Sastra Profetik; Mengenal Sastra Kuntowijoyo

2 02 2008

Sekilas tentang Sastra

Sastra merupakan suatu wujud dan hasil dari kebudayaan. Sastra merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia dalam menyikapi realitas kehidupan dengan menggunakan bahasa symbol khususnya terjadi pada puisi, sajak, syair dan yang lain. Dalam sejarah perkembangan sastra merupakan ungkapan atas rasa yang terjadi pada manusia. Hal ini dapat dilukiskan dengan pengalaman religius orang-orang sufi dalam bercinta dengan kekasih-Nya. Ungkapan yang keluar merupakan suatu bentuk karya yang cukup dasyat didalam kehidupan, sebagaimana syair yang dikumandangkan oleh Rumi, Iqbal, Al Halaj dan yang lain.Sastara Indonesia yang sekarang banyak bercorak snab dan norak baik dalam pola ucapan atapun dari segi isinya. Sastara yang demikian merupakan suatu bentuk sastra bukannya untuk meninggikan drajat kemanusiaan tetapi membawa pembaca pada pengumbaran jiwa manusia dengan ekspresi yang rendah. Oleh karena itu perlunya diimbangi dengan sastra yang bercorak lebih bagus secara makna dan isinya, yang berdasarkan pada nilai-nilai agama.Sastra yang bercorak pada nilai-nilai agama merupakan pengungkapan jiwa dan sarana untuk melakukan Ibadah pada Pencipta. Sebagaimana sastra Islam merupakan sastara yang bersifat multi fungsi dimana bukan pengungkapan jiwa semata tetapi mengajarkan nilai-nilai transenden. Perkembangan sastra Islam dalam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dunia tasauf. Hal tersebut dikarenakan dalam ilmu tasauf di gambarkan pada wilayah esoteris bertemunya manusia dengan Penciptanya. Proses pengungkapan kalimat yang indah ketika manusia menyatu dengan Tuhan, dikarenakan pancaran Ilahi masuk kedalam hatinya. Persatuan yang terjadi pada orang sufi memunculkan suatu karya yang universal dan berada dalam genggaman orang-orang sufi.Dalam konteks sejarah sastara Indonesia pengaruh sufi sangat kental, hal ini dapat dilihat dari sastra karya Hamzah Fansuri dan Abdul Hadi. Sebenarnya jika mau dilihat lebih jauh lagi menurut Kunto semua sastra memiliki bobot transcendental dalam proses pengungkapannya karena dilihat dari teologis dan metafisis. Dalam kesastraan Indonesia sebenarnya ada dua macam kubu yakni sastra kemanusiaan dan sastra pembebasan. Oleh karena itu, Konto menawarkan konsep sastra yang transcendental guna menanggapi isu yang ada dalam perkembangan sastra pada saat itu.

