas maka cermina tersebuat bersifat abadi, dan kenytaaan akan menjadi subjek penentu dalam dirinya. (Denis Collins, Paulo Freire)

Manusia sebagai mahluk yang multi dimensional memiliki hubaungan dengan berbagai system yang ada baik dialam atapun dengan sesama manusia. Hubungan manusia dengan alam sebagai sarana untuk melakukan perubahan yang lebih baik dan menjadikan alam memberikan manfaat pada manusia tanpa merugikan kepada yang lain. Alam merupakan sarana untuk mempermudah manusia dalam menjalanakan kehidupan. Tetapi, yang dilakukan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam tidak boleh terbatas dan secukupnya saja. Manusia juga memiliki dimensi sebagai mahluk social yang berkomuniskasid an bersosialisasi dengan yang lain. Interaksi manusia dengan yanglain dan bagaimana cara merubah ala mini agar memberikan manfaat bagi manusia, maka meimbulkan sebuah kesadaran. Kesadaran tumbuh dalam diri manusia dikarenakan hubungan manusia dengan alam atapun dengan sesamanya. Berkut ini merupakan gamabaran kesadaran manusia berhadapan dengan realitas. Kesadaran tersebut dapat dipetakan menjadi emapat jenis kesadaran yang dimiliki oleh manusia; kesadaran magis, kesadaran naïf, kesadaran kritis dan kesadaran profetis.

Kesadaran Magis. Dalam pandangan kesadaran magis, untuk menganalisis permasalahan yang terjadai dengan pendekatan yang bersifat metafisika dan abstrak. Misalkan permasalahan kemiskinan umat pada hakekatnya merupakan ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu apa arti dan hikmah dibalik ketentuan tersebut. Mahluk, tidak tau tentang gambaran dari scenario besar Tuhan, dari perjalanan panjang umat manusia.kemiskinan merupakan ujian dan cobaan Tuhan terhadap keimanan, dan kia tidak tahu manfaat dan keburukannya. Akar teologi dari konsep ini berstandar pada sikap predeterminisme (takdir), merupakan ketentuan dan rencana Tuhan sebelum jauh terciptanya alam. Sikap manusia tidak memiliki free will untuk menciptakan sejarah sendiri, meskipun manusia berusaha maka Tuhan yang menentukan. (Mansour Fakih, Islam sebagai Alternative). Kesadaran magis ini mayoritas dimiliki oleh masyarakat tradisonal yang hidup di pedesaan dan agamawan yang lebih bercorak tasawuf.

Kesadaran Naif. Pandangan kesadaran naïf merupakan perkembangan dari kesadaran magis. Pada taraf kesadaran ini diarahkan pada individu, tidak mengarah pada hal yang metafisika dalam menganalisis sebuah persolan. Kesadaran naïf tidak dapat melihat suatu permasalahan secara makro, sehingga idak dapat mengurai sebab-sebab dan keterkaitan antara satu permasalahan yang satu dengan yang lain. Misalkan pada taraf kesadaran naïf ketika dihadapkan dengan fenomena globalisasi dan kemiskinan, maka menurutnya merupakan kesalahn yang terjadi pada mereka dikarenakan dari sikap mental, budaya atapun teologi mereka. Menilai kemiskinan tidak memiliki korelasi atau keterkaitan dengan masalah globalisasi ataupun paham neoliberalisme. Dalam rangka agar tidak menyebabkan kemiskinan maka yang dilakukan dengan menyiapkan SDM yang mampu bersaing dengan pasar, dan penafsiran pemahaman kegamaan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kesadaran ini biasanya dimiliki oleh kalangan modernis yang dalam karakter pemikirannya dalam ilmu sosial lebih bercorak developmentalism. Bagi kaum ini dalam memandang kemiskinan dan proses marginalisasi akibat globalsiasi dan neoliberalisme lebih menyalahkan korbannya. Kesadaran ini yang dikatakan oleh disebut dengan kesadaran intransitive naïf, kesadaran ini memiliki kerawanan, terhadap bahaya yang menurut Freire inheren dengan gerakan politis dan manipulatif. Kesadran ini hanya mencari solusi yang sederhana dan beranggapan bahwa mereka lebih dibandingkan dengan fakta dan sejarah keduanya mudah menerima mitos manipulatif yang dirumuskan golongan elit untuk mempertahankan penindasan. Kesadaran naïf manusia menyesuaikan dengan lingkungan atau dunianya (Denis Collins, Paulo Freire)

Kesadaran kritis yang dikembangkan melalui refleksi diri dikembangkan dalam modernitas mencapai kamatangannya dan terwujud dalam bentuk kehiduapan modern yang ditandai oleh gairah akumulasimodal secara rasional dan birokrasi rasional yang telah didukung oleh teknologi. Tetapi kapitalisme dan birokratisme dewasa ini justru menumpulkan kesadaran kritis, sehingga individu dalam masyarakat modern lebih bersifat konsumeris dan adaptif terhadap system. Maka refleksi tersebut mengandung paradoks, pada masa pencerahan refleksi diri menjadikan kesadaran bahwa tradisi dan dogma menindas kenyataan. Refleksi diri menghasilkan dimensi praksis lingkup kapitalisme, birokratisme dan teknokratisme menjadi tradisi dan dogmatisme. Rasionalitas dan moderniasasi yang kritis terhadap mitos-mitos, tetapi pada gilirannya ia malah menjadi “mitos baru” sehingga mereka malahan tidak dapat bersikap kritis lagi terhadap realitas sekarang yang dihadapi mereka. (Ibrahim Ali Fauzi, Jurgen Habermas)

Kesadaran Kritis. Selanjutnya adalah bentuk kesadaran kritis, pada taraf kesadaran ini, individu mampu melakukan analisis terhadap suatu permasalah yang terjadai secara holistis dan makro, sehingga dapat menguraikan sebab-akibat dari suatu permasalan. Penguraian tersebut ia dapat memandang kelompok mana yang diuntungkan serta kelompok mana yang dirugikan. Kesadaran kritis yang dimiliki oleh manusia ia dapat menganggap sebagai subjek, yang tidak hanya mencari solusi sederhana tetapi juga berisiko tidak memanusiakan dirinya. Kemampuan dalam kesadaran kritis sebagai subjek dapat paham dan analisis hubungan kausal manusia menemukan diri mereka berada dalam situasi. Kesadaran ini, muncul akibat suatu kombinasi dari refleksi dan tindakan praktis yang otentik. Kesadaran kritis ini mengarahkan manusia pada proses pembebasan manusia dari proses penindasan, sehingga menjadi manusia yang merdeka bebas ari penindasan. Kesadaran kritis ini bersifat trnasformatif dikarenakan ia berusaha untuk melakukan perubahan yang terjadi direalitas dan untuk merubah sejarah yang terjadi, bukannya sejalan dengan sejarah.

Kesadaran kritis yang dimiliki oleh individu dalam melihat permasalahan kemiskinan dan globalisasi maka memberikan pemahan yang berbeda dengan kedua sebelumnya yakni magis, dan naïf. Menurut kesadaran kritis yang menyebabkan kemiskinan disebabkan oleh ketidak adilan system, struktur ekonomi, politik dan kultur yang tidak adil. Ini merupakan proses panjang dalam penciptaan struktur ekonomi yang eksploitatif, politik dan adanya system dominan serta hegemoni. Globalisasi merupakan perpanjangan dari kapitalisme yang menjadi penyebab kemiskinan, memarginalkan dan mengalienasi masyarakat. Globalisasi merupakan ancama bagi kaum miskin dan globalisasi lebh memihak pada lembaga internasional untuk mengeruk modal berskala internasional, mengahancurkan lingkungan hidup, dan segenap social budaya setempat. Globalisasi juga merupakan suatu agenda uantuk memeskinkan secara structural. (Mansour Fakih, Islam sebagai Alternative). Dengan pembacaan yang diakukan oleh kesadaran kritis tersebut menjadikan, manusia tersebut membaca realitas makro dan dikontekskan pada sikap serta langkah yang kan diambil guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi selama ini. Kesadran ini akan membawa manusia pada penyelesaian agar tidak mengalami ketertindasan dan membuat struktur yang lebih adil dan upaya yang dilakukan dan difikirnya adalah bagaimana cara melkukan transformasi. Transformasi dalam kesadaran kritis ini mengarahkan bagaimana tercipta struktur dan system yang adil sehingga tidak adanya penindasan dan tercapainya masyarakat yang berkeadilan.

Kesadaran Profetik. Kesadaran profetik merupakan suatu kesadaran yang dimiliki oleh agama dalam rangka melakukan transformasi social pada satu tujuan tertentu berdasarkan etika tertentu pula. Sebagaimana kesadaran dalam Islam merupakan suatu bentuk kesadaran yang dimiliki manusia dari Tuhan untuk menentukan dan merubah sejarah, bukan manusia yang ditentukan oleh sejarah. Islam memandang kesadarannya merupakan kesadaran immaterial menentukan material, dengan maksud bahwa iman sebagai basis kesadaran menentukan struktur. Kesadaran dalam Islam merupakan bersifat independensi tidak pengaruhi oleh struktur, basis social, dan kondisi material. Yang menentuklan kesadaran bukanlah individu, seperti dalam kesadaran kritis, dimana menjadikan individu bersikap aktif dalam menentukan jalannya sejarah. Kesadaran kritis yang ditentukan oleh individu ini dapat terjatuh dalam pahan eksistensialisme dan iondividualism. Sedangkan kesadaran profetis, bahwa yang menentukan bentuk kesadaran merupakan Tuhan, dan ketentuan kesadaran ini untuk menebarkan asrma atau nama Tuhan didunia sehingga rahmat diperoleh manusia, dan bentuk kesadaran ini merupakan kesadaran Ilahiah untuk merubah sejarah. Kesadaran yang dimiliki oleh Islam merupakan kesadaran Ilahiah dan menjadi ruh untuk melakukan transformasi.

Pada taraf kesadaran ini manusia mampu menganalisa permasalahan secara makro dan dapat mengambil kesimpulan secara mikro atapun makro yang terjadi. Ia dapat melakukan pemetaan terhadap suatu permasalahan dan penganalisaan kelompok-kelonpok yang berkepentingan dan kelempok yang dirugikan serta kelompok yang diuntuingkan dalam permaslahan tersebut. Dengan melakukan pemetaan dan pengalisaan tersebut, juga ada etika yang mengarahkannya sehingga transformasi yang dilakukan berdasarkan etika tertentu sehingga perubahannya bukan saja membebaskan dari ketidak adilan tetapi juga ada yang mengarahkannya. Bentuk arahan dari transformasi yang diinginkan adalah tercitanya masyarakat yang berkeadilan tanpa penindasan didasarkan pada Tuhan. Kesadaran protetis ini merupakan suatu kesadaran yang dilakukan oleh manusia berdasarkan etika profetis dan memiliki peran untuk merubah atau menentukan jalannya sejarah.

Etika Profetis

Istilah moral dan etik memiliki hubungan yang erat dengan arti asalnya, moral berasal dari kata Latin moralis dan istilah ethic berasal dari kataYunani ethos. Kedunya berarti kebaikan atau cara hidup. Istilah tersebut terkadang dipakai sebagai sinomin, sekarang biasnya orang cenderung memakai “morality” untuk mennujukan tingkah laku itu sendiri. Sedangkan ethics menunjuk tentang penyelidikan tentang tingkah laku, kita berkata moral act dan ethical code. Dan istilah yang sering dipakai etika dan moral seperti benar dan baik. (Harold H. Titus, dkk, Persolan-Persolan Filsafat).

Etika pada umunya diidentikan dengan moral (moralitas), namun sama terkait dengan tindakan buruk dan baik pada manusia. Etika dan moral memiliki perbedaan pengertian, moral membicarakan tentang pengertian baik dan buruk, dari setiap perbuiatan mansuia itu sendiri, sedangkan etika merupakan ilmu yang mempelajari baik dan buruk itu sendiri. Etika berfungsi sebgai teori dari perbuatan baik dan buruk, sedangkan moral merupakan prakteknya. (Haidar Bagir, Etika “Barat” Etika Islam). Etika merupakan filsafat ajaran moral, etika tidak mau mengejar apa yang wajib dilakukan orang tetapi bagaimana pertanyaan itu dapat dijawab secara rasional, secara bertanggung jawab. Seorang ahli moral akan bersikap sebagai guru dan pendeta, yang akan didatangi orang dalam maslah hidup. Tetapi bagi ahli etika memiliki keahlian teoritis yang dapat dipelajari, tanpa memperdulikan kebutuhan moral yang mau belajar etika, etika merupakan menyampaikan kecakapan teoritis. (Franz Magnis Seseno, Berfilsafat dari Konteks). Etika merupakan sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran, etika merupkan pemikiran yang sistematistentang moralitas, dan etikia merupakan penyedia orientasi dalam menjalankan kehiduapan. (Franz Magnis Suseno, Etika Dasar). Etika berasal dari bahasa Yunani ethicos, ethos (adat, kebisaan praktek). Hal ini digunakan oleh Aristoteles istilah ini mencangkup ide “karakter” dan “disposisi” (kecondongan). (Loren Bagus, Kamus Filsafat).

Etika merupakan suatu cabang dari filsafat yang mencari hakekat nilai-nilai baik dan jahat yang berkaitan dengan perbuatandan tindakan seseorang, yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya. Etika juga disebut sebagai filsafat moral yang berusaha mendapatkan kesimpulan tentang norma tindakan dan perncarian kedalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Etika menganalisis konsep-konsep seperti keharusan, kemestian tugas, aturan-aturan moral, benar salah wajib tanggung jawab. Persolanm etika berkaitan dengan eksistensi manusia, dalam segala aspeknya baik individu atapun masyarakat, baik hubungan dengan Tuhan, dengan sesame mansuia dan dirinya, maupun alam sekitar, baik kaitannya dengan eksistensi manusia di bidang social, ekonomi, politik, budaya, maupun agama. Etika membicarakan tentang baik dan jahat bagi suatu tindakan, apakah sifat atau nilai-nilai itu relative atau absolute, berlaku local atau universal, adakah sanksi atas pelanggaran nilai-nilai etika dan apakah sumber nilai-nilai etika, dan bagaimana aplikasi dalam masyarakat. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam).

Etika dalam pengertiannya merupakan sebuah konsep tentang moral yang menjadi tindakan praktis manusia dalam menjalankan kehidupan. Etika dalam Islam harus mencangkup dari semua unsure sebagai berikut; (1) Islam berfihak pada teori etika yang bersifat fitri, (2) moralitas dalam Islam ditempatkan pada keadilan yakni menempatkan sesuatu pada proposisinya, (3) tindakan etis puncak mendatangkan kebahagiaan bagi pelakuya, (4) tindakan etis bersikap rasional. (Haidar Bagir, Etika “Barat” Etika Islam). Secara kata prophet yang berarti nabi, merupakan utusan Tuhan dalam menyampaikan risalah untuk mengajak manusia sesuai dengan fitrahnya. Jadi secara terminologi etika profetik merupakan suatu teori moral tentang nabi, atau etika yang didasarkan pada nabi. Nabi dalam memperoleh pengetahuan merupakan proses kreasi anabi dalam melakukan hubungan langsung dengan Pencipta dan hasil refleksi terhadap realitas social yang dihadapi pada waktu itu. Refleksi yang dilakukan oleh nabi memperoleh pemecahan masalah dari problem social yang dihadapinya. Etika profetis didasarkan pada wuhyu dari Tuhan bukan semata-mata dengan menggunakan rasional sehingga terjatuh dalam etika rasional semata, yang memunculkan etika hedonism, utilitarian, dan deontologist. Etika profetis juga bukan saja didasarkan pada wahyu tanpa menggunakan analisis dalam memandang kebenaran dan kebaikan, sehingga tak terjatuh pada etis dogmatis. Etis profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan pemberian kesadaran dari Tuhan untuk melakukan transfomasi social guna menciptakan masyarakat yang telah diidealkan. Etika profetis dalam pengertian ini merupakan suatu bentuk kesadaran yang didasarkan pada nilai-nilai Ilahiah, dalam rangka menjalankan proses kehidupan. Etika profetis yang diinterpretasi oleh ikatan merupakan derifasi dari surat al Imran ayat 110.

Etis profetis ikatan merupkan upaya ikatan dalam menjadikan orientasi dalam menjalankan proses kehidupan dan juga memiliki cita-cita kehiduapan yang akan datang, guna menciptakan yang lebih baik. etis profetis ikatan merupakan usaha aktif dalam merubah dan menentukan sejarah sehingga yang tumbuih merupakan sejarah kemanusiaan bukan ketidak adilan ataupun sejarah yang bersifat material (materialism histories). Derivasi dari surat ini, menjadikan suatu bentuk kesadaran yang dilakukan oleh ikatan, baik secara kolektif atapun secara individu sebagai ruh atau semangat dalam melakukan transformasi guna menciptakan khoirul ummah. Sikap dan kerja keras ikatan dalam menentukan sejarah ini merupakan suatau bentuk kesadaran sejarah ikatan. Etika profetis ikatan merupakan tiga ranah yang harus dilakukan sebagai proses tumbuhnya kesadaran profetis, sebagai interpretasi terhadap suarat al Imran ayat 110. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyeru kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Ikatan menginterpretasikan ayat tersebut menjadi etika profetis yang menjadi gerak dan langkah ikatan. Ada tiga aitem harus dipenuhi dalam memenuhi sebagai konsep etika profetis; (1) Konsep umat yang terbaik, (2) Pentingnya kesadaran dan kesadaran sejarah (3) Konsep profetis yakni; ta’muruna bil ma’ruf, tanhauna ‘anil munkar dan tu’minuna billah. Ketiga interpretasi ini merupakan suatu bentuk etika yang dimiliki oleh ikatan dalam rangka menjalankan proses kehidupan, baik dengan sesama manusia, dengan Tuhan sebagai pencipta, dengan alam, dan manusia sebagai pengganti Tuhan di dunia, dikarenakan dengan etika merupakan eksistensi manusia dapat dipenuhi. Etika dalam konsep merupakan suatu yang fundamental dikarenakan menjadi suatu dasar dalam bergerak, serta menjadi paradigma dan orientasi kehiduapan yang akan dilalui oleh manusia. Begitu juga, dengan etis profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan dasar dari yang dilakukan oleh kader ikatan atapun gerakan kolektif ikatan. Etika profetis yang dimiliki oleh ikatan merupakan bentuk kesadaran yang diberikan Tuhan dalam rangka aktivisme sejarah dan mengarahkan transformasi guna tercipta khoirul ummah, mengarahkan semakin dekatnya manusia sama Tuhan (sumber keabadian).

Konsep ummat yang terbaik. Ummat yang terbaik bukanlah semata-mata merupakan pemberian atau hadiah dari Tuhan, tetapi harus diraih dengan kerja keras yang dilakukan oleh manusia dalam rangka mewujudkannya. Konsep umat yang terbaik dari Islam berbeda dengan konsep yang telah dimiliki oleh umat Yudaisme, sebuiah mandate kosong yang menyebabkan rasialisme. Tetapi konsep umat yang terbaik bagi Islam merupakan tantangan dalam akivisme sejarah dan menciptakan suatu tanatan masyarakat yang diidealkan. Konsep umat terbaik merupakan proses (becoming) setiap individu atapun kader ikatan dalam rangka menciptakan suatu masyarakat yang telah diidealkan bersama. Konsep tananan yang diinginkan oleh ikatanini menjadikan ikatan secara kolektif da secara individu berusaha melakukan aktivisme sejarah, dan melakukan transformasi untuk mewujudkan masyarakat yang tercipta keadilan dan kedamaian dalam rangka menuju pada Tuhan. Ikatan dalam memahami ummat terbaik merupakan invidu atau kolektif yang melakukan aktivisme sejarah dalam hal transformasi guna menciptakan sesuatu yang telah diidealkan. Pemahaman ideal dalam ikatan merupakan jawaban ikatan terhadap permasalahan yang elah terjadai dan bagaiman ikatan menyelesaikan. Masyarakat yang telah diinginkan merupakan suatu konsep masyarakat yang didasarkan pada ilmu, terciptanya struktur yang adil, memihak kepada golongan lemah, dan menuju pada keabadian yakni Tuhan. Masyarakat tersebut merupakan becoming ikatan secara individu atapun kolektif ikatan dalam mewujudkannya. Konsep masyarakat yang dilakukan oleh aikatan menjadikan ikatan dalam gerak dan langkahnya merupakan perwujudan dari cita-cita kolektif bersama dalam menghadapi persolan yang terjadi selama ini.

Upaya perwujudan masyarakat yang diimpikan merupakan kerja keras ikatan dan individu kader yang dilakukan sesuai dengan basic keilmuan masing-masing kader. Kader yang berjuang secara individual dan kolektif ikatan berdasarkan etika profetik ini diharapakan dapat masuk kedalam berbagai ranah tetapi memiliki etika yang sama dan tujuan yang sama dalam mengupayakan suatu cita-cita yang mulia. Khoirul ummah merupakan sebuah konsep ikatan yang dalam bergeraknya berdasarkan kesadaran profetis terwujudnya tatanan ideal agar mendekatkan manusia dengan penciptanya. Pendektan manusia dengan Penciptanya ini menjadikan sikap aktivisme dalam rangka kerja praksis kemanusiaan. Dalam Khoirul ummah dimana terdapat system yang didasari dengan kesadaran hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Pencipta dan manusia debagai pengganti Pencita dalam rangka memakmurkan bumi sebagai sarana ibadah kepada-Nya. Sistem tersebut bergerak dengan adil dan membela orang yang lemah dan termarginalkan.

Pentingnya kesadaran dan kesadaran sejarah. Kesadaran merupakan konsep yang dimiliki oleh manusia dalam menghadapi realitas social yang terjadi di sekitarya. Kesadaran yang dilakukan oleh manusia merupakn gerak yang berkelanjutan dan kontinyuitas dalam rangka merespon realitas social. Kesadaran merupakan yang membedakan manusia dengan mahluk yang lain, dikarenakan dengan kesadaran yang dimiliki gerak yang dilakukan tanpa paksaan tetapi berdasarkan kemaunan dan keiinginannya. Menurut Marxisme bahwa yang mengerakkan kesadaran (kesadaran ditentukan oleh supra struktur), jadi dalam pandangan ini bentuk kesadaran manusia menurut Marxism bahwa supra struktur menentukan super struktur. Manusia bergerak dan melakukan apa saja dikarenakan struktur yang berada dalam luar diri manusia, dan berdasarkan rasa tetakan dari luar bukan dari dasar pikiran manusia. Bentuk kesadaran yang dimiliki oleh Marxisme ini menjadikan jalannya sejarah yang terjadi merupakan proses materialism. Marx juga mengakuai dalam tesisnya bahwa sejaran bergerak dikarenakan kebutuhan (materi) yang ada dalam diri manusia, sehingga lebih dikenal dengan materialisme dialektik atau materialisme histories.

Hal ini sangat lain halnya bila dibandingkan dengan konsep kesadaran yang dimiliki oleh Islam. Bahwa kesadaran dalam konsep Islam merupkan ketentuan dari Tuhan. Dari sini, bahwa super struktur (kesadaran) menentukan struktur, bentuk kesadaran yang telah dimiliki oleh ikatan ini, maka ia bersifat independent bukan didasarkan pada individu mapun struktur yang ada. Jika kesadaran ditentukan oleh individu maka yang terjadi proses individualism, eksistensilalism, liberalism, dan capitalism. Kesadaran yang diinginkan oleh Islam merupakan pemberian dari Tuhan yakni iman yang dapat membuat atau menentukan struktur social, budaya dan kondisi material yang terjadi dalam masyarakat. Kesadaran yang menentukan tuhan ini menjadikan bentuk kesadaran yang timbul merupkan kesadaran Ilahiah dan bagaimana nilai-nilai Ilahiah ini agar tertanam dalam bumi agar tercipta khoirul ummah. Kesadaran Ilahiah ini yang menjadi konsep kesadaran bagai ikatan baik secara individu atapun ikatan secara otomaticaly menghilangkan konsep kesadaran yang didasarkan pada individu dan juga bentuk kesadaran yang bercorak sekulerisme. Kesadaran ini bercorak intergralistik, dikarenakan manusia sebagai penerima bentuk keasadaran dari Tuhan dan dalam segala aktivitasnya akan diserahkan kembali kepada Tuhan. Kesadaran Ilahiah merupakan konsep ikatan menhadapi realitas social yang terjadi, dengan kesadaran ini, maka cara pandang ikatan berangkat dari teks ke konteks, bukanya dari konteks ke teks.

Kesadaran sejarah merupkan tindak lanjut dari konsep kesadaran Ilahiah, yang dalam praksisnya melakukan aktivisme sejarah. Kesadaran sejarah ini, dapat juga dilihat dari ajaran agama Islam bahwa Islam merupakan agama amal. Oleh karena itu, dalam ajarannya Islam melarang konsep tentanh wadat (tidak kawin), uzlah (mengasingkan diri), dan kerahiban. Bentuk-bentuk ajaran tersebut tidak diperkenankan dalam Islam dikarenakan tidak sesuai dengan fitrah yang telah dimiliki oleh manusia, untuk menentukan jalannya sejarah dan membuat sejarah yang lebih humanis. Kesadaran profetis dan diaktualisasikan dalam bentuk kesadaran sejarah ini merupakan upaya dalam mewujudkan khoirul ummah. Upaya perwujudan khoirul umah yang telah diidealkan oleh ikatan dengan melekukan aktivisme sejarah dan kerja keras ikatan baik secara kolektif ataupun secara individual. Bentuk kesadran sejarahpun dalam Islam dapat dilihat misalkan dalam doanya yang menginginkan kebahagian dalam dunia dan juga akherat. Kebahagian dalam Islam ini dalam dua dimensi dalam dunia dan dalam ukhrawi. Kebahagiaan dalam dunia diwujudkan dengan kesadaran sejarah upya mewujudkan khoirul ummah sebagai jalan mendekarkan manusia dengan Pencipta. Kesadaran sejarah yang dimiliki oleh ikatan menjadikan suatu bentuk yang aktif ikatan, dan segala yang dilakukan oleh ikatan merupakan sarana ibadah kepada Tuhan dengan mewujudkan impian yang telah dimiliki oleh ikatan. Kesadaran ini menjadikan ikatan dan individu melakukan transfoemasi dan perubahan agar realitas menuju atau mengarah kepada yang diimpikan dalam rangka ibadah kepada Tuhan.

Konsep profetis. Konsep profetis merupakan suatu penerjemahan dan pelaksanaan dari semunya dan tiga unsure ini, (1) ta’muruna bil ma’ruf, (2) tanhauna ‘anil munkar, (3) tu’minuna billah. Ketiga unsure ini diterjemahkan yang cukup kreatif oleh Kunto yakni menghasilkan Humanisasi, Liberasi dan Trasendensi. Unsure tersebut yang harus dimilki oleh ikatan dalam mengemban sebagai etika profetik untuk melakuikan transformasi profetik guna mewujudkan khoirul ummah. Etika profetis ikatan ini menjadi milik individu atapun kesadaran kolektif ikatan dalam rangka berjuang dalam atau aktivisme sejarah dimanapun tetapi kembali pada tujuan menciptakan khoirul ummah. Jika mau dilihat apa yang telah dilakukan oleh nabi dalam melakukan transformasi tidak dapat ditinggalkan dari ketiga liberasi, humanisasi dan juga trasendensi. Misalkan transformasi yang dilakukan oleh nabi Musa dalam membebaskan kaumnya yang dilakukannya merupakan proses, humanisasi, liberasi. Tetapi bukan hanya kedua konsep tersebut, tetapi konsep trasendensi dibawa sebagai ruh dalam kedua proses tersebut dan menjadikan arahan serta tujuan dari humansiasi dan liberasi yang dilakukan. Hal yang sama juga dilakukan oleh para nabi yang lain dan juga nabi Muhammad.

Humanisasi, humanisasi merupakan proses pemanusian manusia kembali. Humanisasi dalam Islam merupakan suatu kritik dari humanisme yang berada di barat yang menyebabkan perkembangan teknologi. Tetapi, dalam pelaksanaannya teknologi yang digunakan untuk memudahkan manusia, tetepi dalam pelaksanaannya malahan terjadinya dehumanisasi akibat dari kemajuan dan teknologi tersebut. Humanisme yang berlaku dibarat merupakan bentuk humanisme atrposentris. Humanisme ini dalam sejarahnya untuk memerdekakan manusia dari bentuk ketertindasan dan keterkunkungan, tetapi dari mengalami kebebasan manusia terjatuh pada dehumanisasi dalam masyarakat modern sekarang. Hal ini dapat dilihat dari kerangka berfikir yang materialistis dan bentuk berfikir pragmatis, manusia modern sekarang terjebak dalam satu dimensi, dan hilanglah salah satu dimensi yang ada pada manusia. Melihat kondisi realitas tersebut maka manusia modern jatuh pada tahapan keterhinaan yakni mengalami dehumanisasi. Maka, yang dilakukan dalam proses tersebut dengan mengembalikan posisi manusia dengan yang sebenar-benarnya yakni posisi yang mulia, sebagaimana dalam surat at-tin. Humansiasi yang sesuai dan untuk memacahkan persolan yang terjadi makabentuk humansime yang didasarkan pada gam atau konsep humanisme teoantroposentris. Humanisasi yang dinginkan dalam teo antroposentris merupakan mengembalikan manusia pada fitrahnya. Humanisme ini merupakan bentuk humanisme yang didasarkan pada ajaran agama dan mengembalikan posisi manusia yang sebenar-benarnya, sebagai mahluk Tuhan dan sebagai mahluk yang lain seperti mahluk social, atapun sebagai mahluk yang lain.

Liberasi, liberasi merupakan proses pembebasan dalam segala hal. Pembesan yang dimaksudkan disini merupakan pembebasan dari segala hal yang mengungkung kebebasan manusia dalam segala bentuknya baik materi atapun yang lain. Semangat pembebasan jika mau dilihat huga ada dalam pemaknaan syahadat. Syahadat disini mengandung dua macam pemebebasan yang tertera; pertama, pemebasan yang bersifat vertical kedua pembebasan yang bersifat horizontal. Pembebasan yang bersifat vertical ini merupakan pembebasan dari berbagai macam pemahaman ketuhanan menuju pada ketuhanan yang esa. Ketuhanan yang esa merupakan pemahaman tuhan yang independent. Pembebasan dari pemahan antriposentris tentang Tuhan sehingga menjadi pemahan Tuhan yang tertukung pada manusia. Kedua, bentuk pembebasan dalam perfektif horizontal. Pembebasan ini dapat dilihat dari latar belakang munculnya Islam merupakan pengktritisan dari segala macam bentuk penindasan yang terjadi pada waktu itu. Hal ini dapat dilihat dalam sejarahnya bahwa pemahanan jahiliah pada masa itu yang tak menghargai perempuan dengan datangnya Islam maka posisi perempuan mendapatkan kehormatan, dan berbagai jenis pembebasan yang lain. Semangat pembebasan yang dimiliki oleh Islam membawa pada proses terciptanya keadilan dan pemerataan. Islam datang untuk merubah struktur dan system yang menindas menjadi system yang berfihak kepada kemanusiaan dan keadilan. Semangat liberasi untuk konteks sekarang membebaskan semua bentuk system yang ada baik dalam system ekonomi. Pembebasan dalam system ekonomi terciptanya ekonomi yang memihak pada rakyat miskin bukan pada pemodal dan golongan tertentu dan tercipnya keadilan ekonomi. Selanjutnya pembebasan dalam system politik dengan terciptanya demokrasi yang melindungi kepentingan rakyat dan tatatanan kenegaraan yang adil guna membela orang yang termarginalkan dan orang miskin dalam proses kemanusiaan. Tujuan utama dari liberasi dalam hal ini merupakan terbentunya struktur dan system yang adil memihak kepada orang miskin dan kemanusiaan. Bentuk liberasi yang dilakukan dalam segala hal dan ranah dimana terjadinya penindasan dan ketidak adilan. Bentuk liberasi yang dilakukan bukan hanya pada sitem dan struktur yang tidak adil juga sebuah system teknologi yang angkuh, dengan melihat manusia menjadi reduksinistik.

Trasendensi, trasendensi merupakan ruh dalam melakukan humanisasi dan liberasi. Hal ini dengan trasendensi menjadikan proses humansiasi, liberasi tersebut memiliki tujuan dan arahan yang jelas yakni membawa pada terwujudnya khoirul ummah dalam rangka mendekatkan manusia dengan Tuhan yang abadi. Trasendensi merupakan semangat yang harus digunakan dalam bentuk transformasi yang dilakukan. Dengan transendensi maka ikatan baik secara individual dan secara kolektif dalam melakukan transformasi berjalan dengan sungguh-sungguh dan sebagai sarana ibadah kepada Tuhan, sehingga bentuk transformasi yang dilakukan ada yang mengarahkan dan memiliki tujuan yang jelas. Transformasi memiliki tujuan dan arahan yang jelas ini membawa ikatan melakukan kesadaran sejarah bagaimana menciptakan khoirul ummah tersebut. Dengan transendesi juga yang dilakukan menenamkan trasendental pada kebudayaan, dinama kebudayaan sekarang mengarah pada bentuk yang tidak sesuai dengan ajaran Islam seperti; hedonism, materialism, dan budaya dekaden. Dengan mngingatkan kembali pada dimensi transenden merupakan bagin dari fitrah kemanusiaan merupakan sarana merasakan kembali dunia sebagai rahmat Tuhan. hal ini menjadikan suasana ruang dan waktu manusia dapat bersentuhan langsung dengan Tuhan.

Etis profetis ikatan merupakan kesadaran profetis dalam rangka melakukan aktivisme sejarah guna menebarkan rahmat Tuhan, sehingga terbentuk khoirul ummah dan menjadikan manusia dapat merasakan lngsung kebesaran Tuhan. Etis ini merupakan yang menjiwai dalam setiap langkah dan gerak kader dalam menjalankan proses kehidupan sesuai dengan keahlian dan skillnya masing-masing, serta kesadaran kolektif ikatan. Kesadaran kolektif ikatan menjadikan ikatan yang berbeda dengan pergerakan yang lain. Perbedaan tersebut diklarenkan etika yang melandasi ikatan dalam melangkah guna menciptakan yang lebih baik dalam rangka mewujudkan khoirul ummah.


Etika yang mengarah pada keperluan untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya kesenangan pada manusia. Hedoism berasal dari kata Yunani “Hedona” yang berarati kelezatan. Aliran ini dinisbatkan pada Epicurus yang menyiarkan aliran kelezatan. Lihat Harold B. Titus, Persoalan-Persolan Filsafat. Lihat juga, Haidar Bagir, Etika “Barat”, Etika Islam.

Etika yang mengarahkan pada kesenangan atau kebahagian dihasilkan suatu etika baik adalah kebahagian bagi sebanyak orang, bukan kesenangan atau kebahagiaan individual, yang justru menimpa kesengsaraan orang lebih banyak. Etika ini merupakan tindak lanjut dari hedonism dan dipelopori oleh Jerey Bentham dan John Mill pada abad XIX. Cirri pemikiran aliran utilitarianism dasar moralitas merupakan manfaat dan kebahagian yang terbesar. Hal ini dikarenakan alam sebagai guru memberikan dua macam kebahagian dan kesakitan, dan manusia sebagai mahluk yang mencari keleztan dan menghindari kesakitan. Untuk lebih jelasnya baca, Harold B. Titus, Persoalan-Persolan Filsafat. Lihat juga, Haidar Bagir, Etika “Barat”, Etika Islam.

Deontologist berasal dari kata dheon yang berarti kewajiban. Bahwa yang menjadi sumber perbuatan etis merupakan kewajiban. Teori etis ini dikemukakan oleh Imanuel Kant. Etika bersifat fitri dan sumbernya tidak rasional dan teoritis, dan ia bukanlah urusan nalar murni. Jika manusia menggunakan akal dalam mengurusi etika maka baginya tidaklah sampai pada etika yang sesungguhnya. Dikarenakan terdapat perselisihan mengenai baik dan buruk, etika yang bersifat rasional bukalah etika dikarenakan terjebak dalam pertimbangan untung dan rugi. Perbuatan etis menguntungkan bagi pelakunya tetapi merugikan orang lain. Kant mengatakan bahwa etika merupakan urusan nalar praktis, artinya nilai-nilai moral tertanam dalam setiap manusia sebagai kewajiban, dikarenakan manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan diri dari perbuatannya, dan perbuatan etis berada dibalik nalar. Lihat M. Amin Abdullah, Antara al Ghazali dan Kant. Lihat Juga, Harold B. Titus, Persoalan-Persolan Filsafat

Etis domatis merupakan suatu etika yang disarkan pada dogma, dan penolakannya terhadap rasio yang nyaris total. Etika ini dikembang kan oleh al Ghazali, dimana lebih menekankan kehendak Allah, dari pada karsa manusia. Nilai ethis menjadi eksklusif bersumber darui Tuhan, dan kehendak dan kemampuan untuk bertindak etis sendiri. Ia menolak rasio sebagai pengarah dalam tindakan etis manusia, ia mengakui wahyu melalui intervensi yang ketat dalam syaikh atau pembimbing moral sebagai pengarah utama dalam pencapai keutamaan mistik. Dalam hal ini al Ghazali lebih memilih syaikh bukannya rasio dalam mencapai etika, sebagai pendamping wahyu dalam membimbing tindakan manusia. Lihat M. Amin Abdullah, Antara al Ghazali dan Kant.

Untuk lebih jelasnya baca Bab XI tentang Transformasi Profetik Guna Mewujudkan Khoirul Ummah.

Untuk lebih lengkapnya tentang ini maka baca bagian I tentang Filsafat Manusuia dan bagian Profil Kader Ikatan.

Perihal Muhammad Abdul Halim Sani
Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMP Muhammadiyah 1 Kota Depok Jawa Barat dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Email; sani_cilacap@yahoo.com. Terimakasih atas masukannya.

5 Responses to Pentingnya Kesadaran;Dari Kesadaran Kritis ke Kesadaran Profetis

  1. sciptoa mengatakan:

    salam kenal…boleh ngak tulisannya di copi???…

  2. deedee mengatakan:

    ni aq deedee.. sblumx c0yi cZ ni artikel aq c0py bwt analisis tugas mata kuliaHq……thx be4!!!

  3. ChRst mengatakan:

    Dear,
    bisa tanya lagi?
    Bagaimana hakikat dan ciri pelayanan yang profetis?

    thank

  4. Erma mengatakan:

    You know inside first few minutes if you are attracted to them or not.

    Famous cartoons were brought to life about the big screen.

    Kim Possible airs on Disney Channel.

  5. ima mengatakan:

    Bagus bngt..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: