Menguak Pemikiran Hasan Hanafi

“Tiada yang abadi dalam penafsiran kehendak Tuhan

sedangkan yang abadi adalah kebenaran yang tercecer di bumi Tuhan”.

Pendahuluan

Hasan Hanafi bukanlah nama yang asing di telingan akademis masyarakat Indonesia, terutama yang genar membaca karya tentang kebangkitan Islam. Dalam pemikirannya ia dapat disejajarkan dengan tokoh pemikir Islam yang lain seperti Fazlur Rahaman, Mohammad Arkoun, Ali Syariati, M. Sahrur, Ismail Raji Al Faruqi, Sayyed Hossein Nasr, Salman Rushdie, Ali Asghar E. dan lain-lain. Hasan Hanafi merupakan tokoh yang berbeda dengan pemikiran Islam yang lain pemikirannya lebih mengedepankan al turats wa tajdid (tradisi dan pembaharuan). Dalam golongan intelektual Hasan Hanafi dikategorikan sebagai sosok intelektual yang bersifat kritis. Dalam kebangkitan Islam bagi Hasan Hanafi adalah kebangkitan rasionalisme dan menghidupkan kembali khasanah klasik, melakukan wacana perlawanan terhadap kebudayaan barat dan menganalisis realitis dunia Islam. Hasan Hanafi dalam forum internasional juga dikenal dengan “Kiri Islam”.

Dalam membaca pemikiran Hasan Hanafi yang terasa adalah adanya gugatan terhadap tradisi lama Islam. Gugatan tersebut bukan hanya terhadap tradisi paradigma klasik dalam ushuluddin tetapi juga terhadap terdisi dan konvensi teknis dikalangan muttakalimun dalam pembahan ilmu ini. Bahwa menurut Hasan Hanafi bhawa ulma klasik dalam mukadimahnya telah memperlihatkan pembahasan keimanan pada pendahuluan hingga seakan-akan merupakan kesimpulan. Sedangkan pembahasan siantara mukadimah dan kesimpulan merupakan sesuatu yang tidak berarti. Sebernya ungkapan muatan keimanan sering mengabaikan argumentasi, menghancurkan dalil-dalil, menyoiakan keilmuan, lebih, lebih jika keiman jika hendak tidak diterapkan. Keimanan kami adalah tradisi dan modernisasi dan pemecahan terhadap krisis modernitas yuang menengik warisan Islam klasik, serta mencari kemungkinan untuk merekontruksi bangunan warisan intelektual klasik guna memberukan sesuatu yang baru bagi zaman modern untuk mencapai kemajuan.

Riwayat Singkat Hasan Hanafi

Hasan Hanafi adalah seorang pemikir hukum Islam dan profesor filsafat terkemuka di Mesir. Ia dilahirkan di Kairo tanggal 13 Februari 1956, sepuluh tahun kemudian ia telah mengantongi gelar doktor dari la sorbonne salah satu universitas terkemuka di Prancis.selama rentang studi di negeri yang multi etnis tersebut, ia mengajar bahsa arab di ecole des langues orientiales di Paris. Setelah menamatkan studinya ia kembali ke Mesir Universitas Kairo untuk mengabdi di almamaternya memberikan mata kuliah pemikiran kristen abad pertengahan dan filsafat Islam. Reputasi internasional diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi asing dan mendapatkan jabatan guru besar luar biasa (visting profesor). Ia juga mengajar pada berbagai perguruan tinggi asing seperti Belgia 1970, Amerika Serikat 197—1975,Kuwait 1979, Maroko 1982-1984, Jepang 1984-1985 dan menjadi penasehat pengajaran universitas PBB di Tokyo.

Dari kapasitasnya sebagai konsultan dan guru besar ini, ia berusaha mengamati secara langsung berbagai kontradiksi dan penderiataan yang terjadi di banyak belahana dunia. Persentuhannya dengan agama revolusioner Amerika Serikat dan teologi pembebasan di Amerika Latin mengantarkan Hasan Hanafi pada kesimpulan bahwa berteologi sudah sesaatnya dan seyogyanya menjadi refleksi kemanusian tentang kondisi, sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Rekontruksi teologi lebih lanjut berfungsi untuk mentranformasikan kehidupan manusia, pandangan dunia dan cara hidupnya sehingga perubahan sosial, politik dan terjadi restrukturisasi tauhid.

Sebagaimana dalam autubiografinya Hasan Hanafi banyak peristiwa dan pengalaman pribadinya yang telah membangkitkan kesadarannya tentang pentingnya teologi tanah, sebuh teologi yang ia imajinasikan dengan nasionalisme, kekuatan pembebasab dari kolonial bahkan ketika ia masih duduk dibangku sekolah menengah. Ketika usia dua puluh satu tahun ia melanjutkan pendidikan di universitas sorbone dengan mengambiul spesialisasi filsafat modern barat dan pra modern. Persentuhannya dengan berbagai pemikiran ia berusaha merumuskan sebuah proyek pembaharuan menyeluruh terhadap pemikiran Islam yang kemudian ia tuangkan dalam proposal doktoralnya dengan judul al Manahij al islami al amm. Rencana Hasan Hanafi untuk meletakkan Islam sebagi teori koperhesip atau semacam proyek peradaban bagiu tranformasi kehidupan individu dan masyarakat muslim.

