Diaspora Praksis Gerakan Ikatan; Sebuah Tawaran Aksiologis .

14 02 2009

Kenalilah diri mu sendiri

maka kamu akan mengetahui

cara menyikapi realitas dengan bijak.(Penulis)

Diskusi tentang gerakan ikatan ke depan memang asyik, ditambah lagi dengan kondisi ikatan yang sekarang ”mati suri” dalam gerakanya. Gerakan ikatan yang ”mati suri” dikarenakan dua hal; yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan kondisi dalam diri ikatan yang memang sedang ”sakit”. Hal ini, terlihat dari pola fikir/paradigma para kader yang berada dalam ikatan yang lebih pragmatis dan berfikir jangka pendek. Sedangkan untuk faktor eksternalnya kondisi realitas ikatan yang sedang mengalami fase perubahan dan ketidak pastian dalam segala sesuatu; misalkan

hukum, politik, budaya, dan sosial keagaman.

Ontologi Ikatan

Sebelum membahas tentang tri identitas (doktrin) ikatan, ada pengetahuan juga yang penting untuk mengetahui siapakah ikatan itu?. Disini, ada fakta sosial yang berada dalam diri ikatan yang tidak dapat dielakan dan ditinggalkan oleh ikatan. Fakta sosial yang ada dalam ikatan adalah (a) Ikatan sebagai organisasi kader dan (b) ikatan sebagai organisasi pergerakan. Ikatan sebagai organisasi kader. Ikatan sebagai organisasi kader ini merupakan suatu keniscayaan dikarenakan ikatan masih menginduk pada Muhammadiyah dan sebagai ortom dibawah Muhammadiyah. Ortom tersebut tidak dapat dielakan, dikarenakan dalam namanya, ikatan mengikutkan Muhammadiyah, dengan mengikutkan kata Muhammadiyah ini, ikatan dalam gerakannya memiliki konsekuensi sendiri. Ikatan sebagai organisasi kader maka apa yang dilakukan oleh ikatan adalah sesuai dengan Muhammadiyah, sebagai pendinamis dan pengkontrol Muhammadiyah. Ikatan sebagai organisasi pergerakan. Ikatan sebagai organisasi pergerakan, hal ini yang dapat menyemakan ikatan dengan pergerakan yang lain seperti HMI, KAMMI, dan organiasi pergerakan mahasiswa yang lain. Organisasi pergerakan ini, merupakan basis massa real anggota ikatan yakni mahasiswa. Organisasi pergerakan, menjadikan ikatan bersentuhan dengan struktur negara. Ikatan bersentuhan dengan struktur kenegaraan menjadikan posisi apa yang dilakukan oleh ikatan. Posisi atau pilihan yang dilakukan oleh ikatan ini penting guna mewujudkan cita-cita ikatan. Persentuhan ikatan dengan struktur negara ini, yang menjadikan kader ikatan memiliki kencendrungan krangka fikir yang ’pragmatis dan praktis’ dalam menjalankan kebijakan organisasi Ikatan. Kerangka pikir tersebut yang menjadikan permasalahan ikatan hanya sebagai kehilangan ruh gerakannya dalam melakukan pemihakan terhadap persolan-persoalan kemanusiaan yang melanda dunia berkembang dan berbagai bangsa. Sekarang yang menjadi permasalahan kita bersama, sebagai kader ikatan adalah bagaimana cara mengembalikan ruh gerakan ikatan.

Epistemologi Ikatan

Ruh gerakan merupakan suatu Epistem dari apa yang dilakukan oleh ikatan. Ruh gerakan ikatan merupakan suatu potensi yang harus dikembangkan menjadi eksistensi ikatan guna mewujudkan apa yang dicitakan oleh Ikatan. Ruh gerakan ikatan dapat kita lihat dari tri identitas (doktrin) yakni; (1) tujuan ikatan, (2) tri kopetensi kader dan (3) semboyan ikatan. Tafsiran terhadap ketiga identitas ini cukup untuk mengetahui siapa ikatan dan apa yang dilakukan oleh ikatan sehingga ikatan sesuai dengan jati dirinya. Pengungkapan jati diri ikatan ini penting, dikarenakan banyaknya kader ikatan dalam geraknya ’kurang sesuai’ dengan apa yang telah dicita-citakan oleh ikatan.

Tujuan Ikatan. Jika dilihat dalam undang-undang ikatan yakni AD dan ART Ikatan, tujuan ikatan yakni terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia guna mencapai cita-cita Muhammadiyah. Melihat dari tujuan ikatan kita dapat meraba apa yang sebenarnya yang dicita-citakan oleh ikatan. Disini menggambarkan bahwa ikatan memiliki tujuan yang sinergis dengan muhammadiyah, maka apa yang dilakukan oleh ikatan guna mencapai apa yang telah dicita-citakan oleh Muhammadiyah. Sebelumnya ada syarat guna mencapai apa yang dicita-citakan bersama tadi, yaitu harus melihat kata sebelumnya. Kata tersebut menjadi penting, dikarenakan melihat oreintasi ikatan didirikan dan mau dibawa kemana. Kata terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia merupakan suatu gambaran seorang kader ikatan dalam mengaktualisasikan dirinya pada masyarakat atau yang lain. Kader disini memiliki pola fikir atau krangka ananalisis yang rasional, ilmiah, memiliki keshalehan sosial dan individual. Kata akademisi Islam yang berakhlak mulia merupakan suatu kata yang integral tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain dikarenakan kalau dipaksa dipisahkan akan menghasilkan makna yang berbeda sehingga menjadi kabur dan kurang jelas.

Tri Kompetensi Kader. Tri Kompetensi kader merupakan terjemahan dari trilogi ikatan, dan trilogi tersebut juga merupakan suatu rangkuman dari deklarasi kota barat. Untuk lebih jelasnya kita lihat isi deklarasi kota barat.

DEKLARASI SOLO

  1. IMM, adalah gerakan mahasiswa Islam;
  2. Kepribadian Muhammadiyah, adalah landasan perjuangan IMM;
  3. Fungsi IMM, adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (stabilisator dan dinamisator);
  4. Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM;
  5. IMM, adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku;
  6. Amal IMM, dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.


KOTA BARAT-SOLO, 5 MEI 1965
MUSYAWARAH NASIONAL (MUKTAMAR)

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH.

Dari deklarasi kota barat ini paling tidak adanya pesan yang ingin disampaikan guna memberikan warna yang baik pada ikatan. Dokumentasi ikatan dalam deklarasi ini, ikatan sudah merumuskan falsafah pergerakannya yang di kenal dengan ”the theology of hope” . Menurut theology ini, tugas yang dilakukan oleh ikatan adalah kerja-kerja kemanusiaan dan melaksanakan keadilan guna menciptakan masyarakat yang diidealkan oleh ikatan. Pada bidang politik ikatan juga sudah dapat merumuskan bagaimana hubungannya dengan partai dan kekuasaan.

Ikatan untuk mewujudkan eksistensinya, maka deklarasi kota barat merupakan hal dalam gerakan yang dilakukan oleh ikatan yakni kemanusian dan keadilan. Maka tugas yang dilakukan dalam tiga ranah yakni kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan. Ketiga bidang ini, kemudian diinternalisasikan pada kader dengan trilogi ikatan. Trilogi merupakan garapan/tugas ikatan terhadap bidang itu, dan tidak boleh memilih salah satu guna mewujudkan identitas ikatan yang berbeda dengan yang lain. Deklarasi kota barat juga mencirikan bahwa gerakan yang dilakukan oleh ikatan merupakan gerakan Islam dikarenakan berdasarkan nilai-nilai agama dalam praksis kemanusiaan.

Trilogi ikatan merupakan pengejawantahan nilai-nilai ikatan guna ditransformasikan pada masyarakat dalam paradigma ikatan. Terbentuknya trilogi ini sudah mengalami refleksi yang panjang dan lama sehingga dikenal sampai sekarang. Trilogi ikatan yang kita kenal merupakan suatu bentuk atau lahan perjuangan ikatan dalam segala ranah. Tetapi ada persoalan yang penting dalam trilogi ikatan selain menjadi ruang gerak ikatan dalam melakukan perubahan yakni menjadi paradigma gerakan. Trilogi merupakan doktrin yang sudah terinternalisasi untuk itu, agar menjadi paradigma gerakan paling tidak kita melakukan penafsiran yang kontektual terhadap trilogi agar dapat menjawab persolan global ini.

Tafsiran terhadap trilogi ikatan yang dikenal oleh teman-teman kader ikatan dengan sebagai trikompetensi ikatan. Tafsiran terhadap trilogi ikatan sebagai berikut;

¨ Kemahasiswaan menjadi Intelektualitas

¨ Keagamaan menjadi Religiusitas, Transendensi

¨ Kemasyarkatan menjadi Humanisasi, Liberasi

Kemahasiswaan. Mahasiswa merupakan massa yang real dalam ikatan dan merupakan jati diri ikatan sebagai organisasi pergerakan dalam mengontrol jalannya pemerintahan agar kebijakannya populis. Mahasiswa juga merupakan pelajar yang terdidik dalam dunia akademisi, sebagaimana dalam dunia akademisi apa yang dilakukan rasional dan ilmiah dalam menyikapi suatu realitas sosial. Kita juga dapat melihat dari Deklarasi Kota Barat dapat mengembil apa yang dilakukan yang salah satu pointnya ilmu ilmiah dan amal ilmiah apa yang dilakukan oleh ikatan. Dengan semangat kota barat ini apa yang dilakukan oleh ikatan merupakan selaras dengan dunia kemahasiswaan oleh karena itu, kemahasiswaan dapat ditafsirkan dengan intelektualitas. Intektualitas yang dimiliki oleh ikatan bukan hanya intelektual saja, tetapi intelektual yang bersendikan pada nilai-nilai ikatan. Sifat intelektual ikatan yang jelas berbeda dengan intelektual organik miliknya Antonio Gramsi yang dipopulerkan oleh Mansour Fakih atapun intektual tradisonal.

Keagamaan. Keagamaan merupakan hal yang terpenting dalam ikatan dikarenakan ikatan sebagai organisasi otonom dari Muhammadiyah yang mengupayakan terbentuknya Islam yang bermanfaat bagi manusia dan alam. Keagamaan yang dimiliki oleh ikatan merupakan ruh gerakan dan sumber inspirasi dalam gerakan sosial serta tujuan dari gerakan sosial yang dilakukan oleh ikatan. Keagamaan memiliki fungsi dalam ikatan sebagai arahan, cara dan penguatan gerakan dalam melakukan transformasi sosial. Keagamaan dalam perfektif ikatan dapat membentuk gerakan yang religius dalam beragama dan pemikiran yang transenden. Pemikiran dan gerakan transenden merupakan pemikiran dan gerakan yang dapat melampaui masanya sebagaimana yang terjadi pada era Muhammad saw (Kontowijoyo, Strukturalisme Trasendental). Gerakan yang religius dan transenden ini meruapakan ineraksi dengan nilai-nilai agama dalam praksis kemanusiaan serta alam. Keagamaan dalam ikatan menjadi ruh dalam kemasyarakatan dan kemahasiswaan, keagamaan dalam ikatan juga bersifat yang liberasi, humanisasi dan juga mencerdaskan.

Kemasyarakatan. Masyarakat merupakan suatu kumpulan person membentuk kelompok sosial yang beragam dalam suatu komunitas bersifat dinamis dan bergerak. Gerakan yang dilakukan oleh masyarakat sangatlah terpengaruh pada lingkungan sekitar atau sebagaian besar dari warganya, misalkan pada masyarakat petani maka dalam geraknya sesuai mekanisme alam yang tergantung pada musim. Masyarakat yang selama ini merupakan suatu subjek perubahan tetapi kurang dilibatkan dalam mengambil keputusan yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan. Masyarakat disisni ditempatkan pada objek perubahan bukan subjek perubahan. Oleh karena itu, kemasyarakatan dalam ikatan menjadikan masyarakat sebagai pelaksana transformasi sosialnya. Kemasyarakatan sebagai person sebelum melakukan perubahan maka di perlukan adanya humanisasi dalam dirinya. Setelah menjadi kesadaran kolektif maka yang diperlukan adanya proses liberasi dalam segala macam ketertindasan. Ketertindasan yang terjadi dalam masyarakat seperti ketidakadilan dalam ranah hukum, gender, ekonomi, politik, alam dan yang lain.

Hal yang paling urgent dalam trilogi ini adalah merupakan suatu kesatuan integralitas yang harus dilaksanakan dan dimiliki oleh ikatan guna menciptakan transformasi yang dicita-citakan bersama. Trikompetensi ini harus tertanam dalam diri kader sehingga dapat menjadi paradigama serta gerakan yang diinginkan oleh ikatan. Sedangkan triloginya, merupakan lahan (garapan) ikatan dalam tiga tempat yakni dalam dunia kemasiswaan, kegamaan dan kemasyarakatan.

Semboyan Ikatan. Jargon dalam ikatan yang terkenal menjadi semboyan merupakan suatu simbol yang penting dalam penginternalisasian nilai-nilai ikatan. Simbol memiliki peranan yang penting dikarenakan dapat mengenali ikatan dengan yang lain. Simbol juga memberikan semangat dan ruh gerakan disaat sudah mulai lelah dalam melakukan transformasi. Melihat pentingnya semboyan yang menjadi simbol ikatan alangkah baiknya kita lihat semboyan yakni ”Unggul dalam Moral dan Unggul dalam Intelektual”. Semboyan tersebut cukup baik dan bagus tetapi jika mau dilihat lagi secara mendalam maka ada semacam kekurang sesuaian. Kekurang sesuaian ini dikarenakan secara logika dan dalam segi filsafat ilmu terbalik penyusunannya. Oleh karna itu, semboyan dalam ikatan perlu direkontruksi menjadi ”Unggul dalam Intelektual, Anggun dalam Moral dan Radikal dalam Gerakan”. Pembenahan terhadap semboyan ini merupakan sesuatu yang penting dalam rangka menata krangka berfikir yang digunakan ikatan agar secara sistematis mudah dicerna oleh kader ikatan atapun masyarakat awam. Penambahan kata yang terakhir meruapakan suatu konsekuensi logis dari kata sebelumnya dan merupakan tindakan yang praksis dalam mencapai yang dicita-citakan. Sifat dan kata dalam semboyan ini merupakan suatu kata yang tak boleh dipisahan agar dapat melihat diri dan identitas ikatan. Jika ini mau dipisahkan maka yang terjadi merupakan ketimpangan sebagaimana trikompetensi atapn tujuan Ikatan.

Pelaksanaan terhadap tafsiran terhadap tiga doktrin ikatan ini menjadi sumber epistemologi ikatan dalam melihat realitas sosial. Penurunan dari epistemologi ini, menjadi paradigma gerakan ikatan yang sesuai dengan ajaran serta nilai-nilai ikatan. setelah menguraikan tafsiran terhadap dokrin ikatan tersebut sumber pengetahuan ikatan memiliki kedekatan dengan tradisi kenabian yang telah dilontarkan oleh Kontowijoyo, Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy. Sumber pengetahuan ikatan menjadikan ruh gerakan, serta paradigma yang harus dilakukan oleh ikatan. Ruh gerakan ikatan yang bersendikan pada nilai-nilai agama serta meneladani Muhammad saw. Paradigma ikatan merupakan sebuah tawaran wajib dalam rangka melihat realitas sosial dan menjawab problem kemanusiaan dan alam. Paradigma ini lahir dari dialektika internal ikatan, relasi agama, reaitas dan doktrin internal ikatan yakni dengan Paradigma Intelektual Profetik. Paradigma intelektual profetik bersendikan pada ruh profetik dan epistemologi Islam yang berdasarkan doktrin agama untuk kontektualisasi dengan objektivikasi agama sehingga terhindar dari sekulerisme sebagaimana terjadi dalam kebudayaan barat. Epistemologi Islam dalam perfektif ikatan merupakan konsep integralisasi ilmu pengetahuan dan agama bukan sekulerisasi sebagaimana terjadi dalam tradisi barat.

Diaspora

Diaspora gerakan merupakan suatu pilihan dalam melakukan transformasi sosial yang sadar dilakukan oleh ikatan. Sebelum melakukan diaspora gerakan, the ethick of IMM harus tertanam dalam diri kader. Ethick of imm ini merupakan kesadaran pada diri kader menginternalisasi nilai-nilai ikan. Nilai-nilai ikatan berdasarkan pada dokrin ikatan sesuai degan misi kenabian yang melakukan pemberdayaan terhadap termarginalkan. Ethick of imm yang tertera pada ikatan menjadi ruh dalam paradigma gerakan yang dilakukan oleh ikatan. Ethick of imm yang bersumber pada kesadaran kenabian yakni humanisasi, liberasi dan trasendensi. Perkembangan selanjutnya dari ethick of imm menjadi etos kenabian dalam versi ikatan. Etos kenabian IMM menjadikan ikatan berbeda dengan pergerakan yang lain guna melakukan trasnsformasi sosial. Sifat transformasi sosial yang dilakukan oleh ikatan berbeda dengan yang lain dikarenakan bukan hanya sekedar membebaskan tetapi juga mengarahkan atau memiliki tujuan yang jelas. Maka bentuk transformasi sosial yang dilakukan oleh ikatan bukannya lagi transformasi sosial an sich tetapi sesuai dengan transformasi yang dilakukan oleh nabi (transformasi profetik).

Diaspora merupakan suatu bentuk aksiologis ikatan setelah memandang diri sehingga mengetahui ontologi ikatan, serta sumber pengetahuan ikatan (epistemologi). Diaspora dalam sejarah kemanusiaannya dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Tetapi dalam doktrin keagamaan kita konsep tentang diaspora sebenarnya sudah ada yakni pada firman Tuhan dalam surat al Jum’ah ayat 10;

”Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebarlah kamu di muka bumi carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.

Ayat ini menjelaskan tentang setelah selesai sholat, agar bertebarlah mencari karunia Allah. Konsep bertebar, disini memiliki kedekatan yang sama dengan diaspora, tetapi ada kata sebelumnya yakni setelah seleasai sholat yang bermakna nilai-nilai agama tertanam dengan sholat. Sholat dari ayat disini sebagai sarana untuk menginternalisasi agama sebagai bentuk nilai sebagai syarat sebelum melakukan diaspora. Diaspora dengan membawa nilai-nilai saja diingatkan oleh Tuhan dengan mengingat-Nya. Kata terakhir membahas yang beruntung disini adalah manusia, dikarenakan manusia itu sendiri yang memiliki hubungan sosial, sesamanya dan alam.

Pemahaman diaspora selain dari umat Yahudi dan doktrin Islam dalam sejarahnya juga dikembangkan oleh pendiri Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan dengan perkataan yang terkenal dengan jadilah kalian dokter, insiyur, guru, mantri dan kembalilah pada Muhammadiyah. Konsep diaspora merupakan penyebaran peran dalam ranah yang berbeda metode berbeda, tetapi memiliki etika yang dan tujuan yang sama guna menciptakan masyarakat yang diidealkan. Penciptaan masyarakat yang diidealkan ini merupakan tujuan dari kolektif dan individu kader dalam melakukan transformasi profetik. Masyarakat yang diidealkan merupakan mimpi dan cita-cita sosial ikatan sebagaimana masyarakat anti kelas dari komunisme. Masyarakat yang diidealkan ikatan sebagaimana tujuan dari ethick of imm adalah terbentuknya the choosen people yang melakukan kesadaran profetik dalam humanisasi, liberasi dan trasendensi.

Semangat diaspora yang dilakukan oleh ikatan merupakan bentuk pengaplikasian nilai-nilai ikatan guna mewujudkan masyarakat yang diidealkan. Diaspora ikatan memiliki karakteristik sesuai dengan surat al Jum’ah. Diaspora ini, merupakan aplikasi dari penginternalisasian nilai dan pengeksternalkan nilai pada masyarakat. Eksternalisasi ini perpaduan antara nilai dengan basic skill kader dalam menghadapi realitas sekarang. Lapisan sosial masyarakat secara sosiologis yang paling sederhana membagi struktur kelas yakni elit, menengah dan rakyat jelata. Maka bentuk perubahan sebenarnya yang harus dikuasi oleh ikatan level semuannya. Perubahan yang dilakukan oleh ikatan sesuai dengan tingkat levelnya tetapi yang terpenting adalah perubahan kesadaran pada manusia dan menjadi gerakan kelompok


Tindakan

Information

Satu tanggapan

13 03 2009
dhenn

bagaimana dg peran serta keterlibatan imm sebagai gerakan mahasiswa dalam ranah perpolitikan kampus? mengutip kalimat dalam artikel yang lain, bhw ikatan itu bergerak dlm ranah intelektualitas bukan politik, tapi tak dapat dipungkiri bahwa dalam lingkup kampus memang terdapat perpolitikan…

Tinggalkan komentar