Sastra Kuntowijoyo Upaya Mengetahui Jejak Pemikiran

Kunto merupakan sosok figure yang fenomenal pada masa itu dikarenakan konsep yang ia tawarkan dalam melihat realitas. Dilihat dari latar belakang pendidikannya ia merupakan seorang yang ahli sejarah. Sejarah yang ia ungkapkan dengan menggunakan pendekatan social, hal ini dapat dilihat dari disertasinya yang membahas tentang perubahan social masyarakat Madura. Walaupun ia seorang sejarahwan tetapi apa yang dilakukan oleh Kuntowijoyo lebih dari sejarahwan. Hal ini dikarenakan ia banyak sekali memberikan konstribusi pada bidang yang lain seperti sastra, ilmu social dan pengintegrasian ilmu agama dengan pengetahuan dengan konsep pengilmuan Islam.Dalam membicarakan tentang alur pemikiran yang dilontarkan oleh Kunto, kita dapat membahas dari sastra yang iagoreskan pada kertas, dan karya-karyanya. Pak Kunto dalam karyanya memerlukan refleksi yang dalam menyikapi realitas. Ketika kita mencoba membaca karyanya merupakan suatu gagasan yang bersifat filosopis, paradigmatic dan perlu diterjemahkan kedalam dataran yang lebih praktis. Sebagaimana dalam teori sastra bahwa dalam pembagiannya sastara terbagi menjadi tiga macam yakni sastara yang bercorak kemanusiaan, pembebasan dan sastra yang bersifat trasendental. Sastra yang bercorak kemanusian ini dapat dilahat dari tokoh yang melakukan pengkajian kemanusiaan dan kebebasan manusia, sedangkan sastara yang bercorak pembebasan diketahui dengan seorang yang mengkaji tentang social kemasyarakatan. Sedangkan sastra yang bercorak transcendental merupakan karya sastra hasil religius pengalaman keagamaan sebagaimana yang terjadi pada orang-orang sufi. Terus yang menjadi pertanyaan bagaimanakah sastra yang dibawa oleh Kunto.Melihat dari sastara yang ada bahwa Kunto dalam perkembangan pemikirannya terbagai menjadi dua arus besar yakni sastara yang bercorak transcendental (religius) dan sastra yang bercorak profetik. Sastra yang bercorak transcendental dapat kita lihat dalam Novelnya seperti Kotbah di Atas Bukit, Impian Amerika, dan cerita pendek seperti Dilarang Menyintai Bunga-Bunga, Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan serta kumpulan puisi-puisinya dengan judul Suluk Awang Uwung. Sedangkan sastra yang bercorak profetik ketika ia sudah berdialog dengan pemikiran Prof. Dr. M. Qurais Shihab, M.A dengan judul bukunya Membumikan Al Qur’an, serta tokoh yang lain seperti Muslim Abdurrahman, Adi Sasono dan yang lain. Hal ini, juga dapat kita amati dalam karya novelnya Pasar, Mantara Pejinak Ular, Wasripin dan Satinah serta kumpulan puisi-puisinya Makhrifat Daun Daun Makhrifat. Sastra profetik merupakan pengembangan dari sastra yang bercorak religius dimana dalam sastra profetik ada unsure yang harus terpenuhi bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan. Sastra profetik merupakan inspirasi dari Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal, dimana manusia memiliki sikap kebebasan apa yang menjadi pemimpin. Seni merupakan menjadi alat perubah dan pengerak realitas social dan seniman menjadi inspirator perubahan serta bagaimana menciptakan yang lebih baik.Sebagaimana unsure sastra yang bercorak profetik menurut pandangan Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal, meliputi kebesaran makna Illahiah, manusia merupakan mahluk yang merdeka dan kreatif, manusia menjadi khalifah dan melibatkan diri dalam proses social, sedangkan yang terkhir keseimbangan antara dimensi vertical dengan horizontal. Sedangkan Kunto juga merumuskan tentang etika profetik dalam surat al Imron ayat 110, yang menjiwai dari sastra-sastranya. Unsure dalam surat al Imron 110 yakni; amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahyi munkar (mencegah kejelekan), dan iman (tu’minuna) bi Allah (beriman kepada Allah). Ketiga hal ini adalah unsur yang tak terpisahkan dari etik profetik. Sekarang yang perlu melihat puisi atau tulisan sastranya Kunto dalam melihat sejarah pemikirannya.

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga, 
misalnya, berkisah tentang seorang tua, 
seorang anak yang mencintai bunga-bunga, 
dan seorang bapak yang melarang anaknya mendekati bunga-bunga. 
"....Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. 
Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk 
pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, 
keremajaan, keindahan. Hidup 
adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. 
Kita adalah dua tangkai 
anggrek...".
Sisi ketuhanan tampak menonjol disini, 
penggambaran kehidupan yang serba indah penuh cinta, 
yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi sufistik, 
bukan hanya puisi melankolis cinta antara anak manusia.
 Seperti dalam cerpen dilarang menyintai bunga-bunga Kunto mencoba menawarkan cara pandang 
terhadap lingkungan menggunakan logika agama bukanya dengan logika kerja 
seperti yang dilakukan oleh ayah gadis dalam cerita tersebut. 
Dimana dengan menggunakan logika agama menjadikan kita hidup 
seperti dengan damai dan indah dalam suatu taman serta tidak menimbulkan kekerasan. 
Tetapi begitupula sebaiknya ketika gadis dalam cerita tersebut menggunakan logika dunia 
menimbulkan ketidakpuasan dalam diri dan untuk kepentingan yang sesaat.

