Pembahasan tentang Ikatan

Tulisan ini berisi tentang ke-imman dan sikap ikatan terhadap realitas, jika ingin mengetahui lebih lanjut; http://www.scribd.com/doc/42752471/Kontektualisasi-Ideologi-Ikatan-Dalam-anhttp://www.scribd.com/doc/42756345/Mengenal-IPMhttp://www.scribd.com/doc/42751462/Mengenal-Dan-Mengkaji-SPI-Ikatanhttp://www.scribd.com/doc/42750171/Epistemologi-Islam

Diaspora; Praksis Gerakan Ikatan. (Sebuah Tawaran Aksiologis)

Kenalilah diri mu sendiri

maka kamu akan mengetahui

cara menyikapi realitas dengan bijak.(Penulis)

Diskusi tentang gerakan ikatan ke depan memang asyik, ditambah lagi dengan kondisi ikatan yang sekarang ”mati suri” dalam gerakanya. Gerakan ikatan yang ”mati suri” dikarenakan dua hal; yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan kondisi dalam diri ikatan yang memang sedang ”sakit”. Hal ini, terlihat dari pola fikir/paradigma para kader yang berada dalam ikatan yang lebih pragmatis dan berfikir jangka pendek. Sedangkan untuk faktor eksternalnya kondisi realitas ikatan yang sedang mengalami fase perubahan dan ketidak pastian dalam segala sesuatu; misalkan hukum, politik, budaya, dan sosial keagaman. Baca tulisan ini lebih lanjut

UPAYA MEWUJUDKAN KADER IKATAN; Profil Kader Ikatan

A. Landasan ilahiah

1. QS. Ali Imron: 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Tuhan” (QS. Al Imran:110)

Penciptaan manusia dimaksudkan untuk dapat menjadi khalifah yang dapat menjaga harmoni alam. Misi khalifah dalam kehidupan dunia salah satunya adalah untuk dapat menyuruh yang baik dan mencegah yang mungkar dalam rangka beriman kepada Allah sang Pencipta.

Pada awal penciptaan manusia, sempat terdapat keraguan diantara malaikat tentang eksistensi dari khalifah ini. Fenomena tersebut tertuang dalam Surat Ali Imron: 30 yang menyebutkan: “Mereka berkata berkata (para malaikat) apakah Engkau akan menciptakan di bumi orang yang senang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Allah menjawab sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang kamu tidak ketahui” pada ayat diatas keraguan itu langsung dijawab Allah dengan sifat Kemaha-tahuan dari keagungan-Nya dengan kalimat inni a’lamu ma laa ta’lamuun. Sehingga dapat dapat diambil kesimpulan bahwa kehadiran manusia sebagai khalifatullah fil ard adalah tanda dari Kemaha-tahuan dan Keagungan Allah SWT.

Kata Umat dari surat Ali Imron: 110 mengindikasiakan perlunya satu kelompok, perkumpulan atau organisasi yang mengemban misi kekhalifahan. Yang mana, kerja kolektif menjadi prioritas dalam mengemban misi tersebut untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam rangka beriman kepada Allah SWT. Sifat dari amar ma’ruf nahi munkar ini bersifat perennial untuk menjaga dinamisasi dalam cosmos. Sebab, tanpa adanya upaya tersebut kehidupan makhluk di dunia akan mengalami kehancuran.

Semangat surat Ali-Imron:110 tersebut menjadi landasan DPD IMM DIY untuk menggagas Grand Design Pengkaderan berbasis kenabian. Insya Allah, konsep ini akan dijadikan sebagai rujukan kader dalam melaksanakan setiap kegiatan pengkaderan di Yogyakarta. Dimana tujuannya diarahkan pada terbentuknya kader yang memiliki kompetensi sebagai khalifah Allah di bumi.

2. Surat Al Alaq:1-5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ  اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ  عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang paling pemurah, yang telah mengajarkan manusia dengan perantara kalam, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.” (QS. Al Alaq:1-5)

Surat Al Alaq merupakan 5 ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW dengan perintah untuk membaca. Membaca disini merupakan hal pertama yang dikenalkan Tuhan kepada manusia. Membaca dalam ayat tersebut memiliki arti yang luas. Disamping perintah untuk membaca ayat-ayat Qouliyah, membaca disitu juga dimaksudkan untuk mengamati ayat-ayat kauniyah yakni alam dan segala isinya. Dengan membaca tanda-tanda (Qur’an, alam dan manusia sendiri) diharapkan manusia dapat mengenal dan menghayati eksistensi Tuhannya.  Membaca merupakan sarana pembelajaran manusia untuk dapat mendalami kualitas dirinya sehingga ia dapat menjaga perannya sebagai khalifah di bumi. Anjuran membaca yang tertuang dalam kata iqro’ bersifat edukatif. Yang mana pendidikan menjadi anjuran utama dalam membentuk kesempurnaan diri. Adapun kalimat bis ismi robbikal lazii kholak menuai makna trasendensi yang menjadi penopang segala aktifitas makhluk.  Pendidikan dengan aktifitas membacanya merupakan hal penting bagi umat manusia dalam melakukan aktivisme sejarah. Nilai Trasendental dari ayat ini sekaligus menjadi potensi intelektual manusia.

3. Surat Al Ama’un: 1-7

أَرَءَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ  وَلاَيَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ  فَوَيْلُُ لِّلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَن صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ  الَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ  وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Artinya: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama, itulah orang-orang yang telah menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang yang sholat, nyaitu orang yang lalai dari sholatnya, orang yang telah berbuat riya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.” (QS. Al Maa’un:1-7)

Surat Al mau’un dalam pengurainnya merupakan semangat yang dibawa oleh agama Islam sebagai praksis sosial di tengah arus peradaban manusia. Dalam surat ini Allah menyebutkan secara spesifik salah satu ciri orang yang mendustakan agama. Yakni yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Dimana ayat itu mempertegas muatan sosial di dalam kandungan Islam.

Penyebutan kata sholat pada kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an selalu dilekatkan dengan kata aqoma atau qooma dalam berbagai berbentuknya yang berarti menegakkan, mendirikan, melaksanakan atau mengerjakan. Dalam surat al-Maa’uun ayat 4 kata sholat tidak dikaitkan dengan kata tersebut, apakah dalam ayat atau pun dalam surat al-Maa’uun secara keseluruhan. Menurut beberapa ahli tafsir ada maksud tertentu kenapa kata sholat tidak bertemu kata dengan aqoma atau qooma pada ayat tersebut. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah mengatakan; dikaitkannya kata qooma dengan sholat dalam beberapa ayat al-Qur’an menunjukkan pada makna sholat secara kuantitatif yakni sebagai ritual agama. Sedangkan kata sholat dalam surat al-Maa’uun mengindikasikan pada arti sholat secara kualitatif.

Maksud dari arti sholat secara kualitatif adalah fungsi sholat sebagai transformasi sosial. Dimana sifat sholat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar harus benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sehingga setiap upaya kejahatan sistematis yang menindas kaum mustadh’afiin dapat terelakkan. Hal ini yang menjadikan transendensi sebagai bagian yang menjiwai humanisasi dan liberasi. Kesadaran yang dibangun dalam ayat ini adalah teologi sebagai praksis sosial dalam melakukan transformasi peradaban umat.

Surat ini jugalah menjadi pedoman KH. Ahmad Dahlan dengan lembaga yang didirikannya Muhammadiyah. Ada kisah menarik ketika sang kyai mengajarkan surat ini. Ceritanya beliau mengajarkan surat ini berulang-ulang kepada muridnya. Suatu saat muridnya menanyakan; “kenapa setiap hari kami belajar surat ini saja sedangkan masih banyak surat yang lain? Ia menjawab, tujuan surat ini adalah amal, maka sebelum mengamalkan apa yang diperintahkan oleh surat, selama itu beliau tidak akan berhenti mengajarkannya.” Baca tulisan ini lebih lanjut

MENGGALI MAKNA IKATAN; Interpretasi Terhadap Simbol IMM

Sebagaimana tercantumkan dalam tujuan IMM yang sesuai dengan AD IMM dalam bab II pasal 6 adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Dari sini merupakan cita-cita dari personal kader yang menjadikan spirit dalam diri untuk berproses dalam menjalankan kehidupan. Dalam proses terbentukya akademisi Islam merupakan tujuan dari organisatoris dan mengapa IMM ini didirikan. Yang paling penting IMM adalah merupakan salah satu ortom dari Muhammadiyah dimana terbentuknya IMM merupakan salah satu usaha untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan merupakan pionir dari Muhammadiyah hal tersebut dikarenakan sudah jelas dalam tujuan Ikatan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan merupakan harapan bagi Muhammadiyah dalam dataran sebagai kader Muhammadiyah cendikiawan Islam yang berakhlak mulia dan secara organisatoris Ikatan bergerak dalam dataran keilmuan. Ikatan memiliki tugas yang berat disini menjadikan ikatan sebagai proses dan eksperimen menuju masyarakat ilmu sebagai mana dikatakan oleh Kuntowijoyo sebagai masayarakat Ilmu. Masyarakat ilmu ini menjadikan bersifat ilmiah, rasional dan melakukan praxis kemanusiaan. Masyarakat ilmu yang menjadi tugas dari ikatan merupakan kewajiban dari ikatan untuk memilih yang menjadi gerakan adalah basic keilmuan atau bergerak dalam nalar ilmu bukan dalam nalar politis Gerakan ikatan dalam bidang ilmu ini yang membedakan ikatan dengan organ pergerakan yang lain serta ortom yang berada di lingkungan Muhammadiyah. Latar belakang gerakan ikatan dalam ilmu menjadikan pilihan sadar dimana melihat basic dari kader bergerak dalam dataran akademisi yang terbiasa dengan logika ilmiah bukannya emosional. Gerakan ilmu yang dimiliki oleh ikatan ini menjadikan tradisi serta etos dari suatu komunitas yang membedakan dengan organ yang lain. Lontaran tersebut merupakan interpretasi yang singkat dari tujuan mengapa IMM didirikan dengan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia. Baca tulisan ini lebih lanjut

Filsafat Pergerakan; Upaya Mewujudkan Sosiologi Gerakan dalam Praksis Kemanusiaan

Pendahuluan.

Kebenaran merupakan suatu yang diperlukan oleh manusia dalam justifikasi terhadap apa yang dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Kebenaran yang dinginkan oleh mansuia merupakan sutau respon terhadap realitas sekitar dan itu diterima oleh masyarakat, sesuai dengan norma yang ada maka itu dapat dikatan sebagai suatu kebenaran. Kebenaran merupakan suatu yang penting dikarenakan manusia selalu mengejar dan memburu kebneran agar mendapatkan suatu makna dalam kehidupan. Manusia dalam memahami kebenaran terletak pada kerangka berfikir yang ia gunakan dalam menghadapi sesuatu. Kebenaran yang diakui oleh manusia akan ia pertahankan sampai kapanpun. Sifat dari kebanaran dalam manusia terkadang menjadi ideology dan susah menerima yang lain dikarenakan pengetauannya benar sedangkan yang lain salah. Pengungkapan kebenaran merupakan suatu persolan yang sudah alam dibahan dalam kajian filsafat dan merupakan suatu substansi daari filsafat dikarenakan dalam filsafat yang berbicara tentang hikmah atau kebijaksanaan merupakan penggalian terhadap suatu persolan sampai akar-akarnya. Pengalian samapai dengan radik dikarenakan kita dapat memahami tentang hakekat sesuatu dan lebih dalam dan melihat farina yang lain. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.