Relitas Muhammadiyah; Bercermin Pada Pendiri Muhammadiyah

a. Pendahuluan

Sudah lama intelektual Islam Indonesia dibedakan secara dikotomis kedalam modernis dan tradisonalis, termasuk Muhammadiyah yang modernis dan NU yang tradisionalis. Para pemrhati social yang berbasik kampus atau yang berbasik keilmuan keagamaan dan tipologi ini masih sangat lazim diterima. Akibat dari dikotomi tersebut mereka berlomba-lomba membangun citra yang enak dipandang dan didengar oleh para peneliti yang pandai dalam menciptakan katagori. Berawal dari perebutan citra ini banyak oraganisasi Islam di Indonesia digiring ke dunia yang tidak nyata, terjebak kedalam duania yang serba semu dalam citra. Tetapi yang ironis pertarungan dan perbedaan yang selama ini terjadi tidak ditarik kepada asumsi bahwa perbedaan merupakan suatu yang semu belaka yang diciptakan orang lain dalam melihat realitas “diri” mereka. (Bahrus Surur Iyuk, Teologi Amal Saleh). Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.