Sastra Kunto dalam pemikirannya lebih cenderung religius dan sufistik dengan menentangkan kehidupan yang ideal dengan yang tak ideal seperti dalam cerpen tersebut. Ini merupakan pemikiran Kunto yang bercorak religius dan cenderung sufistik dalam era pemikirannya, dan berakhir pada tahun 1990-an. Sedangkan dari puisinya yang bercorak religius

Angin gemuluh di hutan        Memukul ranting Yang lama juga      Tak terhitung  jumlahnya    Mobil di jalan Dari ujung ke ujung        Aku ingin menekan tombol     Hingga lampu merah itu Berhenti  Angin, mobil dan para pejalan  Pikirkanlah, ke mana engkau pergi (Suluk Awang Uwung)

Makna yang diinginkan oleh penulis merupakan nasehat bahwa kita sering terjebak pada rutinitas dunia, sehingga lupa kemana arah tujuan hidup ini. Seperti pada kata aku ingin menekan tombol hingga lampu merah itu berhenti bermakna ia berusaha ingin menghentikan ritualitas manusia yang kehilangan makna hidup. Sedangkan pada kata angina, mobil dan para pejalan pikirkanlah kemana engkau pergi merupakan sikap untuk merenungi apa yang telah dilakukan dan apa yang direncanakan, sehingga tidak terjebak dengan rutinitas kehidupan. Selanjutnya pemikiran yang bercorak profetis dalam puisi yang dibuat oleh Kunto.Sebagai hadiah
Malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
sampai dhuafa dan mustadh’afin
diangkat Tuhan dari penderitaan
(Makhrifat Daun Daun Makhrifat)

Sajak tersebut ditulis pada tahun 1995 ketika kesehatan Kuntowijoyo masih terganggu. Dalam keadaan sakit, ia melihat malaikat berkelebat sambil menawarkan hadiah kepadanya. Tetapi, Kuntowijoyo menolak tawaran tersebut. Sebab, konsekuensi menerima tawaran itu adalah ‘terbang dari bumi’. Maka ada semacam perjuangan melawan maut barangkali. Bagaimanapun, pengalaman sakitnya yang lama membuatnya berusaha untuk sembuh. Ia terserang Meningo encephalitis, radang selaput otak kecil yang menyebabkan kelumpuhan. Sejak 1992 ia sempat dirawat di Ruang Gawat Darurat RS Sardjito, Yogyakarta, selama 35 hari dan mesti beristirahat untuk waktu yang cukup lama.Itulah sejarah Kuntowijoyo, yang sempat menuliskan pengalamannya dalam bentuk puisi. Puisi tersebut selain bercerita pengalaman mistisnya kepada pembaca, juga ingin mengabarkan bahwa di dunia ini masih dipenuhi kejahatan dan penderitaan. Terlihat ia sangat peduli pada dunia. Meminjam kata-kata Leonardo da Vinci, Kuntowijoyo seperti ingin memperbaiki bumi yang rusak, ingin melukis langit agar menjadi indah, tidak ikhlas diberi hadiah malaikat (nikmat-ketenteraman) jikalau bumi masih carut marut. Dari puisi tersebut, dapat saya tulis tiga hal tentang sastra dan sejarah. Pertama, bahwa puisi bukan semata lukisan peristiwa-peristiwa, namun memungkinkan makna dari peristiwa-peristiwa. Paparan tersebut bakal menghasilkan suasana ketika momen puitik yang berhasil direkam dalam puisi menjadi hidup, memiliki nyawa. Seperti kata kaum Romantik Jerman, ketika perasaan dikendalikan daya imajinasi, kita lihat juga Stimmungslyriek (lirik suasana), di mana hal yang penting bukanlah gambaran visual atau isi konkret melainkan suasana yang dibangkitkan. Semacam ruh puisi. Coba kita simak puisi berikut ini:

Yang berjalan di lorong
hanya suara-suara
barangkali kaki orang
atau malaikat atau bidadari atau hantu
mereka sama-sama menghuni desa di malam hari
Kadang-kadang kentong berjalan
dipukul tangan hitam
dari pojok ke pojok
menyalakan kunang-kunang
di sela bayang-bayang

Puisi berjudul Desa di atas kental bersuasana pedesaan. Penyair menuliskan kegiatan orang-orang desa malam hari. Tetapi penyair melukiskan pendengarannya (citraan audio) melalui perasaan yang diraba dengan mungkinan (ciri khas Kuntowijoyo ketika menghadapi mitos dan realitas). Suasana yang terbangun adalah sebuah ‘rahasia’ malam, kemudian ditampilkan filosofi dan mistis. Kedua, sebagaimana ‘cap’ saya, Kuntowijoyo adalah sejarawan sastra, bahwa karya sastra bukan sekedar reproduksi dari realitas melainkan sesuatu yang mempertajam dan membuat intens penghayatan kita pada realitas (Mohamad, 1993). Sejarah bukanlah sastra, sebab sastra memerlukan imajinasi, perasaan, dan empati. Realitas yang ditangkap terlebih dahulu mengalami masa inkubasi dari penghayatan yang intens. Contohnya adalah Kuntowijoyo sendiri. Pada pertengahan 1950-an ia menghabiskan hidupnya di Ngawonggo, sebuah desa sunyi di Ceper, Klaten. Persentuhannya dengan surau, bambu, kunang-kunang, kentongan yang ditabuh, mitos, dsb kemudian melahirkan renungan tentang hidup.Ketiga, ketika realitas yang dihadapi bertolak belakang dengan hati nuraninya, maka yang ditulis adalah pelarian dari realitas. Ia berusaha lari dari realitas tanpa meninggalkan dunia. Maka kemudian diciptakan dunia ideal. Dunia ideal yang diciptakan puisi tersebut barangkali dengan membalik realitas yang digambarkan Kuntowijoyo, tentang ia (yang) lebih suka bumi tenggelam/daripada ia tak tenteram (baris-baris terakhir sajak Hikayat).Dunia ideal adalah dunia angan yang diinginkan tetapi tidak juga dapat direalisasikan di dunia nyata. Abrams menyebutnya sebagai supernaturalisme-natural, karena dunia baru yang ingin diciptakan bukanlah surga yang ada di luar dunia nyata melainkan ada di dalamnya. Surga tidak diciptakan melalui kekuatan supernatural tetapi melalui penyatuan pikiran manusia dengan alam (Faruk, 2002). Secara umum, romantisisme karya-karya Kuntowijoyo dapat dipahami dari dunia ideal yang dibangun, empati, perasaan, dan pemilihan kata. Daya gugah bahasanya yang sederhana salah satunya adalah bahasa simbol. Bahasa simbol adalah sejenis retorika yang bersisi ganda, yang menyatakan sesuatu tapi mensyaratkan pengetahuan tentang sesuatu yang lain. Pemikiran Kunto secara garis besar menurut Zainal Abidin Bagir, ada dua gagasan utama yang dibahas di sini: pengilmuan Islam dan integrasi ilmu dengan etika. Meskipun di tulisan-tulisan awalnya (80-an dan awal 90an) ia tampak bersimpati pada gerakan islamisasi ilmu, belakangan ia membedakan gagasannya tentang pengilmuan Islam dari gerakan tersebut, bahkan mengatakan bahwa “gerakan islamisasi ilmu mesti ditinggalkan”. Kuntowijoyo meyakini objektifitas ilmu, namun menolak klaim bebas-nilainya, dalam artian netralitas/ketakberpihakan. Di satu sisi, Islam mesti dijadikan ilmu (diobjektifikasi); di sisi lain, ilmu-ilmu (khususnya sosial) mesti menyatakan keberpihakan yang jelas, yaitu kepada cita-cita profetik universal agama-agama: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Hal ini juga dapat terlihat dari karya sastra yang mencoba melakukan pengilmuan Islam dan proses integrasi ilmu dengan agama. Misalkan dalam Novel terbarunya Wasripin dan Satinah ia mencoba menggambarkan tentang rasionalasasi agama dan melakukan objektifikasi terhadap agama.