Sekilas Pemikiran Hasan Hanafi

Sebagaimana dalam bukunya yang telah diterbitkan oleh paramadina Oksidentalisme; Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat yang dalam judul aslinya Muqadimah Fi Ilm Al Istighrab. Dalam karya tersebut ia mgajak kepada pembacanya berjihad melawan barat, tepatnya berteologi untu kepentingan pembebasan. Jika dilihat dari sprektur teoritis-filosofis watak pemikiran Hasan Hanafi kiri revolusioner. Sebagai seorang yang memiliki sense of reality yang kuat, Hasan Hanafi memiliki pandangan sangat empiris atau membumi. Sebagai muslim yang reformer ia sebagai pengusung kebudayaan yang kritis terhadap Islam dan pemikir peradaban Islam. Strategi kebudayaan sebagai upya sadar manusia mentrasendesikan kesulitan, rintangan, bahkan persoalan-persolan kekinian dan kedisinian.

Hasan Hanafi memiliki concern yang begitu besar terhadap persolan-persoalan riil umat Islam, seperti ketidak adilan, penindasan, penjajahan. Pemikiran tersebut merupakan sejalan dengan sahabatnya Ali Syariati salah satu ideolog Iran yang sama kuliah di Sorbone. Hasan Hanafi dalam strategi kebudayaan yang bersifat koprehensip yang dikenal dengan proyek tradisi dan modernisasi. Dalam proyek tersebut ia mengagendakan tiga agenda utama sikap kita terhdap tradisi, sikap kita terhadap tradisi barat, dan sikap kita terhadap realitas. Ketiga agenda tersebut merupakan dialektika ego dengan dirinya, nyakni warisan masa lalu, dan dialektika dengan orang lain, dalam sebuah medium waktu tertentu nyaitu dialektika dengan kekinian.ketiga agenda tersebut oleh Hasan Hanafi sebagai tindakan yang bukan sekedar intellektual exercises, tetapi memang ditunjukan sebagai perubahan nyata dalam dunia Islam.

Dalam agenda yang pertama Hasan Hanafi telah menerbitkan sebuah karya monumental dengan judul Min al Aqidah  ila ats-tsawrah. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh paramadina dengan judul Dari Akidah Menuju Revolusi, setelah karyanya yang kedua Oksidentalisme; Sikap kita terhadap Tradisi Barat. Dalam karya tersebut Hasan Hanafi telah menggambarkan tentang pentingnya kesadaran wahyu tentang manusia dan sejarah yang sebanarnya sangat kuat dengan teologi Islam klasik, namun seringkali tersembuyi atau sengaja disembunyikan dibalik citraan tentang Tuhan. Teologi Islam lebih mengatakan keserba sempurnaan Tuhan ketimbang makna manusia dari tema-tema dalam sejarah. Hasan Hanafi mentranformasikan dogma-dogma teologis menjadi ideologi revolusioner dalam Islam.

Sedangkan dalam agenda kedua menjadikan Oksidentalisme menjadi suatu disiplin keilmuan yang sama sekali baru dalam pemikiran Islam. Ia menyebutkan kajian tersebut sebagai kritik terhadap penggambaran dan pembentukan struktur kesadaran barat. Semacam dekontruksi barat dengan menggunakan kacamata Islam. Tujuan agenda adalah mengakhiri invansi kebudayaan barat terhadap umat Islam dengan mengembalikan mereka kebatas-batas kulturalnya. Sebagaimana dalam kultur umat Islam yang memiliki ketergantungan terhadap bangsa barat, yang menyebabkan pengabaian terhadap tradisinya yang sangat kaya.

Gambaran agenda pertama dan kedua merupakan dengan jelas menunjukan orisinalitas pemikirannya sebagai sebuah strategi kultural bagi kehidupan umat Islam. Hasan Hanafi selain melakukan dekontruksi, ia juga melakukan rekontruksi sekaligus menyajikan kritik terhadap realitas Islam melalui teologi pembebasan yang berwatak tranfoiramatif. Sebagai pertanyaan bagaimanakah sikap hasan Hasan Hanafi terhadap realitas yang berisi metodologi penafsiran dengan bebrbasis kerkaitan teks dengan realitas.

Gambaran

Proyek pembaharuan umat Islam (“tradisi dan modernisasi”).

Tradisi

Ego

Barat                Realitas

Metodologi Tafsir Hasan Hanafi

Hasan Hanafi membangun landasan pemikiran hermenetisnya diatas emapat pilar; dari khasanah klasik ia memimilih ushul al fiqh, sementara fenomenaologi, marxisme, disampaing hermeneutika itu sendiri, dari tradisi intelektual barat. Hal ini merupakan ancangan baru mayoritas penafsir dan metode tafsir Al quran saat ini kmasih terbatas dengan menggunakan pendekatan filologi, hukum periwayatan atau laporan sejarah, teologi, filsafat, kajian mistik, jastifikasi penemuan sains, kajian sosio-politik, hingga oendekatan estetis pada al quran. Pada khazanah klasil ia memilih ushul al fiqh secara paraktis ia melihat ada keterkaitan yang erat antara kegiatan penafsir, dengan proses pembentukan hukum. Hal tersebut dikarenakan merumuskan hukum dalam rangka melihat realitas sosial yang memiliki permasalahan sangat komplek dalam dunia muslim.

Hermeneutik Hasan Hanafi juga sangat dipengaruhi oleh hermeneutika Hans Georg Gadamer. Dengan salah satau pendektan ini berkaitannya penafsiran teks terletak pada anggapan penafsir tidak bisa lepas dari subjektifitas penafsir yang kemudian disebut sebagai pra faham.  Kegiatan penafsir senantiasa melibatkan pandangan tertentu penafsir terhadap objek yang ia tafsir. Oleh karena itu proses penafsiran bersifat equivalen dan berusaha mencari makna baru sehingga penafsiran bersikap kreatif.

Ia melibatkan pendekatan fenomenologi terutama keterkaitannya dengan kritik eidentik atau usaha trasendensi, dengan mengupayakan penafsiran atas dasar pengalaman eksperimental penafsir. Fenomenologi yang ia maksudkan adalah sebagi ilmu yang rigorus metode apodiktif yang didalamnya diizinkan adanya keraguan  dan absolut. Dengan pandangan semacam ini ia menggambarkan pengetahuan yang diperoleh tidak boleh berasal dari keragu-raguan akan tetapi harus dibangun berdasarkan kesadaran akan realitas benda-benda sebagaimana adanya. Satu-satunya pengetahuan yang sah adalah melalui medium intuisi langsung tanpa perantara apa pun. Hal tersebut menajdikan kesadaran yang terarah pada sesuatu “kesadaran akan”, dalam fenomenologi kesadaran tersebut dikatakan dengan kesadaran “intensionalisme”.

Sedangkan pemikiran yang lain yang sangat mempengaruhi hermeneutik Hasan Hanafi yang bercorak sosial disebut Marxisme. Tanpa marxisme Hasan Hanafi juga revolusioner dikarenakan terpengaruh oleh Jamaliddin Al Afghani dan Sayyed Qutb, tetapi pengalaman berkenalan dengan Marx dan teologi pembebasan ini menjadikan bercorak kiri dan membantu secara metodologis dalam menganalisa berbagai kontradiksi dalam realitas umat Islam saat ini. Hasan Hanafi banyak meminjam instrumen dalam marxisme, terutama metode dialektika, dalam meminjam kritik terhadap realitas dan pengujian teks pada realitas. Hasan Hanafi memiliki kecurigan terhadap hermeneutuka objektif yang dibelakangnya mungkin ada kepentinmgan kelas tertentu. Teks dan penafsir juga dilahat dengan menggunakan struktur ganda sebagaimana dalam struktur kelas marxism. Hal tersebut yang menjadikan hermeneutik tidak hanya sekedar teori saja, tetapi sebagai kontium atas kritik sejarah, penafsiran hingga praksis, merupakan elaborasi pemikiran marxism terhadap al quran yang menjadikan hermeneutika al quran bersifat pembebasan. Hermeneutika Hasan Hanafi merupakan proses pergulatan perjalanan intelektualnya dalam wilayah pemikiran dan sosialnya.

Daftar Bacaan

Ilham B.Saenong, Hermeneutika Pembebasan,

Hasan Hanafi, Oksidentalisme

Hasan Hanafi, Dari Aqidah ke Revolusi

About these ads

Perihal Muhammad Abdul Halim Sani
Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMP Muhammadiyah 1 Kota Depok Jawa Barat dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Email; sani_cilacap@yahoo.com. Terimakasih atas masukannya.

7 Responses to Menguak Pemikiran Hasan Hanafi

  1. macky muda mengatakan:

    makasihhhhhhhhhhhhhhh ya

  2. macky muda mengatakan:

    makasihhhhhhhhhhhhhhh ya selalu

  3. Ping-balik: DINAMIKA DAN ARAH PERGESERAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM (Upaya Tinjauan Filosofis terhadap Pemikiran Hassan Hanafi dan Implikasinya untuk Pendidikan Islami) « SANG PEMBAHARU

  4. nita mengatakan:

    makasih atas tulisan anda , bisa membantu saya

  5. aradan mengatakan:

    Berdoa dengan ikhlas..Aminn

  6. agie gimafara mengatakan:

    study hermeneutik inklusif hasan hanafi ada g?

  7. latief mengatakan:

    data yang ada saya gunakan ya !!
    terimakasih . . .

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: