Ungkapan Hati; Ketika Cinta Mengalir

20 02 2008

Keterlelapan alam insan
Suratan kehidupan tergaris tegak
Rangkaian kehidupan ketakadilan
Sampah negeri kepentinan lipstik fenomenal
Kebangkitan mati anak negeri
Harapan tangis ratapan duka
Ramadhan pembekalan sosial

Suara Ilahi mengalir dasyat
Kumandangkan insan atas dekapan
Untaian embun sucikan jiwa
Kembali menyatu dengan-Nya
Manusia alam berseru
Untaian tugas suci
Semaikan tugas suci
Semaikan kasih
Petikkan cinta untuk sesema

Panggilan Ilahi berkumandang
Nada-nada sayup bergulir di udara
Hamba sadar tuangkan rasa
Cinta disambut oleh-Nya
Damai tenang indah bersama
Rasa milik semua!
Turunlah kabarkan gembira untuk semua
Akhir bahagia selamanya

Sendiri …
Ungkapan kata mengalir tenang
Rasa tertuang dalam dekapan
Cinta bertahta di hati
Keinginan berseru di jiwa
Sentuhan embun sucikan hati
Raih dekapan pelukan Pencipta
Bersihkan qolb langkah bersama hawa

Pagi senyum surya berseri
Tuangkan rasa cinta
Damaikan alam dunia
Ketenangan, kebahagian, keabadian insan
Bersama dengan-Nya
Bercengkrama bercanda berbagi rasa
Turun terbarkan sayang
Satukan manusia dengan ikatan suci

Rasa …
Satukan keinginan
Gejolak kangen di qolb
Tertentang dalam rintihan Pencipta
Dekapan mata jauh
Terselipkan kata sayang
Hanya tetesan mata mengalir
Rasa kapan bersama berbagi
Harapan empedu cinta
Satukan rasa cinta

Teman kesusahan berbagi
Takaran canda bersama
Kesenangan milik semua
Tuntutan dalam alam fana
Gemerlapan tahta intan permata
Keterlelapan manusia
Rangkaian tukarkan dunia idea
Pecundangkan insan ketabrakan
Kepentingan hanya sesaat

Kesunyian malam berteman lantunan nada
Ingatkan sebuah cerita
Insan berproses alam dunia
Karya manusia manifestasi Pencipta
Tebarkan gembira sesama
Lompatan quantum kegembiraan
Bangun!
Kasih insan karena Tuhan

Tetesan embun pagi
Dingin mengalir udara menari
Surya pancarakan sinar harapan
Tangisan pertiwi anak negeri
Kekalahan ku sebuah derita
Bangsa hilang manusia bersemi
Sambut pagi ceria harapan
Proses ingatkan-Nya

Kesendirian bertemankan alam
Dosa adat insan terpatri
Laku sikap sifat dalam tangisan
Untaian embun di siang hari
Keterlelapan lembah hitam
Sentuhan-Nya tenangkan jiwa
Sesaat atau selamanya di dekapan
Rasa diri jatuh

Kelaianan diri dekapan bersama
Idealitas pragmatis tujuan kepentingan mulia menafikan dosa
Kebenaran dalam kesalahan
Kejujuran sikap politik
Muka topeng manusia drama dunia
Ketenangan kesucian kebahagiaan
Dambaan sesaat

Senja bergulir surya tenggelam
Cakupan malam melintas
Nyanyian silih berganti
Bulan bertahta di kawal bintang
Ingatkan senyum nan muka sang hawa
Bagi rasa cinta bersemi
Ikatan suci kan didamba
Menyatu dengan-Nya

Teriknya surya
Keangkuhan adam
Gempitanya alam dunia
Senang alam fana
Langkah insan nafas tertatih
Kelelahan pencarian diri tercebur dosa
Langkah gontai mendamba bahagia
Sentuhan hawa berbagai dekapan Ilahi

Kegaulan hati ingatkan coba
Datangnya wajah dari tragedi
Seruan paruh terdengar sayup
Semangat terpendam hilang ditelan badai
Relungan jiwa sebuah derita
Sentuhan, dekapan, pelukan ribuan bayang hadirkan sukma

Lamunan terbangkan khayalan
Ungkapan kedamaian alam
Bah insan mengkasihi semua
Rasa kangen terselip dekapan sentuhan harapan
Keegoan tanggalkan cinta suci
Cita terbentang blantara
Sentuhan bersama kikisan luka hawa

Kedaimaan insan fana
Sentuhan Ilahi dekapan jiwa
Tuangkan rasa manusia
Rintihan kumandangkan nada
Saat ruh berlari pada-Nya
Tenang berimpikan transenden
Terbarkan asma bagi alam, insan
Ciptakan surga dunia

Tertuang dalam lantunan
Sirna cinta mengalir cercahan sinar kedaian
Dekapan pelukan Ilahi sentuhan qolb
Embun jernihkan pikiran
Lambaian tangan dekapan hilangan bayangan
Sirna jiwa kenangan sekedar impian

Mentari terkadang tak adil
Hanya memberi cahaya kepada tempat yang ia suka
Biarkan ia bertindak sesuakanya
Hidup adalah pilihan
Izinkan aku untuk memilih
Aku harus kembali kesejatinya aku (DK)

Pagi …
Sinar mentari berteman awan
Cahaya termbus cakrawala
Hilangkan embun pagi
Sadarkan insan hadapi keras kehidupan
Teman berbagi hilang dari ingatn
Senyuman hadapkan luntur tuntutan
Manusia dalam pilihan membosankan

Keramaian tengah hutan blantara
Kesayupan, kesepian metropolitan
Keterjatuhan dalam gemerlapan
Sanksi sadarkan alam nyata
Tangisan nyata terdengar manusia
Kegembiraan untuk kelompok tertentu
Kesakitan untuk semua
Sadarkan

Sakit merasuk relung terdalam
Inginku pergi tinggalkan beban
Rasa menghantui seperti bayang diri
Sakit tinggallah jernihkan hati menggapai
Sucikan diri bersama mu
Gabungkan rasa syukur sebagi abdi untuk-Nya

Bangun ketika sadar keterlelapan
Layananan untuk semua karena-Nya
Ikhlas serahkan putusan oleh nya
Hanya kesadaran di damba
Kesepakatan insan komitmen bersama
Pantrian janji gempita fana
Tuangkan penawar empedu cinta

Malam …
Keterlelepan dunia
Dewi ingatkan cinta alam fana
Semaikan kasih tebaran kangen
Terbayang sikap nan laku bersama
Untaian permata senyum menawan
Dentungan jiwa tuk tinggalkan
Khan menyatu bersama pada-Nya dalam damai

Slimut embun pagi
Dinginkan hati sejukan jiwa
Tancapkan ruh Ilahi terpancar gemerlapan
Lamunan dunia damaikan cinta
Berikan untuk sesama dalam gerak setiap langkah
Ciptakan surga dunia

Syahrun ramadhan
Derita luka balutan asmara
Ilahi sadarkan diri
Sucikan jiwa tebarkan pesona
Raih malam seribu bulan
Semai cinta untuk sesama
Hilangkan luka bangsa
Ciptakan surga di dunia

Gumpalan awan penantian manusia
Sikap insan menanti segala cara
Gumpalan menjadikan bencanda
Teriakan penyesalan keterbelakangan
Sikap khan terpenuhi nafsu
Eksploitasi serakah kapital
Masyarakat derita sengsara
Hanya duka tangisan pertiwi

Sore …
Semilir angin mengusik jiwa
Gejolak kenangan bakar diri bersama
Untai senang berbagi
Bisikan hati abadaikan kenangan
Masa depan menanti
Jiwa berlari tinggalkan menjemput impian
Mari tinggalkan

Lebaran sucikan jiwa
Hadap syukur pada Pencipta
Tenangkan langkah tatap masa depan
Satukan asmara dalam hati
Ikatan suci insan berbeda
Buka pentu rahmat Ilahi
Perpaduan cinta
Bahagia bersama untuk-Nya

Warna kuning langit
Mengingatkan kenangan insan
Ketenangan, kebahagiaan, pengertian tanggung jawab
Cinta impikan bersama
Lamunan angan tebarkan kasih bersama
Berganti hilang teman berbagi
Eksistensi cinta manusia dalam kehidupan

Harapan kejaran impian
Diwam lantunan ilahi
Sempurnakan insan untuk sesama dan alam
Tuangkan anggur cinta
Hapus sifat binatang
Raih damai
Tenang indah gerak bersama
Tercipta surga dunia
Hamparan nikmat
Saat perjalanan jauh
Telah sampailah waktu mu
Lelah dan letih dalam bahtera dunia
Hadapkan muka mu pada-Illah mu
Terbang ke awang-uwung dunia lembayung
Ingatkan pada insan
Suatu kisah perjalanan

Galeri taungkan rasa
Hamaparan samudra terkikis karang
Tegak diterjang ombak kejamnya kehidupan
Kabahagiaan, ketenangan fatamorgana
Lontar tertera kisah
Binatang menghiasi muka dunia
Turunan malaikat muka bumi

Kegelisahan ketika dosa di depan mata
Diam membisu kemana pergi
Lantunan nada kumandangkan isakan mata
Hati berbicara lantunan tangis
Simpuhan Ilahi ketukan jiwa
Berbagi insan derita dosa bersama
Satukan ikatan cinta suci

Suara Ilahi mengalir
Dasyat kumandangkan insan dalam dekapan
Untaian embun sucikan jiwa
Kembali menyatu dengan-Nya
Manusia alam berseru
Untaian tugas suci
Semaikan kasih
Petikan cinta untuk sesama

Kesunyian malam bertemankan lantunan nada
Ingatkan sebuah cerita
Insan berproses alam dunia
Karya manusia manifestasi Pencipta
Tebarkan gembira sesama
Lompatan quantum kegembiraan
Bangun kasih dan sayang karna Tuhan

Gemerlap bintang hantarkan kedamaian
Sinar cerahkan harapan
Jiwa teriak kesunyian kelam
Rasa tak kan pergi meliputi diri
Kemana bayangan kian menghimpit kehidupan
Hanya penawar hawa tenangkan kehidupan

Ketika hujan turun membasahi bumi
Pohon-pohonpun haus akan kesejukan dan ketenangan
Lembutnya awan tak selembut salju
Kemanakah gerangan…
Rasa satukan jiwa tuk hadirkan kedamaian (DK)

Mungkin kau biarkan aku mengumbar kebencian
Dibalik kacamata kehidupan
Kiranya…..
Aku terpuruk diantara kaki-kaki
Ruang dan kepala terbalik waktu
Seyum-seyum berserakan di hadapan
Berlahan bersembunyi di balik dedauanan (DK)

Tetesan embun pagi
Dingin mengalir udara manari
Surya pancarkan sinar harapan
Tangisan pertiwi anak negeri
Kekalahanku sebuah derita
Bangsa hilang manusia bersemi
Sambut pagi ceria harapan
Proses ingatkan-Nya

Kelainan diri dekapan bersama
Idealitas pragmatis tujuan kepentingan mulia
Menafikan dosa
Kebanaran dalam kesalahan
Kejujuran sikap politik
Muka topeng manusia drama dunia
Ketenangan kesucian kebahagian damba sesa

Senja bergulir surya tenggelam
Cakupan malam melintas
Nyanyian silih berganti
Bulan bertahta dikawal bintang
Ingatkan senyun nan muka hawa
Berbagi rasa cinta bersama
Ikatan suci kan damba
Menyatu dengan-Nya

II
Gemerlap malam bertemankan langit kuning
Cahaya lampu menyinari dengan remang
Raih cita tinggalkan cinta
Manusia dalam pilihan menjenuhkan
Senyuman sentuhan dekapan angan
Tetesan empedu kehidupan impian
Gaung besama derita

Keterlelapan mimpi
Alam ketenangan kebahagiaan kedamaian
Jalinan kasih sesama
Hamparan fikiran tindakan transenden
Sambut ceria esok
Dataran langit pancarkan sinar kesucian
Sambut bumi penuh cinta
Gerak langkah cinta
Sadar dan bangunlah

Lantunan angin gerakan angan impian
Rintihan kedamaian insan pecinta
Kebahagian segala untuk mencinta
Tumpuhan pilihan pada di cinta
Ratapan pepenta untuk Pencipta
Tebaran cinta kesadaran gerak insan kesempurnaan

Bandung, Kopo, 21 November 2005
Siang disini masih mendung
Mengkin suasana purba untuk diungkapkan
Terasa waktu begitu cepat
Berlalu …
Aku harus kembali kesejatinya aku
Kembali kealam sadarku
Kembali keadaanku sekarang ini
Aku harus terbang sekarang,
Biarlah
Aku tinggalkan bayanganku di sana
Dan di sini atau mungkin di susatu
Tempat yang entah kapan aku akan singgahi …
Yang pasti kenangan terpahat dalam jiwa dan hati ku
Tak akan aku lupakan (DK)

Bintang jauh …
Tetaplah dalam kisaranmu
Sampai ujung lintasmu, dengarlah …
Bungkusan mimpi padamu bicara
Tentang mimpi dan kejujuran
Tentang ucapan, mimpi dan hidup
Hidup ini adalah tentang bagaimana perasaanku
Pada diriku sendiri
tentang bagaimana aku menghargai tetang orang yang aku sukai …
hidup ini memang tentang menghargai
mahluk Tuhan apa adanya dan bukan
tentang apa yang dimilikinya
hidup ini tentang memutuskan untuk menggunakan mimpiku ….
Untuk menyentuh mimpi orang lain (DK)

Senja ungkapkan makna
Berlari hanya tinggal di tempat
Langkah gontai di tempat yang sama
Rol of love di telan pahitnya dunia
Kefanaan damba manusia
Nista penantian insan
Jemu bius kelalaian
Lumpur dosa da;am diri-nya

Lantunan angin mengusik jiwa
Dentungan nada ingatkan pesan sesama
Hidup pilihan dan harus memimih
Insan terendam dalam lumpur dosa
Pasrah Illahi hilangkan hina
Damba bersama menyatu pada-Nya

Dambaan seluruh insan
Makna hilang di jalan
Serakah kepentingan dunia sesaat
Gumpalan nafsu gerak langkah dunia
Sucikan hati dalam bulan suci
Satukan jiwa dalam anggur cinta Illahi
Cipta nirwana dunia untuk sesama

Batang usia meninggi
Luapan emosi tersusun rapih
Hiasan qolb tenangkan jiwa
Hadap muka syukur pada Pencipta
Hantarkan jiwa untuk-Nya
Bakti suami langkah bersama
Luapan kasih mabuk iman pada-Nya
Endapan permata alam
Kaki-kaki bukit surga
Alam tercipta ungkapkan makna
Yoga penawar sifat serakah
Ungkapkan warna kedamaian
Lantunan udara menyanyi gembira
Ingatkan mimpi-mimpi
Aktualisasikan rasa untuk semua
Akhir hayat terungkap kata
Luapan menyatu pada-Nya
Fikiran tercipta untuk-Nya
Imajinasi hanya alam-Nya
Gaungan nada-nada
Hantarkan tugas mulia
Alunan gelombang bangkitkan rasa
Nirwana tertebar di dunia
Intuisi cinta pada sang hawa

Sucikan hati dan jiwa
Sambutlah bulan ramadhan dengan cinta
Cipta surga dalam dunia
Damai, indah, adil, dalam naungan Illahi
Puasakan hati, akal, indra untuk Illahi
Dalam dekapan cinta sesame dan alam

Gema takbir getarkan hati
Pintu jiwa ungkapkan rasa
Dosa mengalir deras
Buka hati maafkan sesama dalam dekapan cinta
Perwujudan cinta pada sang Pencinta
Menggapai Rida-Nya.





Budaya dan Etika Politik yang Berwawasan Kebangsaan

15 02 2008

Bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang bersifat multicultural, dimana dapat dilihat keberagaman yang terjadi di wilayah kita. Majemuk  biasanya melahirkan dua peluang yakni sebagai sarana konflik dan keindahan dalam perbedaan. Kita juga dapat melihat, konflik yang terjadi diberbagai daerah merupakan suatu bentuk kurang bisa memahami suatu kebudayaan pada suatu tempat. Hal ini dikarenakan sikap dari pendatang kurang dapat menginternalisasi nilai-nilai yang selama ini berjalan dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut, lahir dari kebiasaan dan norma yang berjalan dalam masyarakat.

Kebudayaan merupakan pengekteralisasian suatu gagasan atau ide didalam masyarakat yang dilakukan secara kontinyu dan membentuk system social pada masyarakat. Borobudur sebagaimana yang kita kenal merupakan suatu kebudayaan tetapi kalau mau dilihat lebih jauh lagi borobur merupakan suatu hasil dari kebudayaan, begitupula dengan tari, drama, dan yang lain. Para ahli antropologi mendefinisikan kebudayaan sebagai kerangka berfikir yang berlaku di dalam masyarakat, dengan mengikuti pendapat dari ahli antropologi maka kebudayaan bukan lagi berbicara tentang cipta, rasa dan karsa tetapi lebih dari kerangka atau nilai-nilai yang berjalan (berlaku) dalam masyarakat.

Etika merupakan suatu cabang filsafat dan sekaligus merupakan suatu cabang tentang ilmu kemanusiaan (humaniora). Sebagai cabang filsafat etika membahas system yang mendasar tentang ajaran dan pandangan tentang moral.  Sedangkan bila sebagai ilmu dalam etika mengapa kita mengikuti moral tertentu. Etika sebagai ilmu terbagi menjadi dua yakni yang umum dan khusus. Etika dalam artian yang umum membahas prinsip-prinsip yang umum tentang tindakan manusia. Sedangkan etika dalam artian yang khusus terbagi menjadi dua macam yang bersifat individual dan yang bersifat social. Etika yang bersifat individual membahas tentang diri, kewajibannya, suara hati nurani, serta kepercayaan terhadap Tuhan. Sedangkan etika yang bersifat social meliputi cabang yang lebih khusus seperti etika dalam bisnis, profesi, lingkungan kedokteran, seksual dan politik. (Abdul Hadi WM, Pancasila Sebagai Etika Politik dan Dasar Ideologi Negara)

Etika politik dalam pengertian yang luas bukan hanya yang sempit berbicara tentang bagaimana cara memperoleh kekuasaan, tetapi lebih jauh lagi yakni bagaimana cara memperoleh kekuasaan dan kekuasaan itu digunakan. Jadi yang dibahas dalam etika politik ini bukan hanya person tetapi lebih dari itu. Pembahasan yang dilakukan oleh etika politik meyangkut institusi atau lembaga Negara dan sasarannya. Hal yang perlu dibahas dalam etika politik paling tidak ada tiga macam yakni yang berkaitan dengan individu, ruang lingkup kebebasan, dan institusi yang lebih adil kebijakanya. Etika politik yang berkaitan dengan individu merupakan tugas dari etika ini untuk membentuk seorang politikus yang memiliki moral yang berorientasi pada keadilan. Moralitas politikus merupkan ukuran dalam etika politik yang berkitan dengan individu bila berkomunikasi dengan orang atapun lembaga yang lain.

Etika politik yang berkaitan dengan kebebasan ini merupakan suatu bentuk ekspresi individu dalam megapreasiasikan kepentingan politiknya. Kebebasan ini menjadikan landasan untuk lebih progresif dalam aktualisasi politik tanpa menggangu hak politik dari yang lain. Sedangkan aplikasi dari individu dan kebebasan maka institusi yang menjadi tujuan dalam kebijakan yang diambilnya pun harus sesuai sehingga tercipta keadilan dan mensejahterakan masyarakat. Sebenarnya kalau mau melihat dasar Negara merupakan suatu etika politik modern dikarenakan dalam Pancasila memuat hal-hal yang mendasar dalam seperti pluralisme, HAM, demokrasi, solideritas bangsa dan keadilan social. (Franz Magnis Susesno, Kuliah Umum  di Fakultas Filsafat UGM).  

Budaya sebagai system nilai yang berlaku dalam masyarakat sedangakan etika politik merupakan suatu proses menuju kekuasaan dan bagaimana mengaplikasikan untuk kepentingan rakyat. Kebudayaan  dan etika politik merupakan suatu pengaplikasian dari kondisi masyarakatnya. Seiring dengan kemajuan tingkat pendidikan dan kebudayaan maka dalam perpolitikan yang terjadi dalam masyarakat akan membaik, sebagaimana hal ini terjadi di USA. Yang menjadi tugas kita bersama adalah bagaimana cara membuat kebudayaan yang didasarkan pada nilai-nilai kebangsaan. untuk menanggapi hal tersebut paling tidak ada kerja tiga kerja intelaktual yang harus dilakukan. Pertama, dengan mengenalkan pendidikan pada masyarakat sehingga dapat berfikir rasional dan ilmiah. Kedua, dengan melaksanakan pelatihan dan pendidikan politik kepada masyarakat guna menggunakan haknya agar dapat mencapai yang dicita-citakan bersama. Ketiga, menciptakan system yang demokratis dengan menjaga pluralitas, HAM dan keadilan social yang terselama ini terbungkam.     





Sastra Profetik; Mengenal Sastra Kuntowijoyo

2 02 2008

Sekilas tentang Sastra

Sastra merupakan suatu wujud dan hasil dari kebudayaan. Sastra merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia dalam menyikapi realitas kehidupan dengan menggunakan bahasa symbol khususnya terjadi pada puisi, sajak, syair dan yang lain. Dalam sejarah perkembangan sastra merupakan ungkapan atas rasa yang terjadi pada manusia. Hal ini dapat dilukiskan dengan pengalaman religius orang-orang sufi dalam bercinta dengan kekasih-Nya. Ungkapan yang keluar merupakan suatu bentuk karya yang cukup dasyat didalam kehidupan, sebagaimana syair yang dikumandangkan oleh Rumi, Iqbal, Al Halaj dan yang lain.Sastara Indonesia yang sekarang banyak bercorak snab dan norak baik dalam pola ucapan atapun dari segi isinya. Sastara yang demikian merupakan suatu bentuk sastra bukannya untuk meninggikan drajat kemanusiaan tetapi membawa pembaca pada pengumbaran jiwa manusia dengan ekspresi yang rendah. Oleh karena itu perlunya diimbangi dengan sastra yang bercorak lebih bagus secara makna dan isinya, yang berdasarkan pada nilai-nilai agama.Sastra yang bercorak pada nilai-nilai agama merupakan pengungkapan jiwa dan sarana untuk melakukan Ibadah pada Pencipta. Sebagaimana sastra Islam merupakan sastara yang bersifat multi fungsi dimana bukan pengungkapan jiwa semata tetapi mengajarkan nilai-nilai transenden. Perkembangan sastra Islam dalam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dunia tasauf. Hal tersebut dikarenakan dalam ilmu tasauf di gambarkan pada wilayah esoteris bertemunya manusia dengan Penciptanya. Proses pengungkapan kalimat yang indah ketika manusia menyatu dengan Tuhan, dikarenakan pancaran Ilahi masuk kedalam hatinya. Persatuan yang terjadi pada orang sufi memunculkan suatu karya yang universal dan berada dalam genggaman orang-orang sufi.Dalam konteks sejarah sastara Indonesia pengaruh sufi sangat kental, hal ini dapat dilihat dari sastra karya Hamzah Fansuri dan Abdul Hadi. Sebenarnya jika mau dilihat lebih jauh lagi menurut Kunto semua sastra memiliki bobot transcendental dalam proses pengungkapannya karena dilihat dari teologis dan metafisis. Dalam kesastraan Indonesia sebenarnya ada dua macam kubu yakni sastra kemanusiaan dan sastra pembebasan. Oleh karena itu, Konto menawarkan konsep sastra yang transcendental guna menanggapi isu yang ada dalam perkembangan sastra pada saat itu.

Sastra Kuntowijoyo Upaya Mengetahui Jejak Pemikiran

Kunto merupakan sosok figure yang fenomenal pada masa itu dikarenakan konsep yang ia tawarkan dalam melihat realitas. Dilihat dari latar belakang pendidikannya ia merupakan seorang yang ahli sejarah. Sejarah yang ia ungkapkan dengan menggunakan pendekatan social, hal ini dapat dilihat dari disertasinya yang membahas tentang perubahan social masyarakat Madura. Walaupun ia seorang sejarahwan tetapi apa yang dilakukan oleh Kuntowijoyo lebih dari sejarahwan. Hal ini dikarenakan ia banyak sekali memberikan konstribusi pada bidang yang lain seperti sastra, ilmu social dan pengintegrasian ilmu agama dengan pengetahuan dengan konsep pengilmuan Islam.Dalam membicarakan tentang alur pemikiran yang dilontarkan oleh Kunto, kita dapat membahas dari sastra yang iagoreskan pada kertas, dan karya-karyanya. Pak Kunto dalam karyanya memerlukan refleksi yang dalam menyikapi realitas. Ketika kita mencoba membaca karyanya merupakan suatu gagasan yang bersifat filosopis, paradigmatic dan perlu diterjemahkan kedalam dataran yang lebih praktis. Sebagaimana dalam teori sastra bahwa dalam pembagiannya sastara terbagi menjadi tiga macam yakni sastara yang bercorak kemanusiaan, pembebasan dan sastra yang bersifat trasendental. Sastra yang bercorak kemanusian ini dapat dilahat dari tokoh yang melakukan pengkajian kemanusiaan dan kebebasan manusia, sedangkan sastara yang bercorak pembebasan diketahui dengan seorang yang mengkaji tentang social kemasyarakatan. Sedangkan sastra yang bercorak transcendental merupakan karya sastra hasil religius pengalaman keagamaan sebagaimana yang terjadi pada orang-orang sufi. Terus yang menjadi pertanyaan bagaimanakah sastra yang dibawa oleh Kunto.Melihat dari sastara yang ada bahwa Kunto dalam perkembangan pemikirannya terbagai menjadi dua arus besar yakni sastara yang bercorak transcendental (religius) dan sastra yang bercorak profetik. Sastra yang bercorak transcendental dapat kita lihat dalam Novelnya seperti Kotbah di Atas Bukit, Impian Amerika, dan cerita pendek seperti Dilarang Menyintai Bunga-Bunga, Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan serta kumpulan puisi-puisinya dengan judul Suluk Awang Uwung. Sedangkan sastra yang bercorak profetik ketika ia sudah berdialog dengan pemikiran Prof. Dr. M. Qurais Shihab, M.A dengan judul bukunya Membumikan Al Qur’an, serta tokoh yang lain seperti Muslim Abdurrahman, Adi Sasono dan yang lain. Hal ini, juga dapat kita amati dalam karya novelnya Pasar, Mantara Pejinak Ular, Wasripin dan Satinah serta kumpulan puisi-puisinya Makhrifat Daun Daun Makhrifat. Sastra profetik merupakan pengembangan dari sastra yang bercorak religius dimana dalam sastra profetik ada unsure yang harus terpenuhi bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan. Sastra profetik merupakan inspirasi dari Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal, dimana manusia memiliki sikap kebebasan apa yang menjadi pemimpin. Seni merupakan menjadi alat perubah dan pengerak realitas social dan seniman menjadi inspirator perubahan serta bagaimana menciptakan yang lebih baik.Sebagaimana unsure sastra yang bercorak profetik menurut pandangan Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal, meliputi kebesaran makna Illahiah, manusia merupakan mahluk yang merdeka dan kreatif, manusia menjadi khalifah dan melibatkan diri dalam proses social, sedangkan yang terkhir keseimbangan antara dimensi vertical dengan horizontal. Sedangkan Kunto juga merumuskan tentang etika profetik dalam surat al Imron ayat 110, yang menjiwai dari sastra-sastranya. Unsure dalam surat al Imron 110 yakni; amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahyi munkar (mencegah kejelekan), dan iman (tu’minuna) bi Allah (beriman kepada Allah). Ketiga hal ini adalah unsur yang tak terpisahkan dari etik profetik. Sekarang yang perlu melihat puisi atau tulisan sastranya Kunto dalam melihat sejarah pemikirannya.

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga, 
misalnya, berkisah tentang seorang tua, 
seorang anak yang mencintai bunga-bunga, 
dan seorang bapak yang melarang anaknya mendekati bunga-bunga. 
"....Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. 
Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk 
pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, 
keremajaan, keindahan. Hidup 
adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. 
Kita adalah dua tangkai 
anggrek...".
Sisi ketuhanan tampak menonjol disini, 
penggambaran kehidupan yang serba indah penuh cinta, 
yang banyak dijumpai dalam puisi-puisi sufistik, 
bukan hanya puisi melankolis cinta antara anak manusia.
 Seperti dalam cerpen dilarang menyintai bunga-bunga Kunto mencoba menawarkan cara pandang 
terhadap lingkungan menggunakan logika agama bukanya dengan logika kerja 
seperti yang dilakukan oleh ayah gadis dalam cerita tersebut. 
Dimana dengan menggunakan logika agama menjadikan kita hidup 
seperti dengan damai dan indah dalam suatu taman serta tidak menimbulkan kekerasan. 
Tetapi begitupula sebaiknya ketika gadis dalam cerita tersebut menggunakan logika dunia 
menimbulkan ketidakpuasan dalam diri dan untuk kepentingan yang sesaat.

Sastra Kunto dalam pemikirannya lebih cenderung religius dan sufistik dengan menentangkan kehidupan yang ideal dengan yang tak ideal seperti dalam cerpen tersebut. Ini merupakan pemikiran Kunto yang bercorak religius dan cenderung sufistik dalam era pemikirannya, dan berakhir pada tahun 1990-an. Sedangkan dari puisinya yang bercorak religius

Angin gemuluh di hutan        Memukul ranting Yang lama juga      Tak terhitung  jumlahnya    Mobil di jalan Dari ujung ke ujung        Aku ingin menekan tombol     Hingga lampu merah itu Berhenti  Angin, mobil dan para pejalan  Pikirkanlah, ke mana engkau pergi (Suluk Awang Uwung)

Makna yang diinginkan oleh penulis merupakan nasehat bahwa kita sering terjebak pada rutinitas dunia, sehingga lupa kemana arah tujuan hidup ini. Seperti pada kata aku ingin menekan tombol hingga lampu merah itu berhenti bermakna ia berusaha ingin menghentikan ritualitas manusia yang kehilangan makna hidup. Sedangkan pada kata angina, mobil dan para pejalan pikirkanlah kemana engkau pergi merupakan sikap untuk merenungi apa yang telah dilakukan dan apa yang direncanakan, sehingga tidak terjebak dengan rutinitas kehidupan. Selanjutnya pemikiran yang bercorak profetis dalam puisi yang dibuat oleh Kunto.Sebagai hadiah
Malaikat menanyakan
apakah aku ingin berjalan di atas mega
dan aku menolak
karena kakiku masih di bumi
sampai kejahatan terakhir dimusnahkan
sampai dhuafa dan mustadh’afin
diangkat Tuhan dari penderitaan
(Makhrifat Daun Daun Makhrifat)

Sajak tersebut ditulis pada tahun 1995 ketika kesehatan Kuntowijoyo masih terganggu. Dalam keadaan sakit, ia melihat malaikat berkelebat sambil menawarkan hadiah kepadanya. Tetapi, Kuntowijoyo menolak tawaran tersebut. Sebab, konsekuensi menerima tawaran itu adalah ‘terbang dari bumi’. Maka ada semacam perjuangan melawan maut barangkali. Bagaimanapun, pengalaman sakitnya yang lama membuatnya berusaha untuk sembuh. Ia terserang Meningo encephalitis, radang selaput otak kecil yang menyebabkan kelumpuhan. Sejak 1992 ia sempat dirawat di Ruang Gawat Darurat RS Sardjito, Yogyakarta, selama 35 hari dan mesti beristirahat untuk waktu yang cukup lama.Itulah sejarah Kuntowijoyo, yang sempat menuliskan pengalamannya dalam bentuk puisi. Puisi tersebut selain bercerita pengalaman mistisnya kepada pembaca, juga ingin mengabarkan bahwa di dunia ini masih dipenuhi kejahatan dan penderitaan. Terlihat ia sangat peduli pada dunia. Meminjam kata-kata Leonardo da Vinci, Kuntowijoyo seperti ingin memperbaiki bumi yang rusak, ingin melukis langit agar menjadi indah, tidak ikhlas diberi hadiah malaikat (nikmat-ketenteraman) jikalau bumi masih carut marut. Dari puisi tersebut, dapat saya tulis tiga hal tentang sastra dan sejarah. Pertama, bahwa puisi bukan semata lukisan peristiwa-peristiwa, namun memungkinkan makna dari peristiwa-peristiwa. Paparan tersebut bakal menghasilkan suasana ketika momen puitik yang berhasil direkam dalam puisi menjadi hidup, memiliki nyawa. Seperti kata kaum Romantik Jerman, ketika perasaan dikendalikan daya imajinasi, kita lihat juga Stimmungslyriek (lirik suasana), di mana hal yang penting bukanlah gambaran visual atau isi konkret melainkan suasana yang dibangkitkan. Semacam ruh puisi. Coba kita simak puisi berikut ini:

Yang berjalan di lorong
hanya suara-suara
barangkali kaki orang
atau malaikat atau bidadari atau hantu
mereka sama-sama menghuni desa di malam hari
Kadang-kadang kentong berjalan
dipukul tangan hitam
dari pojok ke pojok
menyalakan kunang-kunang
di sela bayang-bayang

Puisi berjudul Desa di atas kental bersuasana pedesaan. Penyair menuliskan kegiatan orang-orang desa malam hari. Tetapi penyair melukiskan pendengarannya (citraan audio) melalui perasaan yang diraba dengan mungkinan (ciri khas Kuntowijoyo ketika menghadapi mitos dan realitas). Suasana yang terbangun adalah sebuah ‘rahasia’ malam, kemudian ditampilkan filosofi dan mistis. Kedua, sebagaimana ‘cap’ saya, Kuntowijoyo adalah sejarawan sastra, bahwa karya sastra bukan sekedar reproduksi dari realitas melainkan sesuatu yang mempertajam dan membuat intens penghayatan kita pada realitas (Mohamad, 1993). Sejarah bukanlah sastra, sebab sastra memerlukan imajinasi, perasaan, dan empati. Realitas yang ditangkap terlebih dahulu mengalami masa inkubasi dari penghayatan yang intens. Contohnya adalah Kuntowijoyo sendiri. Pada pertengahan 1950-an ia menghabiskan hidupnya di Ngawonggo, sebuah desa sunyi di Ceper, Klaten. Persentuhannya dengan surau, bambu, kunang-kunang, kentongan yang ditabuh, mitos, dsb kemudian melahirkan renungan tentang hidup.Ketiga, ketika realitas yang dihadapi bertolak belakang dengan hati nuraninya, maka yang ditulis adalah pelarian dari realitas. Ia berusaha lari dari realitas tanpa meninggalkan dunia. Maka kemudian diciptakan dunia ideal. Dunia ideal yang diciptakan puisi tersebut barangkali dengan membalik realitas yang digambarkan Kuntowijoyo, tentang ia (yang) lebih suka bumi tenggelam/daripada ia tak tenteram (baris-baris terakhir sajak Hikayat).Dunia ideal adalah dunia angan yang diinginkan tetapi tidak juga dapat direalisasikan di dunia nyata. Abrams menyebutnya sebagai supernaturalisme-natural, karena dunia baru yang ingin diciptakan bukanlah surga yang ada di luar dunia nyata melainkan ada di dalamnya. Surga tidak diciptakan melalui kekuatan supernatural tetapi melalui penyatuan pikiran manusia dengan alam (Faruk, 2002). Secara umum, romantisisme karya-karya Kuntowijoyo dapat dipahami dari dunia ideal yang dibangun, empati, perasaan, dan pemilihan kata. Daya gugah bahasanya yang sederhana salah satunya adalah bahasa simbol. Bahasa simbol adalah sejenis retorika yang bersisi ganda, yang menyatakan sesuatu tapi mensyaratkan pengetahuan tentang sesuatu yang lain. Pemikiran Kunto secara garis besar menurut Zainal Abidin Bagir, ada dua gagasan utama yang dibahas di sini: pengilmuan Islam dan integrasi ilmu dengan etika. Meskipun di tulisan-tulisan awalnya (80-an dan awal 90an) ia tampak bersimpati pada gerakan islamisasi ilmu, belakangan ia membedakan gagasannya tentang pengilmuan Islam dari gerakan tersebut, bahkan mengatakan bahwa “gerakan islamisasi ilmu mesti ditinggalkan”. Kuntowijoyo meyakini objektifitas ilmu, namun menolak klaim bebas-nilainya, dalam artian netralitas/ketakberpihakan. Di satu sisi, Islam mesti dijadikan ilmu (diobjektifikasi); di sisi lain, ilmu-ilmu (khususnya sosial) mesti menyatakan keberpihakan yang jelas, yaitu kepada cita-cita profetik universal agama-agama: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Hal ini juga dapat terlihat dari karya sastra yang mencoba melakukan pengilmuan Islam dan proses integrasi ilmu dengan agama. Misalkan dalam Novel terbarunya Wasripin dan Satinah ia mencoba menggambarkan tentang rasionalasasi agama dan melakukan objektifikasi terhadap agama.