Relitas Muhammadiyah; Bercermin Pada Pendiri Muhammadiyah

a. Pendahuluan

Sudah lama intelektual Islam Indonesia dibedakan secara dikotomis kedalam modernis dan tradisonalis, termasuk Muhammadiyah yang modernis dan NU yang tradisionalis. Para pemrhati social yang berbasik kampus atau yang berbasik keilmuan keagamaan dan tipologi ini masih sangat lazim diterima. Akibat dari dikotomi tersebut mereka berlomba-lomba membangun citra yang enak dipandang dan didengar oleh para peneliti yang pandai dalam menciptakan katagori. Berawal dari perebutan citra ini banyak oraganisasi Islam di Indonesia digiring ke dunia yang tidak nyata, terjebak kedalam duania yang serba semu dalam citra. Tetapi yang ironis pertarungan dan perbedaan yang selama ini terjadi tidak ditarik kepada asumsi bahwa perbedaan merupakan suatu yang semu belaka yang diciptakan orang lain dalam melihat realitas “diri” mereka. (Bahrus Surur Iyuk, Teologi Amal Saleh).

Pengkajian dan penelitian tentang Muhammadiyah tak kunjung usai, dan Muhammadiyah ibarat sebuah bangunan yang besar yang dapat dilihat dari berbagai sudut, sehingga memunculkan banyak objek penelitian yang penting untuk diteliti. Sebagai gerakan social keagamaan modernis terbesar, Muhammadiyah memiliki keunikan tersendiri. Muhammadiyah merupakan gerakan soisal keagamaan yang mengalami keberhasilan dalam praksis sosialnya yang telah melahirkan ribuan amal usaha yang tersebar dalam penjuru tanah air. Berdasarkan data yang terbaru (2005) amal usha Muhammadiyah alam bidang pendidikan berjumlah 5.797 buah. Masing-masing dengan rincian sekolah dasar sejumlah 1132 buah, madrasah ibtida’iyah 1184 buah, sekolah menengah pertama 534 buah, madrasah tsanawiyah 511 buah, sekolah menengah atas 263 buah, sekolah menengah kejuruan 172 buah, madrasah aliyah 67 buah, pondok pesantren 55 buah, akademi 4 buah, politeknik 70 buah, sekolah tinggi 70 buah dan universitas 36 buah. Total amal usah ayng telah dimiliki oleh Muhammadiyah sebanyak 7.489 buah.

Angka yang terjadi dalam amal usaha Muhmmadiyah merupakan jumlah yang cukup fantastis bagi organisasi social keagamaan. Apalagi keberadaan amal usaha tersebut merupakan pengejawatahan dari model pemahaman keagamaan (keislaman) di Muhammadiyah. Konstruksi pemahaman keagamaan tersebut cukup unik dan menarik untuk dikaji secara intensif. Mengingat model pemahaman keagamaan yang telah diusung oleh Muhammadiyah, lantas kemudian terejawantahkan dalam realitas kehidupan social yang nyata, berupa amal usaha yang telah dinikmatai oleh umat manusia. Muhammadiyah sebagai organisasi bervisi social keagamaan memang telah banyak mewarnai dalam perjalanan sejarah nasional. Bahkan konstribusi Muhammadiyah telah terasa dalam pembangunan bangsa. Bukan hanya konstribusi dalam amal usaha, tetapi Muhammadiayh telah menyumbangkan kader-kadernya melalui sederetan tokoh nasional. Banyak tokoh nasional yang telah berjas terhadap bangsa ini, baik sewaktu memperjuangkan kemerdekaan maupun ketika mengisi pembangunan, mereka adalah kader-kader terpilih Muhammadiyah. (Haedar Natshir, Pengantar dalam Muhammadiyah Gerakan Social Keagamaan Modernis)

Secara sosiologis Mehammadiyah merupakan gejala kota, jika itu benar maka memiliki jarak social orang kota dengan orang desa. Perbedaan terjadi dikarenakan adanya jarak social. Jarak sosial dalam Muhammadiyah sebagai gerakan kota maka ketika masuk ke desa mengalami pribumisasi sehingga memunculkan empat varian dalam Muhammadiyah. Islam murni (kelompok al-ikhlas), ia tidak mengerjakan TBC dan tidak toleran kepada yang melaksanakan TBC, Islam murni yang tidak mengerjakan sendiri tetapi toloeran terhadap pernyakit TBC (kelompok Kyai Ahmad Dahlan), neotradisonalis (kelompok Munu atau Muhammadiyah–NU), dan neosinkretis (kelompok Munas, Muhammadiyah Nsionalis dapat juga disebut Marmud atau Marhaenis-Muhammadiyah). Kenyataan yang berada di Muhammadiyah penting artinya, karena selama ini semua orang melihat bahwa Muhammadiyah terdiri dari satu kelompok saja, nyaitu Islam Murni. Dengan melakukan pribumisasi bahwa dominasi petani di pedesaan telah menyebabkan perubahan dalam praktik keagamaan anggota persyarikatan, ada “teologi petani”. Praktik yang telah dipandang sebagai TBC telah diakomodasi dalam gerakan Muhammadiyah, walaupun dengan perubahan-perubahan penting. (Kuntowijoyo, Jalan Baru Muhammadiyah)

b. Sejarah Berdirinya Muhammadiyah

Munculnya Muhammadiyah merupakan sebagai gerakan social keagamaan dalam social budaya waktu itu merupakan “eksperimen sejarah” yang cukup spektakuler. Menurut kacamata sosiologi agama Muhammadiyah pada awal berdirinya merupakan suatu “gerakan sempalan” organisasi keagamaan, tetapi memberikan konotasi yang bagus, bukan sekedar tampil beda dan beberapa kemudian hilang ditelan masa. Banyak gerakan sempalan keagamaan kontemporer yang tidak berumur panjang cenderung agak neko-neko, tapi Muhammadiyah terus berusia panjang bahkan amal usahnya terus bertambah. (M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural)

Pada waktu itu, Muhammadiyah menghadapi tiga front yaitu; modernisme dari kolonialisme Belanda, tradisonalisme dan jawaisme. Modernisme dijawab oleh KH. Ahmad Dahlan dengan mendirikn sekolah-sekolah, kepanduan, voluntary association. Sedangkan untuk jawaban terhadap permasalahan jawaisme dan tradisonalisme langkah yang telah diambil oleh KH. Ahmad Dahlan. Pertama, terhadap tradisionalisme KH. Ahmad Dahlan dengan menggunakan metode tabligh (menyampaikan) dengan mengunjungi murid-muridnya , lebih dari pada menunggu mereka datang. Padahal pada waktu itu, guru mencari murid adalah persoalan aib social-budaya. Tetapi yang sebenarnya sosok KH. Ahmad Dahlan pantas didatangi oleh murid-muridnya dikarenakan kecakapan dan kemampuannya dalam bidang agama, dan sudah berhak ia untuk didatangi oleh murid-muridnya. Dalam sejarahnya yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan ia mengajari anak-anak perempuan di Solo, kemudian dalam surat kabar 8 September 1915 ia mengantarkan murid-muridnya untuk berekreasi di taman Sri Wedari. Tabligh pada waktui itu merupakan perbuatan yang luar biasa, dikarenakan setidaknya tabligh yang ia lakukan memiliki dua implikasi yaitu perlawanan langsung terhadap idolatry (pemujuaan tokoh) ulama dan perlawanan langsung terhadap mistifikasi agama. Kedudukan ulama saat itu, sangat tinggi dikarenakan menjadi mediator antara manusia dengan Tuhan, menjadi elit dalam masyarakat dan guru dalam menyampaikan agama.

Kedua, dalam menghadapi Jawaisme KH. Ahmad Dahlanmenggunakan metode positive action (dengan mengedepankan amar ma’ruf) dan tidak secara frontal meyerangnya (nahi munkar). Dalam Swara Muhammadiyah tahun 1915 dalam artikel yang menerangkan macam-macam solat sunah, ia menyebutkan bahwa keberuntungan semata-mata karena kehendak Tuhan dan solat sunah merupakan salah satu jalan untuk meraihnya. Ia menrangkan bahwa keberuntungan tidak disebabkan oleh pesugihan (jimat kaya), meminta di kuburan keramant, dan memelihara tuyul. Ini meruapakan upaya demitologisasi yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan dikarenakan penolakannya terhadap mitos. (Kuntowijoyo, Jalan Baru Muhammadiyah)

Praktik pembaharuan yang telah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan, adalah pembenahan arah kiblat yang dalam umat Islam yang seringkali keliru, keinginan yang kuat dari KH. Ahmad Dahlan untuk membenarkan arah kiblat pada masjid kasultanan tetapi ditetangkeras. Untuk membuktikan kebenaran pendapatnya ia mendirikan shuro dengan ketepatan arah kiblatnya, tetapi dalam usahanya ditentang oleh KH. Muhammad Halil dan mengancam mau dirobohkan. Melihat kondisi tersebut KH. Ahmad Dahlan mau hijrah dari kampungnya tetapi tidak diperkenankan oleh keluarga dan keluarga menjanjikan bahwa suro yang ia dirikan tidak akan dirubuhkan. Dengan janji tersebut maka KH. Ahmad Dahlan tidak jadi meninggalkan kampungya (Ahmad Taufik dkk, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam).

Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan dalam kelahirannya tidak dapat dipisahkan dengan kondisi social budaya yang melingkupinya. Boleh jadi, munculnya gerakan tersebut sikap protes terhadap kondisi atau malahan sebaliknya sikap yang mendukung atau status quo terhadap yang terjadi. Munculnya Muhammdiyah secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua bagian besar yakni factor internal dan factor eksternal.

Factor iternal

Factor internal merupakan factor yang berkaitan dengan ajaran Islam itu sendiri secara menyeluruh. Dalam hal ini merupakan yang berkenaan dengan dasar-dasar gerakan ini muncul dari nilai-nilai ajaran Islam berdasarkan interpretasi pendirinya, sikap keberagamaan umat Islam, dan kondisi lembaga pendidikan umat Islam pada waktu itu. Interpretasi terhadap nilai-nilai Islam. Pada awal berdirinya Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah yang mengemban misi Islam. Yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan terhadap al Qur’an merupakan suatu aktivitas amal, maka ia memikirkan agar perlu mendirikan organisasi agar gerakannya sistematis rapih dan teratur. Hal ini sesuaio pemahamannya terhadap surat al Imran ayat 104, 110, surat al Muan 1-5, surat Yusuf 108, surat an nahl 125, surat as shaff, dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam bukhari dan Muslim tentang melihat kemungkaran dan perintah mencegahnya sesuai dengan kekuatannya. Sikap keberagamaan umat Islam yang sinkretis dikarenakan terpengaruh oleh kultul Hindu-Budha sebelujm Islam masuk ke Nusantara. Keyajianan yang sinkretis merupakan asimilasi kebudayaan dan melahirkan Agama Jawa, dan agama jawa tersebut tumbuh subur di daerah pedalaman yang duluinya merupakan pusat kebudayaan Hindu-Budha. Refleksi dari keagamaan tersebut maka yang dilakukan umat dalam menjalankan keagaannya bersifat sinkretis dan melakukan syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat dalam masyarakat sebelum Muhammadiyah lahir.

Lembaga pendidikan. Pendidikan yang berjalan dalam masyarakat berjalan bukan mengajarkan tentang keterbukaan tetapi menjadi taklid buta terhadap mazhab fiqh, imam, guru, kayi dan syekh. Sikap tersebut berjalan pada pendidikan yang bercorak tradisional yang dalam metode pembelajarnya top-down, ditambah lagi kitab yang dipakai hanya satu mazhab. Pembelajaran top-down murid bersikap pasif, membuat prtnyaan serta membantah pendapat guru atapun kyai merupakan hal yang tabu. Lembaga pendidikan bukannya untuk tranformasi pengetahuan tetapi sebagai pelanggeng ajaran konservatistisme dan memumupuk jiwa jumud serta taqlid. Serta pendidikan modern yang telah dilakukan oleh bangsa Barat yang berjalan ditanah air bercorak sekulerisme. Pendidikan itu, hanya untuk golongan tertentu dan umat Islam tidak dapat meng-akses agar dapat merasakan pendidikan modern.

Factor eksternal

Factor eksternal yang telah melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah adanya dua macam, yakni kondisi penjajahan colonial dan semangat pembaharuan di Timur Tengah yang beritanya sampai ke Nusantara. Kondisi colonial yang memprihatinkan rakyat dalam jurang dehumanisasi dan kebijakan politik dari pemerintah colonial untuk menyebarkan agama (kristenisasi). Puncak dari kebijakan Kritenisasi tersebut mencapai puncaknya dalam masa kepemimpinan AWF. Idenburg sebagai Gubenur Jendral Hindia Belanda. Kebijakan yang diambil pemerintah colonial tidak segan dan memberikan dana bantuan yang besar dalam menjalankan misinya. Bahkan apa yang dilakukan dalam menjalankan misinya ia juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan swasta dan mayoritas lembaga swasta tersebut memiliki misi kristenisasi. Dalam keadaan tersebut umat Islam mengalami dua buah kesulitan masalah untuk memperoleh haknya yakni kemerdekaan dan misi Kristenisasi yang dapat mengguncang keyakinannya.

Ide-ide pembaharuan Timur Tengah mengalir ke Nusantara pada akhir abad 19 menjelang abab 20. masuknya ide tersebut melakui orang yang naik haji, serta melalui majalah al Manar yang beredar ke Nusantara. KH. Ahmad Dahlan merupakan orang yang berkenalan dengan pembaharuan di Mesir dan gemar membaca al Manar, bahkan dalam sejarahnya ia pernah bertemu dengan Rasyid Ridha ketika ia naik haji, dan sempat bertukar fikiran sehingga cita-cita pembaharuan meesap kedalam hati sanubari KH. Ahmad Dahlan. KH. Ahmad Dahlan sebagai pembaca al Manar yang aktif, dapat diperoleh dari temannya di Jami’at al Khair. Dalam organisasi tersebut ia sebagai anggota pasif tetapi ia dapat meyerap informasi tentang perkembangan dunia Islam, dikarenakan organisasi tersebut memiliki jaringat yang kuat dengan dunia Islam di Timur Tengah. Kitab-kitab yang dibaca oleh KH. Ahmad Dahlan bercorak modernis yang berasal dari pemikiran Muhammad Abduh. (Sutarmo, Muhammadiyah Gerakan Sosial Keagamaan Modernis).

c. Sistem Pemikiran KH. Ahmad Dahlan

Generasi awal dalam Muhammadiyahmencoba menafsirkan normativitas agama untuk dipakai sebagai dasar beragama dan sekaligus sebagai landasan bagi reformasi social. Keyakinan atau system kepercayaan akan teraktualisasikan secara eksternal kedataran realitas social dengan system pengetahuan (pemikiran) keagamaan. Sikap sejuk dan toleran dimiliki oleh generasi awal Muhammadiyah dan pelaksanaan akibah bukan saja dalam aspek ritual saja tetapi bersifat praksis social. Hal in menjadikan dalam memahami Islam bukan hanya dari aspek ritual tetapi berusaha menjadikan Islam sebagai rahmat dan meliputi segala aspek kehidupan. (Bahrus Surur Iyunk, Teologi Amal Soleh).

Kenyataan sejarah yang sering dilupakan oleh para pengkut Muhammadiyah dan “musuh-musuhnya” ialah bahwa KH. Ahmad Dahlan sangat toleran dengan praktik keagamaan zamannya, sehingga ia dapat diterima oleh semua golongan. Sebagai seorang santri ia sebagai pengurus BO, mengajar pada Kweekschool dan mudah bergaul dengan orang BO yang pasti dari golongan priyayi yang cenderung abangan. Hal ini terbukti pada tahun 1914 ia bermaksud ingin mendirikan sekolah di Muhammadiyah di Karangkajen Yogyakarta, teman-teman BO meminjamkan uang dan menyediakan diri menjadi penjamin supaya ia mendapatkan uang pinjaman dari bank. (Darmo Konda, 12 Desember 1914). Akan, tetapi orang mengingatnya sebagi tokoh pemurnian Islam yang konsekuen dalam gagasannya. Namun dalam kenyataanya Islam murni hanya berlaku pada dirinya sendiri dan orang-orang yang sefaham, tetapi tidak untuk orang yang lain. (Kuntowijoyo, Jalan Baru Muhammadiyah).

Muhammadiyah dalam berdirinya tidak dapat dilepaskan dengan tokohnya yakni KH. Ahmad Dahlan yang dalam pemikiran dalam memahami agama cenderung fait action. Alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan dalam memahami agama dengan metode praktek dan pengaktualisasian kehidupan merupakan tuntutan realitas pada waktu itu, dikarenakan masyarakat mengalami dehumanisasi, penjajahan sehingga banyak orang miskin dan termarginalkan. KH. Ahmad Dahlan menginginkan agama sebagai pemecahan permasalah terhadap problem social yang terjadi sehingga agama dapat menjadi rahmat. Berikut ini merupakan jawabab KH. Ahmad Dahlan ketika ditanya muridnya mengapa ia tidak menulis kitab; murid mengusulkan kepada Kyai, “agar kyai membuat kitab, sebab belum pernah ditemui seorang kyai mengajarkan agama seperti kyai, yang diterima dari kyai begitu baik, bisa membangkitkan, bisa menimbulkan beramal, dan itu baru kali ini. Oleh karena itu alangkah lebih baiknya ajaran-ajaran kyai ini ditulis,” demikian usulan itu. Waktu itu, Kyai dahlan menjawan “apakah saudara ini menganggap saya ini orang gila?” jawaban kyai itu dilontarkan sampai tiga kali.orang itu tentunya tidak faham, kemudian diberi tahu. “Mengapa umat Islam, bukan saja di Indonesia tetapi di dunia pecah satu sama lain, yang satu mengkafirkan yang lain, tahu apa sebabnya?”, ujar kyai “tidak tahu”, kat orang itu. Nah saya beri tau, “karena terlalu banyak kitab-kitab. Kalau saya menambahkan satu kitab lagi, maka saya termasuk orang gila. Saya ingin saja umat Islam kembali kepada al Qur’a dan Hadits”, jawab Kyai. (Bahrus Surur Iyuk, Teologi Amal Saleh). Pemahaman keagamaan KH. Ahmad Dahlan praktis, hal ini dikarenakan kondisi realitas yang pada waktu itu menuntut demikian dan realitas tersebut berbeda jauh dengan sekarang.

Muhammadiyah sebagai gerakan social keagamaan dalam doktrinya menyatakan bahwa prinsip-prinsip Islam tidak terletak pada mazhab fiqh atupun herarki keagamaan, tetapi terletak pada al Qur’an dan Sunah. Para pemimpin gerakan ini harus berpandangan bahwa kenyakinan dan kewajiban agama harus berdasar kedua sumber pokok tersebut. Mereka mempercayai bahwa al Qur’an merupakan sumber yang lengkap dan ajarannya bersifat sempurna, akan dapat selalu menjawab seluruh tantangan zaman. Mereka menempatkan peran akal sangat penting dalam pengungkapan kebenaran. Berikut ini merupakan ciri atau kharateristik pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah pada waktu awal berdirinya.

  1. Akal

Masalah akal mendapatkan pengertian yang baru, penting untuk dicatat bahwa para pemimpin Muhammadiyah sering menggunakan kata akal dari pada kata ijtihad untuk menyebut pemahaman rasional terhadap agama. Akal dan ijtihad merefleksikan pengertian yang saling bergantian yang digunakan untuk memahami agama. Ijtihad membutuhkan pengunaan akal dan menemukan makna interpretasi yang segar. Akal merupakan bagian yang integral dalam ijtihad dan akal merupakan bisa membimbing kaum muslim memahami manfaat usaha-usaha duniawi. Akal juga merupakan element paling penting yang memungkinkan individu memahami perintah Tuhan dan menangkap fenomena dunia ini. KH. Ahmad Dahlan sering kali berucap bahwa setiap manusia harus menggunakan akal untuk memperbaharui keyakinan, usaha, tujuan hidup ini, serta memahami kebenaran. Agama merupakan kebutuhan dasar manusia, maka penafsiran agama harus didasarkan pada akal untuk diterapkan dalam kehidupan praktis. Ajaran agama diorientasikan pada kemajuan serta perbaikan yang dalam pemahamannya menggunakan akal. Akal merupakan alat untuk memahami sumber kebenaran yakni al Qur’an dan sunah, dikerenakan dengan akal akan mudah menerima suatu kebenaran dari ajaran-ajarannya. Penggunaan akal ini berdampak pada pemimpin Muhammadiyah yang memaknakan bahwa ritual sejajar dalam konteks social yang nyata. Secara prinsip akal dapat menerima semua pengetahuan, dan pengembangan akal yang paling penting adalah logikayang mengkaji sesuai dengan kehidupan nyata. Bagi KH. Ahmad Dahlan logika membedakan idealitas dan realitas. Aran Islam ideal dengan logika menuntut untuk implementasi konreat ajaran Islam dan penerjemahan dalam realitas social. Ini menekankan bahwa Islam bukan saja bersifat teoritis tetapi bersifat praktis. KH. Ahmad Dahlan dalam memahami Islam terbagai menjadi tiga bagain penting; bedasar pada prinsip ajaran Islam al Qur’an dan sunah sebagai sumber primer, sedangkan akal menjabarkan isi sumber-sumber itu, penerjemahan pemahaman keagamaan kedalam realitas konkreat.

  1. Relativisme dalam pemahaman keagamaan

Relativits pemahaman keagamaan yang membangun gerakan dasar ini, umat muslim mengganggap bahwa pengetahuannya yang paling benar dan kalim semacam itu keliru karena mereka berdasarkan pada persepsi kelompok mereka sendiri dan penolakannya terhadap ide-ide yang lain. Ia menegaskan bahwa penting untuk belajar kepada orang lain, kerena mengkin kebenaran dapat diperoleh. Bagi KH. Ahmad Dahlan yang benar dan baik harus dicari, tidak secara buta diterima, karena yang pertama mendorong semangat aktifitas dan kreatifitas, sedangkan keduanya menyebabkan sikap pasif yang melahirkan kebodohan. Ketertutupan (ekslusifitas) agama itu terjadi karena bahwa manusia dilahirkan dalam tradisi mereka sendiri. Masing-masing tumbuh dalam dalam lingkungan mereka sendiri, menerima yang benar apa yang telah diturunkan dari pendahulu mereka sendiri. Sikap seperti itu harus ditolak oleh kaum yang beriman, ujar KH. Ahmad Dahlan. Bahkan ia menyarankan untuk belajar agama yang lain dan ide-ide berbeda, dan menyakini bahwa kebenaran berdasarkan wawasan yang lebih luas ini, akan memberi dukungan yang besar bagi implementasi keagamaan dalam kehidupan seseorang. Selain itu, ia menyatakan bahwa seseorang yang mempelajari ide-ide yang berbeda dari yang dimilikinya maka tidak secara otomatis ia menerimanya. Ia juga menekankan dialog dalam mencari kebenaran, bahkan apa yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahalan memiliki keterlibatan diskusi dengan pemuka agama lain. Bahkan dalam sejarahnya KH. Ahmad Dahlan membiarkan teman-temannya dari Indisch social Democratische Partij untuk berbicara dalam acara didepan anggota Muhammadiyah dan mengkampanyekan tentang ide-ide sosialisme dan menetang represif kebijakan pemerintah colonial. Keyanian semacam ini menjadikan menerima kebenaran dari siapun berasal, ia harus didengar dan dipercaya.

  1. Filsafat teloransi

Dalam menyatakan bahwa tidak ada satu kelompok atau ideology bisa mengklaim satu-satunya kebenaran dan pemimpin Muhammadiyah megelurkan pendapat bahwa pendapat ini adalh pendapat Muhammadiyah, tidak menyatakan bahwa pandangan Muhammadiyah merupakan satu-satunya kebenaran yang valid. Mereka, mengudang organisasi lain untuk memberikan komentar terhadap pandangan mereka, hal ini juga sebagian dilakukan memberikan aspresiasi terhadap kelompok atau ulama lain. Kelompok berbeda memiliki pendapat yang berbeda dikarenakan perbedaan ruang, dan waktu, serta kemapuan dalam memahami Islam. Bahwa al Qur’an dan Sunah merupakan sumber hukum yang tetap dan tidak berubah yang berubah adalah pemahaman serta tafsiran terhadap sumber tersebut. Islam juga tidak membatasi pada bilai atau pandangan tertentu, dan pandangan keagmaan sangat luas. Pandangan yang luas ditentukan oleh kapasitas penafsir yang dilakukan oleh manusia, semakin luas pengetahuan dalam memahami ajaran agama maka semakin mudah untuk menerimanya. Prisip relativisme dalam memahami ajaran agama melahirkan sikap menghargai ide-ide lain, karena diakui bahwa seseorang tidak dapat mencapai kebenaran sempurna terhadap agama dengan pengetahuan yang terbatas. Relativitas ibi maka akan mendorong setiap untuk terbuka terhadap ide-ide baru. Dalam menerima ide-ide baru kan melahirkan kesipan bagi pengalaman baru yang pada gilirannya bisa mengekspresikan diri dari berbagai bentuk dan konteks.

  1. Penafsiran agama tidak absolute

KH. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa agama bersal dari sumber yang absolute, namun perlu dipahami, ia dipaami lewat medium penafsiran manusia yang beerlaku setting social yang kompleks. Dalam proses pemahaman ini menjadikan agama tidak sempurna dan kehilangan kemutlakannya. Akibatnya seseorang tidak dapat mengambil kesimpulan mengenai keabadian faham agama karena keterbatasan dan ketidak sempurnaan pemahaman manusia. Salah besar yang memutlakan penafsiran tentang agama karena kemutlakan agama pada agam itu sendiri. Tidak ada pemahaman agama yang absolute dan ajaran Islam yang telah dirumuskan oleh ulama terdahulu tidak bisa dipertahankan sebagai kebenaran absolute, karena penafsiran berlaku sepanjang waktu dan semua tempat. Dalam sejarahnya Muhammadiyah pernah dan kadang-kadang mengubah pandangannya terhadap isu-isu keagamaan tertentu. Pemahan yang benar terhadap aspek social Islam terletak pada aspek pencarian yang rasional dan metodis. Para pimpinan Muhammadiyah yakin bahwa untuk memahami Islam seseorang perlu membekali diri dengan cakupan yang luas. Semakin luas kerangka berfikir, semakin luas pula horizon dalam memahami Islam, dan juga berlaku sebaliknya. Konsekunsi dari relativisme paham keagamaan dan realitas pada waktu itu, umat Islam yang majemuk terdiri dari berbagai aliran. Perbedaan ideologis dan kultur merupakan suatu yang harus dijaga sejauh mana tidak bertetangan dengan nilai atau norma yang mereka anut. Kelompok yang berbeda dapat hidup secara rukun asal saling memahami dan bukan asimiliasi dalam mencapai tujuan bersama. Para pemompin Muhammadiyah menganjurkan kepada umat Islam utuk tidak mencari-cari kesalahan kelompok lain dan membabi buta meremehkan pemikira mereka. Sikap relativisme dalam agam menjadikan terbuka dalam menghadapi modernisasi dan sikap terbuka dengan kebudayaan dari luar.

  1. Iman dan tanggung jawab social

KH. Ahmad Dahlan mendefinisikan iman sebagai jiwa, emosi dan kekayaan seseorang yang mengabdi di jalan Allah. Iman harus melahirkan emosi, ide keinginan prilaku, yang baik dan kebaikan-kebaikan yang mendorong kaum beriman untuk bertindak secara benar. Aspek social dari iman adalah amal sholeh, kebaikan. Korelasi dari iman dan amal soleh berpuncak pada usaha membelanjakan harta kekayaan di jalan Allah. Pemimpin Muhammadiyah pembelajaan hartanya guna mensejahterakan masyarakat. Ibadah saling bersinggungan dengan kemaslahatan masyarakat, Muhammadiyah harus mendasarkan usahanya pada pembaharuan social atas prinsip sesama muslim harus mecintai sebagaimana dirinya sendiri. Ibadah harus memenuhi tujuan tertentu dan memberikan maslahat pada orang banyak, misalkan pada persolan zakat memberika makna social dibalik implementasinya.

Kesadaran yang telah dimiliki oleh individu muslim bergerak menjadi kesadaran kolektif dalam rangka untuk mensejahterakan rakyat. Mandat Muhammadiyah yang paling utama pada waktu itu, memecahklan permasalahan social dengan melaksanakan perintah agama melalui usaha kolektif. Rasionalisasi tindakan tersebut adalah tindakan yang baik tak terorganisir akan mudah dikalahkan dengan kejahatan yang terorganisir.

  1. Solat, amal dan tanggung jawab social

Penggunaan kekayaan seseorang dalam usaha merealisasi keyakinan juga dibicarakan dengan kaitannya ritual untam alain dalam Islam yakni solat. Hal ini diidentikan dengan orang yang mendustakan agama sebaagai orang yang tak dermawan terhadap fakir miskin. Sebaliknya untuk yang beriman memperhatikaan dan meperlakukan orang yang lemah, keyakinan tersebut tertanam dalam anggota Muhammadiyah untuk membelajakan hartanya guna mendukung program social. KH. Ahmad Dahlan mengingatkan bahwa orang yang pelit dan melupaka kebutuhan kaum lemah maka tidak dapat menerima manfaat dari solat karena mendustakan agama. Amal soleh merupakan kewajiban sebagi mukmin dan jika seorang muslim tidak melakukan amal soleh maka bukan mukmin yang sesungguhnya. Dalam pembahsan tentang amal soleh KH. Ahmad Dahlan mengkaitan dengan konsep iman, amal dan ikhsan. Dari tiga wilayah ini penting muncul kewajiban melaksanakan tindakan lahiriah untuk hubungan manusia dengan Tuhan, sesame manusia, serta masyarakat. Kebenaran merupakan sesuatu yang konkreat sebagai manifestasi dari setiap tindakan sesuai dengan kebutuhan manusia, didasari nilai-nilai iman. Dari pemahan itu memunculkan nilai kasih, cinta sesama, serta saling menghormati dan saling kerjasama dalam kebaikan. Nilai normative dari amal soleh harus kebenaran dalam pengalaman empiris dan sekaligus melahirkan etika dalam kehidupan manusia, bagi KH. Ahmad Dahlan itu merupakan sebagai manifestasi dari iman. Hal tersebut, didasarkan pada iman yang sejati melahirkan amal soleh seperti dalam surat al Asr dan al Maun. (Ahmad Jainuri, Ideologi Kaum Reformis).

d. Realitas Muhammadiyah

Pemikiran dan amal usaha KH. Ahmad Dahlan kemudian berkembang sebagai prototype dan model atau pola umum pegembagan ide-ide gagasan dan amal usaha Muhammadiyah. Untuk sementara, upaya demikian tampak cukup berhasil dengan berkembang berbagai cabang amal usaha dengan cukup besar dan mengesankan, bahkan merupakan tersebesar amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah dalam tanah air. Namun, kegiatan yang berorientasikan gerakan Muhammadiyah dengan cara diatas mulai kegiatan kedodoran dan mulai kehilangan vitalitas inovatifnya. Disinilah gerak langkah Muhammadiyah kurang membangkitkan mobilitas ummat dan masyarakat sebagaimana telah terjadi awal, bahkan kecendrungan mengalami titik jenuh. Hal ini karena yang dihadapi system masyarakat yang telah berubah, sedangkan model fakir Muhammadiyah tak kunjung berubah. Muhammadiyah merupakan organisasi sebagai alternative berbagai persolan yang telah dihadapi umat Islam pada akhir abad 19 dan awal abad 20.

Memincam istilah Ahmad Syafi’i Maa’rif, produks pemikiran Islam yang telah dihasilkan oleh Muhammadiyah Selama lebih tujuh decade tampaknya masih terbats dan sederhana. Pemikiran Muhammadiyah masih baru dan berlaku bagi kelas menengah kebawah, sedangkan umtuk kaum intelektual dan pemikir, Muhammadiyah belum banyak menjangkau. Oleh karena itu pendektan hisoris dan sosiologis dalam Islam merupakan suatu keniscayaan, disamping menggunakan pedekatan lain seperti teologi, hukum, filsafat, dan sufistik. Muhammadiyah sebagai oraganisasi gerakan Islam, dakwah dan tajdid, mengandaikan suatu mata rantai hubungan histories dan dialogis anatar dimensi normative (wahyu) dengan dimensi objektif. Mata rantai inilah yang mendorong dinamika sejarah yang terus berkembang dan terus berubah. Hingga kini dalam Muhammadiyah sejarah dianggap penting walaupun dalam sejarah yang berkembang sejarah yang bersifat ideologis. Muhammadiyah sebgai gerakan pembaharu kurga memiliki peran yang signifikan dalam konstelasi masyarakat industrial dan intelektual global. Perfektif kerja-kerja praktis dalam Muhammadiyah tak pernah mandeg. Tetapi jika mau ditengok dari sisi wawasan al Qur’an tentang peran umat Islam dan kualitas intelektual, maka posisi Muhammadiyah telah mengalami stagnasi dalam melahirkan pemikiran-pemikiran yang segar tentang Islam sebagai ciri utama Muhammadiyah dalam gerakan tajdid. Muhammadiyah telah terjebak pada rutinitas dan aktivisme gerakan organisasi dan amal usaha; pendidikan, pelayanan social. (Bahrus Surur Iyunk, Teologi Amal Soleh). Muhammadiyah telah berkembang denngan pesat dan maju tetapi dalam perkembangnya Muhammadiyah mengalami disorientasi yang telah kehilangan makna substansinya dalam Muhammadiyah. Realitas sekarang yang terjadi di Muhammadiyah meliputi elitisme yang telah menjadikan Muhammadiyah sebagai privilege golongan kelas menengah atas, padahal dalam awal berdirinya Muhammadiyah dalam gerakan amal usaha untuk kepentingan kelas social kebawah. Pergeserah dari gerakan pembaharu social budaya menjadi gerakan yang telah terjebak pada persolan fiqihah. (Abdul Munir Mulkhan dalam Kata Pengantar Menggugat Muhammadiyah)

Pergolakan pemikiran dalam Muhammadiyah masih terjadi, sampai-sampai dalam Muhammadiyah secara pemikiran dapat dipetakan menjadi dua macam; pemikiran liberal dan pemikiran literal. Pemikiran literal diwakili oleh golongan tua dalam Muhammadiyah, sedangkan untuk pemikiran liberal diwakili oleh golongan muda. Golongan tua dalam memandang Muhammadiyah tidak bersikap kritis dalam pelaksanaannya menggunakan logika purifikasi dan pemberantasan TBC dan mereka menganggap bahwa Muhammadiyah merupakan pembaharuan Islam yang puritan. Sedangkan dalam pengamalan dalam Muammadiyah dalam memahami al Qur’an secara tekstual tanpa melakukan kontektualisasi dan lebih cenderung menilai Muhammadiyah dan melaksanakan Muhammadiyah melaksanakan rutinitas organisasi. Kaum literal dalam Muhammadiyah berlatar belakang dari kaum cendekiawan yang menginterpretasi Islam sesuai apa yang tertera di al Qur’an dan Hadits apa adanya. Lain halnya, dengan kaum muda dalam memahami Islam menggunakan pendekatan hermeneitik dan ingin mengembalikan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid agar dapat memberikan penyelesaian terhadap permasalahan keagamaan kontemporer. Kaum muda dalam Muhammadiayah yang memiliki pemikira liberal terwadahi dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Kemunculan organisasi tersebut sebagai bentuk respon terhadap Muhammadiyah yang mulai kehilangan gerakan tajdidnya dan jatuh pada ritinisasi organisasi dan ingin memberikan pemahaman bahwa nilai-nilai Islam yang difahami Muhammadiyah dapat diterima seluruh umat manusia.

Menurut M. Amin Abdulah setidaknya ada empat karakteristik dalam pembaruan Islam dalam perfetif Muhammadiyah dalam rangka menhadapai realitas yang semakin kompleks dan menjadi bahan pertimbangan bagi kaum muda. Pertama, pemikiran keagamaan Muhammadiyah yang selalu menyarankan kembali kepada al Qur’an dan Hadits dengan dimensi ijtihad dan tajdid social kegamaan. Kedua dimesi tersebut dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan, ciri khasnya pemikiran tersebut bersifat dialektis-hermeneitik (hubungan timbal balik dan bolak-balik), bukan hubungan dikotomis-eksklusif antara sisi normativitas al Qur’an dan historisitas pemahaman manusia atas norma-norma al Qur’an pada wilayah kesejarahan tertentu (simbolisasi perlunya tajdid dan ijtihad). Kedua, pengaktualisasian cita-cita perjuangan, metodologi pembaharuan pemikiran Islam dengan menggunakan system organisasi bukan system prbadi. System organisasi merupakan usaha bastraksi dan transendensi dalam cara berfikir social keagamaan Muhammadiyah. Kerja organisasi merupakan cerminan dari keselamatan pribadi yang dibawa kepada keselamatan kelompok social yang lebih luas. Perjuangan dengan sebuah organisasi memberikan pengaruh yang cukup radikal pada waktu itu, dan kerja organisasi merupakan kerja kolektif karena tidak ada kepentingan penonjolan dalam kepentingan individu.

Ketiga model pembaharuan keagamaan perfektif Muhmmadiyah merupakan symbol “anti kemapanan”. Hal tersebut, dikarenakan lewat pintu ijtihad dan tajdid, sebenarnya Muhammadiyah secara embrional telah memberikan bekal untuk memasuki arena pemiiran keagamaan sekarang. Dari semula, Muhmmadiyah bukan saja meniru literature klasik semata, lalu mengembalikan kepada nilai-nilai al Qqur;an dan Hadits dan dibawa pada konteks sekarang dengan semangat zaman yang telah berubah. Keempat, Muhammadiyah responsive dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dengan cara berfikir Muhammadiyah yang mengembalikan kepada al Qur’an dan Hadits disertai dengan semangat ijtihada dan tajdid. Dalam rangka menghadapi realitas sekang yang komplek maka yang dilakukan oleh Muhmmadiyah sebagai gerakan tajdid memerlukan penajaman terhadap purifikasi menjadi purifikasi dan dinamisasi. Sebagaimana pemahan keagamaan Islam klasik tidak menggunakan pendekatan keilmuan sekarang yang modern dan ilmiah. Pendekatan yang digunakan dalam memahami Islam sekarang menggunakan pendekatan ilmu social dan pendekatan sejarah, sebagaimana al Qur’an telah menggaris bawai realist social dan kesejarahan. (M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural).

e. Relevansi Pemikiran Ahmad Dahlan

Seperti hanya corak pemikiran manusia yang lain pemikiran keagamaan pada umumnya dan pemikiran ke-Islaman pada khususnya sebenarnnya tidklah bersifat final. Pemikiran keagamaan bersifat open ended, terbuka, terus-menerus dan dapat diperdebatkan, dipertanyakan, dikoreksi dan dibangun kembali. Para ahli keIslaman kontemporer mengatakan bahwa pemikiran keagamaan tidak boleh dan tidak perlu diskralkan. Begitu, bila disakralkan menjadi tertutup dan berfungsi sebagai ideology bukan lagi kajian keilmuan yang bersifat terbuka. Apabila tertutup maka susah untuk berkomunikasi dan berdialog dengan pemikiran yang lain tetapi truth claim.

Pemikiran keagamaan terbagi menjadi dua macam dalam dataran low tradition dan high tradition. Low tradition pemikiran keagamaan dalam dataran histories yang konkreat, sangat terkait dan langsung bersentuhan dengan berbagai jenis pemikiran. Sebutlah pemikirn politik, ekonomi, social budaya, dan pemikiran yang lain. Sedangkan pemikiran high tradition yakni pada dataran “konsep” dan “teori” yang bersifat kognitif, skematis dan barang kali agak berbeda dengan corak pemikiran yang lain, semata-mata karena kategori “sakralitas” yang dikaitkan dengan keberadaan kitab suci. Jika memahami Islam dalam dataran low ataupun high tradition merupakan hasil semata-mata hasil pemikiran manusia, yang tidak dapat lepad dari bahasa, dan sejarah. Bahasa terkait dengan konvesi, konteks social, adapt istiadat da akar budaya setempat yang secara kesinambungan berjalan berabad-abad. Sedangkan sejarah terkait dengan persolan kapan, dimana dan siapa (kapan terjadi, abad berapa, dimana, terjadi, dalam situasi politik, dan social seperti apa, standar ekonomi bagaimana, tingkah kemajuan ilmu dan teknologi sejauh maana, dan yang lain). (M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural). Corak pemikiran keagamaan merupkan model pendekatan yang cukup signifikan untuk sekarang dalam mengkoneksikan Islam dalam realitas social. Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam teori sekarang bercorak hermeneutic dimana selalu mendilaektikakan antara normativitas wahyu dengan realitas pada waktu itu. Hasil pendekatan yang digunakan oleh KH. Ahmad Dahlan lang sung dipraktekan sehingga menjdikan nilai-nilai Islam sebagai rahmat dan memberikan manfaat bagi sesesama manusia.

Perihal Muhammad Abdul Halim Sani
Muhammad Abdul Halim Sani. Saya alumnus Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005. Aktivitas menjadi tenaga edukasi SMP Muhammadiyah 1 Kota Depok Jawa Barat dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Indonesia dengan Program Kesejahteraan Sosial "2009". Selain di sekolah Muh, saya juga sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang dibesarkan dalam kultur ke-Jogja-an, serta aktif di DPP IMM 2008-2010 dan melanjutkan studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia 2009. Kultur ke-Jogja-an ini yang menjadikan saya sebagai kader Ikatan sampai saat sekarang, dan bahkan dalam kontrak sosial dalam ke-Instruktur-an menjadikan saya sebagai instruktur untuk selamanya selama masih dalam Ikatan. Motto: "Manusia berproses menuju kesempurnaan maka jadilah yang terbaik dalam rangka Ibadah pada Ilahiah". Saya, seorang yang senang berdiskusi dan sekarang lagi mengkaji pemikiran Kuntowijoyo dengan grand tema profetik. Oleh karena itu saya mohon masukan dari teman-teman yang agar dapat menambah pengetahuan saya yang berkaitan dengan paradigma profetik, Mimpi-mimpi mari kita lakukan dengan mejawab problem peradaban modern yang telah menimbulkan dehumanisasi, dan ekploitasi yang sangat berlebih terhadap alam. Oleh karena, itu tugas kita berupaya menginterasikan agama dengan ilmu pengetahun lewat Pengilmuan Islam bukannya Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Email; sani_cilacap@yahoo.com. Terimakasih atas masukannya.

7 Responses to Relitas Muhammadiyah; Bercermin Pada Pendiri Muhammadiyah

  1. aisy mengatakan:

    tolong lebih diperjelas lagi tentang pembahasan tahayul,bid’ah,dan khurafat menurut ahmad dahlan.

  2. ahmad mengatakan:

    punya buku ini ga : “Ideologi Gerakan Muhammadiyah oleh Haedar nasir” ?

  3. ilfat mengatakan:

    bagaimana pandangan muhammadiyah terhadap madzhab

  4. haryati mengatakan:

    kenapa pemikiran muhammadyah tidak pernah sama dengan pemikiran NU

  5. haryati mengatakan:

    menurut muhammadyah sesajen itu diharamkan, tp menurut NU itu sah-sah saja karna itu adat mereka.apa pendapat muhammadyah tentang pembuatan sesajen.

  6. erick azof mengatakan:

    salam hangat bang sani..kalau boleh saya unduh artikel ini dalam blog saya, tentunya sumbernya saya tulis / saya kasih link.

  7. Ping-balik: Relitas Muhammadiyah; Bercermin Pada Pendiri Muhammadiyah « Acak Adul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: